Dhammapada 259
Kisah Arahat Ekudana
Bhikkhu dalam cerita ini hidup di sebuah hutan kecil di dekat Savatthi. Ia dikenal dengan nama Ekudana, sebab ia hanya hafal satu bait saja dari Kitab Udana. Tetapi Thera tersebut mengerti sepenuhnya makna Dhamma yang terkandung dalam bait tersebut. Pada setiap hari uposatha, dia mendesak orang lain untuk mendengarkan Dhamma, dan dia sendiri akan mengucapkan satu-satunya syair yang dihafalnya itu. Setiap kali ia selesai mengucapkan bait itu, para dewa dalam hutan itu memujinya dan menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah.
Pada suatu hari uposatha, dua thera yang terpelajar, yang benar-benar menguasai semua pelajaran Dhamma, diiringi oleh lima ratus bhikkhu datang ke tempat itu. Ekudana meminta kedua thera tersebut untuk memberikan khotbah Dhamma. Mereka bertanya apakah banyak yang ingin mendengarkan Dhamma di tempat yang terpencil itu. Ekudana membenarkan dan juga menceritakan kepada mereka bahwa bahkan para dewa dalam hutan itu biasanya datang, dan mereka selalu memuji dan bertepuk tangan pada akhir khotbah.
Maka, kedua thera terpelajar itu bergiliran memberikan khotbah Dhamma, tetapi ketika khotbah mereka berakhir, tidak ada tepuk tangan dari para dewa dalam hutan itu. Kedua thera tersebut menjadi bingung dan bahkan meragukan kata-kata Ekudana. Tetapi Ekudana bersikeras bahwa para dewa biasanya datang dan selalu bertepuk tangan pada akhir setiap khotbah.
Kedua thera itu kemudian mendesak Ekudana untuk berkhotbah. Ekudana memegang kipas dihadapannya dan mengucapkan bait yang biasa diucapkannya. Setelah selesai mengucapkan bait itu, para dewa bertepuk tangan seperti biasa. Para bhikku yang mengiringi kedua thera terpelajar itu menuduh bahwa para dewa yang berdiam dalam hutan itu sangat berat sebelah.
Mereka melaporkan masalah itu kepada Sang Buddha pada kunjungannya di Vihara Jetavana. Kepada mereka, Sang Buddha berkata "Para bhikkhu! Aku tidak mengatakan bahwa seorang bhikkhu yang telah belajar banyak dan berbicara banyak tentang Dhamma adalah seseorang yang mengetahui Dhamma (Dhammadhara). Seseorang yang belajar sangat sedikit dan hanya mengetahui satu bait dari Dhamma, tetapi memahami sepenuhnya Empat Kesunyataan Mulia dan selalu sadar, adalah orang yang sesungguhnya mengetahui Dhamma.”
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
Seseorang bukan `pendukung Dhamma` hanya karena ia banyak bicara.
Namun seseorang yang walaupun hanya belajar sedikit
tetapi batinnya melihat Dhamma dan tidak melalaikannya,
maka sesungguhnya ia adalah seorang `pendukung Dhamma`
_______________________________________
"Sabbadanam Dhammadanam Jinati"
Dari segala pemberian, pemberian melalui Dhamma adalah yang tertinggi menggungguli semua pemberian lainnya.
Yang ingin berbagi Dhamma silahkan dishare, semoga semua makhluk berbahagia.
Dapatkan Dhamma Harian, Info Acara, Donasi di melalui Whatsapp di :
087883434039 Awi
081808771968 Ayang
Minggu, 17 April 2016
kisah 6 bikkhu
Dhammapada 258
Kisah Enam Bhikkhu
Suatu ketika, terdapat kelompok enam bhikkhu yang selalu membuat keributan di tempat makan, baik di vihara maupun di desa. Suatu hari, ketika beberapa samanera sedang makan dana makanan setelah berpindapatta, kelompok enam bhikkhu itu datang dan membual kepada para samanera, "Lihat! Hanya kamilah orang yang bijaksana." Kemudian mereka melempar-lemparkan benda-benda ke sekeliling, meninggalkan tempat makan dalam keadaan kacau.
