Kamis, 18 Agustus 2011

Story By Anthony De Mello SJ

SOKRATES DI PASAR
 
Sokrates, seorang filsuf  sejati,  yakin  bahwa  orang  yang 
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri 
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus  tertarik  oleh 
keramaian  pasar  dan  sering  pergi  ke  sana untuk melihat 
segala macam barang yang dipertontonkan.
 
Ketika salah seorang  kawannya  bertanya  mengapa  demikian, 
Sokrates   berkata,   "Saya   senang  pergi  ke  sana  untuk 
mengetahui  berapa  banyak  barang   yang   meskipun   tidak 
memilikinya, saya tetap gembira."
 
Hidup   batin   adalah  tidak  mengetahui  apa  yang  engkau 
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
 
                     
 
 
 
MENCONTOH RAJA
 
Ketika  "Messiah"  karangan  Handel  untuk  pertama  kalinya 
dipertunjukkan di London, raja hadir. Ia begitu terbuai oleh 
perasaan religius ketika  paduan  suara  menyanyikan  bagian 
Alleluia, sehingga di luar kebiasaan ia berdiri hening penuh 
hormat terhadap karya besar yang sedang ia nikmati.
 
Ketika melihat  ini,  para  bangsawan  yang  hadir  di  sana 
mengikuti raja dan berdiri juga. Itu menjadi tanda bagi para 
hadirin yang lain untuk berdiri.
 
Sejak saat  itu,  dianggap  suatu  keharusan  untuk  berdiri 
setiap  kali  Alleluia  dinyanyikan,  tanpa  peduli  seperti 
apakah  sikap  batin  orang  yang  mendengarkan  atau   mutu 
pembawaannya.
 
                      
ASAL-USUL SEPATU
 
Seorang maharaja yang bodoh mengeluh karena jalan yang kasar 
membuat kakinya sakit. Maka ia  memerintahkan  agar  seluruh 
negeri diberi alas kulit sapi.
 
Pegawai istana tertawa ketika raja menyampaikan perintah itu 
kepadanya. "Yang Mulia, itu adalah suatu gagasan yang gila," 
serunya.  "Mengapa harus mengeluarkan biaya yang sama sekali 
tidak perlu? Potong saja dua alas  kecil  kulit  sapi  untuk 
melindungi kaki Yang Mulia!"
 
Itulah  yang dikerjakan oleh maharaja. Dan demikianlah lahir 
gagasan mengenai sepatu.
 
Orang yang sudah mengalami penerangan batin tahu bahwa untuk 
membuat  dunia  tempat  yang  bahagia. engkau perlu mengubah 
hatimu - dan bukan dunia.
 
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
 Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar