Suatu ketika, hiduplah seorang janda yang sangat miskin. Ia hanya mempunyai seorang anak laki-laki. Pada suatu hari mereka tidak mempunyai roti lagi untuk dimakan.
Lalu ibu berkata pada anaknya, "Pergilah ke hutan nak, dan carilah kayu bakar."
Anak itu pergi ke hutan dan mencari kayu api. Kayu itu diikat dan dibawa pulang.
Sampai di rumah, ibunya berkata, "Bawalah kayu api itu ke kota dan juallah kayu itu. Dari uang hasil menjual kayu, belikan roti untuk makan kita."
Anak itu pergi ke kota menjual kayu itu dan hasilnya hanya dua keping uang logam. Dalam perjalanannya ke tokor roti, ia melihat beberapa anak-anak. Mereka baru menangkap seekor ular. Dan ular itu hendak mereka bunuh dengan memukulnya dengan batu-batu.
Ketika anak itu melihat ular itu, ia merasa kasihan pada binatang itu dan ia berteriak, "Jangan siksa ular itu."
Tetapi anak-anak itu hanya mentertawakannya. Kemudian ia tawarkan uang logam yang dua keping itu. Anak-anak itu menerima uangnya dan cepat-cepat pergi.
Sekarang anak itu harus pulang tanpa uang dan tanpa roti. Ia berjalan lambat-lambat. Di sebelahnya di rerumputan ia mendengar suara gemerisik. Tampaknya ular itu mengikutinya.
Sampai di rumah, ibunya menangis dan memarahinya, karena melihat ia tidak membawa apa-apa. Tetapi apa gunanya itu semua? Mereka pergi tidur dengan perasaan letih dan lapar sekali.
Tengah malam, anak itu mendengar desis sesuatu. Ia membuka matanya dan melihat ular di atas selimutnya.
Ular itu mengangkat kepalanya dan berkata, "Engkau telah menyelamatkan jiwaku. Aku sangat berterima kasih. Ayahku adalah Raja Ular. Ikutlah ke istananya. Ia akan membalas budimu. Minta saja cincin stempel, yang ia simpan baik-baik. Anak itu bangun dan ikut ular itu ke istana ayahya.
Raja Ular amat berterima kasih dan bertanya padanya, "Bagaimana aku dapat membalas kebaikanmu? Katakanlah, apa yang kau ingini."
Anak itu menjawab, "Berikanlah aku cincin stempel yang selama ini tuan simpan."
Raja Ular bersabda, "Engkau memilih sesuatu yang baik."
Dan ia mengambil cincin stempel itu dari tempat persembunyiannya.
Dan kemudian ia menasihati, "Ketahuilah, kalau kau memakai cincin ini dan memutar-mutarnya, akan datang seorang laki-laki hitam. Ia akan memenuhi segala permintaanmu."
Anak itu mengucapkan terima kasih pada Raja Ular, lalu ia pamit dan pulang ke rumahnya. Sebelum matahari terbit, ia telah kembali lagi di tempat tidurnya.
Pada waktu ayam berkokok, ibunya sudah bangun.
Dan ia mulai menangis lagi, "Aduh nak, apa yang harus kita makan sekarang? Tidak ada sepotong roti atau sedikit tepungpun di rumah!"
Anaknya hanya menjawab, "Pergi saja ke kamar makan, Ibu. Di sana Ibu akan mendapatkan segala apa yang diperlukan."
Walaupun ibunya tidak begitu percaya, ia pergi juga ke kamar makan. Sekarang anak itu memutar-mutar cincin pada jarinya dan datanglah seorang laki-laki yang serba hitam.
Ia membungkukkan badannya dan dengan hormat bertanya, "Apakah kehendak tuanku?"
Anak itu memerintahkan, "Penuhilah kamar makan kami dengan barang-barang bagus dan makanan yang enak."
Ketika ibunya membuka pintu kamar makan, keinginan anaknya telah terwujud. Di atas meja makan tersedia roti yang hangat, tempat susu penuh dengan susu, di dinding tergantung sepotong daging asap, di pojok kamar tersedia sekarung penuh tepung gandum, sekaleng minyak goreng dan di lemari telur, mentega dan madu cukup untuk satu minggu.
Mereka senang sekali. Demikianlah ular membalas budi anak itu.