Ketika Sang Buddha mendengar hal ini, Beliau berkata, " Para bhikkhu! Aku tidak menyebut orang yang banyak bicara, mencaci dan menggertak orang lain sebagai seorang bijaksana. Hanya mereka yang bebas dari kebencian dan tidak merugikan orang lainlah yang merupakan orang bijaksana."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
Seseorang tidak dapat dikatakan bijaksana
hanya karena ia banyak bicara.
tetapi orang yang damai, tanpa rasa benci dan rasa takut
dapat disebut orang bijaksana.
_______________________________________
"Sabbadanam Dhammadanam Jinati"
Dari segala pemberian, pemberian melalui Dhamma adalah yang tertinggi menggungguli semua pemberian lainnya.
Yang ingin berbagi Dhamma silahkan dishare, semoga semua makhluk berbahagia.
sumber: pesan wa teman sedharma
Kisah Enam Bhikkhu
Suatu ketika, terdapat kelompok enam bhikkhu yang selalu membuat keributan di tempat makan, baik di vihara maupun di desa. Suatu hari, ketika beberapa samanera sedang makan dana makanan setelah berpindapatta, kelompok enam bhikkhu itu datang dan membual kepada para samanera, "Lihat! Hanya kamilah orang yang bijaksana." Kemudian mereka melempar-lemparkan benda-benda ke sekeliling, meninggalkan tempat makan dalam keadaan kacau.
Ketika Sang Buddha mendengar hal ini, Beliau berkata, " Para bhikkhu! Aku tidak menyebut orang yang banyak bicara, mencaci dan menggertak orang lain sebagai seorang bijaksana. Hanya mereka yang bebas dari kebencian dan tidak merugikan orang lainlah yang merupakan orang bijaksana."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
Seseorang tidak dapat dikatakan bijaksana
hanya karena ia banyak bicara.
tetapi orang yang damai, tanpa rasa benci dan rasa takut
dapat disebut orang bijaksana.
_______________________________________
"Sabbadanam Dhammadanam Jinati"
Dari segala pemberian, pemberian melalui Dhamma adalah yang tertinggi menggungguli semua pemberian lainnya.
Yang ingin berbagi Dhamma silahkan dishare, semoga semua makhluk berbahagia.
sumber: pesan wa teman sedharma
Sabtu, 01 September 2012
Lao Tze
Ku Xian adalah tempat kelahiran Lao Tze. Disekitar tempat itu terdapat sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang dikelilingi sembilan buah sumur. Disamping bangunan atau paviliun, ada sebatang pohon plum. Ditengah - tengahnya bangunan terdapat sebuah prasasti batu yang mencatat riwayat hidup Lao Tze :
Pada tahun ke lima Dinasti Yin (Sekitar tahun 1329), Di daerah ini ada seorang penduduk yang ahli meramal. Menjalani tapa seumur hidup, hidup menyendiri tidak ingin diketahui orang lain. Beliau memiliki seorang anak perempuan berusia sembilan belas tahun yang belum menikah, yang sifatnya pendiam dan tidak suka bercanda. Suatu hari kebetulan berjalan dibawah pohon plum dan melihat ada sebuah plum yang merah karena matang maka ia memetik dan memakannya dan menjadi hamil karenanya.
Karena dijaman tersebut wanita yang belum menikah tetapi sudah hamil akan menjadi bahan pembicaraan orang. Ketika menghitung lamanya dia mengandung baru diketahui ada seorang nabi yang lahir maka mereka melayani wanita itu dan bayinya dengan baik dan ibu dan anak juga selamat.
Bayi suci memilih tahun, bulan, dan hari baik untuk lahir, dapat tahun yang baik tetapi tidak mendapat bulan baik, mendapatkan bulan baik tidak ada hari yang cocok, ada hari baik tidak ada jam yang baik, maka terus menunggu hingga akhirnya telah berjalan 81 tahun ( bayi masih berada didalam rahim ibu).
Ketika itu ibunya telah berusia 100 tahun. Setelah mengandung sang ibu tidak pernah lagi merasa lapar atau dingin, selalu sehat. Tahun itu pada bulan 2 tanggal 15 dia berjalan - jalan dibawah pohon li, anaknya lahir melalui ketiak sebelah kiri.
Saat lahir rambutnya sudah putih semua, begitu menginjak tanah dia melangkah maju tujuh langkah, kemudian mundur tiga langkah kemudian berteriak 3 kali " Dilangit dan bumi akulah satu - satunya yang dimuliakan ".
Begitu ia selesai berteriak dari tengah angkasa terdengar musik yang sangat merdu. Para dewi menaburkan bunga sehingga di udara tercium wangi semerbak. Sembilan naga menyemburkan air untuk memandikannya.
Tanah yang terkena semburan air menjadi sembilan sumur.
Thai Sang Lao Jiin yang juga dikenal nama Lao Tze terkenal karena kecerdasannya. Budi pekertinya mengimbangi langit, menggunakan nama Li (Pohon Li) sebagai marganya. Karena rambutnya sejak lahir sudah putih maka orang - orang menyebutnya sebagai Lao Tze ( Anak Tua ).
Mengenai asal usul serta kesaktiannya sudah dicatat dalam sejarah.
Sumber : Kisah Tujuh Pembina Sejati
Pada tahun ke lima Dinasti Yin (Sekitar tahun 1329), Di daerah ini ada seorang penduduk yang ahli meramal. Menjalani tapa seumur hidup, hidup menyendiri tidak ingin diketahui orang lain. Beliau memiliki seorang anak perempuan berusia sembilan belas tahun yang belum menikah, yang sifatnya pendiam dan tidak suka bercanda. Suatu hari kebetulan berjalan dibawah pohon plum dan melihat ada sebuah plum yang merah karena matang maka ia memetik dan memakannya dan menjadi hamil karenanya.
Karena dijaman tersebut wanita yang belum menikah tetapi sudah hamil akan menjadi bahan pembicaraan orang. Ketika menghitung lamanya dia mengandung baru diketahui ada seorang nabi yang lahir maka mereka melayani wanita itu dan bayinya dengan baik dan ibu dan anak juga selamat.
Bayi suci memilih tahun, bulan, dan hari baik untuk lahir, dapat tahun yang baik tetapi tidak mendapat bulan baik, mendapatkan bulan baik tidak ada hari yang cocok, ada hari baik tidak ada jam yang baik, maka terus menunggu hingga akhirnya telah berjalan 81 tahun ( bayi masih berada didalam rahim ibu).
Ketika itu ibunya telah berusia 100 tahun. Setelah mengandung sang ibu tidak pernah lagi merasa lapar atau dingin, selalu sehat. Tahun itu pada bulan 2 tanggal 15 dia berjalan - jalan dibawah pohon li, anaknya lahir melalui ketiak sebelah kiri.
Saat lahir rambutnya sudah putih semua, begitu menginjak tanah dia melangkah maju tujuh langkah, kemudian mundur tiga langkah kemudian berteriak 3 kali " Dilangit dan bumi akulah satu - satunya yang dimuliakan ".
Begitu ia selesai berteriak dari tengah angkasa terdengar musik yang sangat merdu. Para dewi menaburkan bunga sehingga di udara tercium wangi semerbak. Sembilan naga menyemburkan air untuk memandikannya.
Tanah yang terkena semburan air menjadi sembilan sumur.
Thai Sang Lao Jiin yang juga dikenal nama Lao Tze terkenal karena kecerdasannya. Budi pekertinya mengimbangi langit, menggunakan nama Li (Pohon Li) sebagai marganya. Karena rambutnya sejak lahir sudah putih maka orang - orang menyebutnya sebagai Lao Tze ( Anak Tua ).
Mengenai asal usul serta kesaktiannya sudah dicatat dalam sejarah.
Sumber : Kisah Tujuh Pembina Sejati
Minggu, 26 Agustus 2012
JELASKAN SEGALANYA DENGAN ITIKAD (PERBUATAN YANG JUJUR) BAIK
Dahulu ada seorang Raja, tangan dan kakinya buntung sebelah, tapi dia sangat mengasihi rakyatnya, dia ingin sekali keagungan wajah dirinya itu dilukis, yang mana lukisan itu nanti bisa diwariskan dan dipuji keturunan dan rakyatnya. Kemudian diundanglah pelukis terbaik di seluruh negerinya, dan pelukis itu memang benar-benar hebat, lukisannya sungguh mirip, bagaikan lukisan hidup yang berjiwa. Tapi setelah dilihat, Raja malah sedih, sambil berkata, " Lukisan diriku yang cacat begitu, mana bisa diwariskan!" Dan pelukis pun dipenggal. Lalu diundangkan pelukis kedua, karena tahu kejadian yang menimpa pelukis pertama, maka dia tidak berani melukis sesuai aslinya, sehingga bagian tangan yang buntung dilukis ada tangannya, kaki yang buntung pun juga dilukis ada kakinya. Setelah Raja melihat lukisan tersebut," malah semakin sedih, " Ini bukan diriku, kamu menyindir saya,ya!" Pelukis keduapun dipenggal juga.
Kenudian diundanglah pelukis ketiga, bagaimana caranya pelukis ketiga ini melukis? Kalau melukis apa adanya, dipenggal ; kalau melukis tak ada cacatnya, juga dipenggal. Jadi dia pun berpikir lama, tapi untunglah dalam keadaan genting nan bahaya itu, timbul kearifannya. Dia melukis dari sisi samping, sehingga hanya tangan dan kaki yang tidak cacat yang terlihat. sedangkan tangan dan kaki yang cacat tidak terlihat. **THE END**
Senin, 18 Juni 2012
Topik Hari Ini
Alkisah terdapat sebuah desa yang damai. Suatu hari penduduknya berniat mendengar Dharma. Lalu pengurus desa berkoordinasi mengundang penceramah. Setelah dirancang dengan baik, penduduk desa bergotong royong membangun mimbar untuk tempat penceramah menyampaikan ceramahnya.
Penceramah yang bijak ini melihat bahwa kerjasama diantara penduduk desa sangat baik. Dalam hati beliau menghitung - hitung, beliau mendapati warga desa ini rata - rata memiliki tabiat dan pembinaan yang baik. Maka sudah pantas dilintasi.
Hari pertama beliau naik panggung, lalu menyapa penduduk desa
Penceramah berkata " Selamat pagi warga desa yang baik, tahukah anda apa topik yang akan saya bawa hari ini ?".
Warga kemudian menjawab " Tidak tahu" ( Warga serempak menjawab, karna mereka memang tidak tahu)
Penceramah lalu membalas jawab " Baiklah, karna kalian juga tidak tahu apa yang akan saya ceramahkan hari ini, maka saya tidak perlu ceramah lagi."
Lalu penceramah pun turun dari mimbar dan meninggalkan lapangan. Warga menjadi kebingungan. terlebih koordinator acara,. Akhirnya beliau mengumpulkan warga desa untuk berunding. " Baiklah, kalian ingat ya, kalau besok penceramah bertanya apa kita tahu topiknya, kita serempak jawab tahu ya." Warga desa begitu kompak. Semuanya mengangguk tanda setuju.
Besok nya warga desa berbondong - bondong berkumpul lagi di lapangan. Penceramah kembali menaiki mimbar.
Penceramah yang bijak ini melihat bahwa kerjasama diantara penduduk desa sangat baik. Dalam hati beliau menghitung - hitung, beliau mendapati warga desa ini rata - rata memiliki tabiat dan pembinaan yang baik. Maka sudah pantas dilintasi.
Hari pertama beliau naik panggung, lalu menyapa penduduk desa
Penceramah berkata " Selamat pagi warga desa yang baik, tahukah anda apa topik yang akan saya bawa hari ini ?".
Warga kemudian menjawab " Tidak tahu" ( Warga serempak menjawab, karna mereka memang tidak tahu)
Penceramah lalu membalas jawab " Baiklah, karna kalian juga tidak tahu apa yang akan saya ceramahkan hari ini, maka saya tidak perlu ceramah lagi."
Lalu penceramah pun turun dari mimbar dan meninggalkan lapangan. Warga menjadi kebingungan. terlebih koordinator acara,. Akhirnya beliau mengumpulkan warga desa untuk berunding. " Baiklah, kalian ingat ya, kalau besok penceramah bertanya apa kita tahu topiknya, kita serempak jawab tahu ya." Warga desa begitu kompak. Semuanya mengangguk tanda setuju.
Besok nya warga desa berbondong - bondong berkumpul lagi di lapangan. Penceramah kembali menaiki mimbar.
Penceramah berkata, " Selamat pagi warga desa yang baik, tahukah anda apa topik yang akan saya bawa hari ini ?"
Warga serempak menjawab " Tahu!!!!!" ( Warga serempak menjawab tahu berpikir kali ini pasti berhasil mendengar ceramah... hmm)
Penceramah membalas jawab " Baiklah, karna kalian sudah tahu apa yang akan saya ceramahkan hari ini, maka saya tidak perlu ceramah lagi."
Lalu penceramah pun turun dari mimbar dan meninggalkan lapangan. Kali ini warga desa sekali lagi dibuat kebingungan. Jawab tahu salah, jawab tidak tahu juga salah,,, Akhirnya koordinator acara kembali mengemukakan ide, " Kali ini, bila penceramah bertanya, kalian yang duduk di sebelah kiri jawab tidak tahu ya, yang duduk sebelah kanan jawab tahuu... okeeee?????"
Demikianlah perencanaan telah disiapkan, Pagi hari penceramah kembali menaiki mimbar.
Penceramah menyapa penduduk " Selamat pagi warga desa yang baik, tahukah anda apa topik yang akan saya bawa hari ini ?"
Warga Kiri menjawab " Tidak tahuuuuuu....."
Warga Kanan menjawab " Tahuuuuu......"
Penceramah kemudian berkata " Baiklah, marilah yang sebelah kiri beritahu yang kanan."
Demikian sekali lagi penceramah turun mimbar. Warga menjadi resah dan senewen, koordinator acara menghampiri penceramah " Tuan, Kami telah susah payah berkumpul di lapangan ini selama 3 hari berturut - turut hanya dengan tulus ingin mendengarkan dharma suci. Mengapa anda memperlakukan kami seperti ini?"
Penceramah lalu naik lagi ke atas mimbar. " Topik yang tiga hari ini kita bahas sangatlah luar biasa. Sebenarnya kebenaran adalah sederhana, masing - masing dari kalian pada dasarnya telah memahaminya. Maka bagi yang telah memahami duluan, hendaklah kalian memberitahukan kepada yang belum mengerti. Kebenaran ada pada diri kalian masing - masing, mengapa harus mencari diluar?"
Merokok dapat merusak kesehatan, Mabuk dapat merusak kesadaran, Berjudi dapat merugikan keuangan anda, siapa yang tidak tahu itu? Namun nenek - nenek umur 80 tahun pun belum tentu melaksanakannya den
gan baik. Kebenaran sangatlah sederhana, gunakan nurani anda untuk memahaminya, niscaya dia akan timbul dengan sendirinya.
Minggu, 27 Mei 2012
Akibat Terlalu Semangat
Suatu kali dalam kisah hidupnya,, Budha Sakyamoni ingin melintasi satu desa nelayan yang penduduknya rata - rata bertabiat buruk dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Dengan kemampuannya beliau menghitung - hitung bahwa jodoh di desa ini sudah matang, maka harus segera dilintasi.
Sesampainya di desa tersebut Buddha Sakyamoni duduk bersila dibawah pohon, penduduk disana penasaran melihat seorang berkebajikan duduk di bawah pohon, sepertinya hendak membabarkan dharma. Lalu mereka pun berbondong - bondong duduk disana mendengarkan dharma sang Buddha.
Sang Buddha mulai membabarkan dharma, beliau menceritakan tentang lima pantangan dan lain sebagainya. Tapi kelihatannya seluruh penduduk desa ini tidak tertarik dengan dharma yang dibabarkan san Budha. Sang Buddha hanya duduk tenang berdiam.
Tak lama kemudian tiba - tiba dari jauh muncullah seorang pemuda berlari dengan kencangnya menerobos sungai, dari kampung seberang berlari ke arah sang Buddha. Sesampai disana langsung bersujud dengan khusyuknya.
Semua warga desa itu begitu terheran - heran, betapa saktinya anak muda ini. Bagaimana mungkin dia bisa melewati sungai begitu cepat dari desa seberang sampai kesini. Ilmu apa yang dipelajarinya? pastilah desa seberang punya guru sakti.
Ternyata setelah ditanya - tanya, pemuda tersebut dengan entengnya menjawab " Saya tidak punya kesaktian apa pun, sebenarnya tadi saya mendengar orang dipinggir sungai mengatakan bahwa ada Buddha hendak membabarkan dharma di desa seberang, lalu saya bertanya, bagaimana caranya saya sampai kesana? lalu dia mengatakan seberangi saja sungai ini, lari saja kesana. Maka saya pun mengikuti petunjuknya tanpa pikir panjang."
Ternyata pria tersebut begitu polos , saking bersemangatnya sampai - sampai dia lupa bahwa yang ia lalui adalah sebuah sungai. Tapi kekuatan pikirannya yang bersemangat ingin mendengar dharma justru membawa dia sampai kedepan Sang Buddha.
Mendengar kejadian ini,, penduduk desa menjadi terharu , orang dari seberang saja sampai begitu niat dan semangat mendengar dharma Budda. Akhrinya satu desa itu pun terlintasi dan meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan.
Sesampainya di desa tersebut Buddha Sakyamoni duduk bersila dibawah pohon, penduduk disana penasaran melihat seorang berkebajikan duduk di bawah pohon, sepertinya hendak membabarkan dharma. Lalu mereka pun berbondong - bondong duduk disana mendengarkan dharma sang Buddha.
Sang Buddha mulai membabarkan dharma, beliau menceritakan tentang lima pantangan dan lain sebagainya. Tapi kelihatannya seluruh penduduk desa ini tidak tertarik dengan dharma yang dibabarkan san Budha. Sang Buddha hanya duduk tenang berdiam.
Tak lama kemudian tiba - tiba dari jauh muncullah seorang pemuda berlari dengan kencangnya menerobos sungai, dari kampung seberang berlari ke arah sang Buddha. Sesampai disana langsung bersujud dengan khusyuknya.
Semua warga desa itu begitu terheran - heran, betapa saktinya anak muda ini. Bagaimana mungkin dia bisa melewati sungai begitu cepat dari desa seberang sampai kesini. Ilmu apa yang dipelajarinya? pastilah desa seberang punya guru sakti.
Ternyata setelah ditanya - tanya, pemuda tersebut dengan entengnya menjawab " Saya tidak punya kesaktian apa pun, sebenarnya tadi saya mendengar orang dipinggir sungai mengatakan bahwa ada Buddha hendak membabarkan dharma di desa seberang, lalu saya bertanya, bagaimana caranya saya sampai kesana? lalu dia mengatakan seberangi saja sungai ini, lari saja kesana. Maka saya pun mengikuti petunjuknya tanpa pikir panjang."
Ternyata pria tersebut begitu polos , saking bersemangatnya sampai - sampai dia lupa bahwa yang ia lalui adalah sebuah sungai. Tapi kekuatan pikirannya yang bersemangat ingin mendengar dharma justru membawa dia sampai kedepan Sang Buddha.
Mendengar kejadian ini,, penduduk desa menjadi terharu , orang dari seberang saja sampai begitu niat dan semangat mendengar dharma Budda. Akhrinya satu desa itu pun terlintasi dan meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan.
Sabtu, 19 Mei 2012
Menegakkan cita - cita dan moral
Jaman dahulu kala, bertemanlah dua orang biksu. Biksu pertama dahulu adalah orang kaya, biksu yang ke dua adalah orang miskin. Kedua biksu ini sama - sama berjanji untuk mengambil kitab suci di Nan Hai.
Biksu miskin : " Kapan kamu akan
mulai untuk mencari kitab suci?"
Biksu kaya : " Nanti, setelah saya selesai
melakukan persiapan.
Lalu kamu sendiri, kapan
akan memulai perjalanan?"
Biksu miskin : " Sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hah... kamu sudah mau berangkat??
memangnya sudah punya persiapan apa?"
Biksu miskin : " Dengan mangkuk tua dan jubah ini,
sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hahahaha..... Hanya dengan bermodalkan jubah
dan mangkuk kamu mau berangkat?
Baiklah... hati - hati dijalan ya.. "
Demikianlah mereka berpisah untuk menjalankan kehidupan masing - masing. Biksu miskin menuju Nan Hai untuk mencari kitab suci. Biksu kaya masih melakukan persiapan untuk ke Nan Hai.
Jelang dua tahun kemudian. biksu miskin kembali bertemu dengan biksu kaya. Biksu miskin telah kembali dari Nan Hai dalam perjalanannya mencari kitab suci. Sedangkan biksu kaya masih melakukan persiapannya.
Yen Huei adalah salah satu murid Kong Hu Cu yang paling miskin. Walaupun kehidupannya begitu miskin, namun tidak mengurangi cita - citanya yang luhur. Oleh karna itu beliau sangat terkenal. Suatu hari Ce Lu, murid Kong Hu Cu yang kaya, ingin menguji Yen Huei, pada tengah malam meletakkan sebongkah emas didepan pintu rumah Yen Huei lalu menempelkan secarik kertas diatasnya bertuliskan " Tuhan mengirimkan harta ini untuk orang yang baik."
Pagi hari ketika Yen Huei membuka pintu dan melihatnya kemudian membalas dengan menuliskan secarik kertas " Harta yang tidak jelas asal usulnya tidak akan merubah orang miskin menjadi kaya."
Beliau kemudian meletakkannya kembali ketempatnya. Ce Lu melihat ini akhirnya mengakui Kebajikan Yen Huei.
Manusia hidup di dunia, tidak perduli miskin ataupun kaya, bila dapat menegakkan cita - cita dan moral, melangkah kemanapun akan ada tempat untuk dia bersinggah. Orang yang berhasil adalah orang yang tetap mencoba bahkan ketika dia telah berkali - kali gagal.
Biksu miskin : " Kapan kamu akan
mulai untuk mencari kitab suci?"
Biksu kaya : " Nanti, setelah saya selesai
melakukan persiapan.
Lalu kamu sendiri, kapan
akan memulai perjalanan?"
Biksu miskin : " Sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hah... kamu sudah mau berangkat??
memangnya sudah punya persiapan apa?"
Biksu miskin : " Dengan mangkuk tua dan jubah ini,
sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hahahaha..... Hanya dengan bermodalkan jubah
dan mangkuk kamu mau berangkat?
Baiklah... hati - hati dijalan ya.. "
Demikianlah mereka berpisah untuk menjalankan kehidupan masing - masing. Biksu miskin menuju Nan Hai untuk mencari kitab suci. Biksu kaya masih melakukan persiapan untuk ke Nan Hai.
Jelang dua tahun kemudian. biksu miskin kembali bertemu dengan biksu kaya. Biksu miskin telah kembali dari Nan Hai dalam perjalanannya mencari kitab suci. Sedangkan biksu kaya masih melakukan persiapannya.
Pagi hari ketika Yen Huei membuka pintu dan melihatnya kemudian membalas dengan menuliskan secarik kertas " Harta yang tidak jelas asal usulnya tidak akan merubah orang miskin menjadi kaya."
Beliau kemudian meletakkannya kembali ketempatnya. Ce Lu melihat ini akhirnya mengakui Kebajikan Yen Huei.
Manusia hidup di dunia, tidak perduli miskin ataupun kaya, bila dapat menegakkan cita - cita dan moral, melangkah kemanapun akan ada tempat untuk dia bersinggah. Orang yang berhasil adalah orang yang tetap mencoba bahkan ketika dia telah berkali - kali gagal.
Langganan:
Postingan (Atom)