Sabtu, 20 Agustus 2011
Peter Si Pendusta
Pernah ada seorang pemuda yang suka sekali berdusta. Tiap kali ia mulai bicara, ia berdusta. Ayahnya sangat marah dan sering menghukumnya, tetapi si pendusta itu tidak merubah sikapnya. Ia masih terus sering berdusta.
Pada suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ini uang, pergilah kau dari sini!"
Peter, si pemuda itu, dengan senang menerima uang itu dan pergi merantau.
Ketika ia melalui dusun di mana ia tinggal, anak-anak yang melihatnya mengejeknya, "Peter, pendusta."
Tetapi ia tidak menghiraukannya.
Dalam perantauan itu sampailah ia di sebuah kota besar dan indah. Di jalan ia berjumpa dengan seorang tuan dan ia menanyakan tempat penginapan. Tuan yang baik hati itu membawanya pulang ke rumahnya.
Di tengah jalan, mereka sampa pada satu menara gereja yang tinggi sekali. Peter si pendusta berhenti dan mengangkat kepalanya memandang menara yang tinggi itu.
Lalu tuan itu berkata, "Tentu kau heran. Mungkin kau belum pernah melihat menara setinggi ini!"
Tetapi Peter hanya mendengus dan menjawab, "Di dusun kami menara gereja jauh lebih tinggi. Ayam jago yang ada di puncaknya dapat sampai ke langit dan ia dapat memakan bintang-bintang di situ."
Mendengar kata-kata Peter, tuan itu langsung menjadi marah,Tidak mungkin ada menara gereja setinggi itu!" ujarnya.
"Apa yang aku bilang tadi itu betul." Peter berkata lagi.
"Pernah kakek saya harus mengecat ayam jago itu dengan cat emas. waktu ia bekerja di atas menara, tiba-tiba martilnya jatuh. Ketika martil itu sampai ke tanah, besinya telah berkarat dan gagang kayunya telah membusuk."
"Huh!" Tuan itu menjawab dan ia makin marah lalu pergi, meninggalkan Peter sendirian.
Hilanglah kesempatan untuk bermalam di tempat yang baik. Lain kalinya lagi Peter si pendusta, menginap di rumah seroang petani. Isteri petani itu baru memanggang kue yang amat besar.
Ia bertanya pada Peter, "Apakah ibumu juga suka memanggang kue sebesar ini?"
"Mengapa tidak," Peter segera menjawab.
"Kalau ibuku memanggang kue, tiga orang pembantu tidak dapat menggesernya, begitu besar kue itu!"
"Omong kosong," ujar isteri petani itu dan ia merasa kesal.
"Tidak mungkin ada kue sebesar itu."
"Sungguh benar perkataanku," Peter menyambung.
"Pernah terjadi, waktu dipanggang, pinggir kuenya hangus. Kami harus memotong bagian yang hangus itu dengan sabit. Dan potongan kue yang hangus itu cukup untuk makanan babi-babi selama 14 hari."
"Kalau begitu, kau tentu tidak suka kue saya yang begini kecil, makan saja roti keras ini dan kemudian pergilah cepat. Tidur saja di lumbung di atas rumput kering!" kata isteri petani itu.
Kemudian isteri petani itu memotong-motong kue yang besar, harum dan lezat, dan membagikannya pada semua orang di rumah. Hanya Peter si pendusta, terpaksa menggigit jari.
Lain hari lagi, Peter menjadi pembantu pada penggiling gandum. Pada suatu pagi, isteri penggiling gandum itu memerlukan kol dan ia menyuruh pembantunya memmetik sebuah kol di kebun sayur. Kol itu sangat besar.
Isteri penggiling gandum itu sangat senang melihatnya dan berkata, "Pernahkah kau melihat kol sebesar ini?"
"Mengapa tidak," Peter langsung menjawab.
"Ibukui mempunyai kebun sayuran yang lebih luas dari kebun di sini. Di kebun itu hanya tumbuh satu buah kol. Kol itu luar biasa besarnya. Daun-daunnya sampai tergantung pada pagar kebun!"
"Ah, omong kosong," teriak isteri penggiling gandum itu dan ia merasa tersinggung.
"Tidak mungkin ada kol sebesar itu."
"Sungguh benar perkataan saya," kata Peter, si pendusta.
"Luar biasa besarnya kol itu! Di bawah daun-daunnya banyak kelana-kelana berteduh. Bayangkan! Dua puluh keluarga berteduh di situ. Mereka tidak usah memasang kemah-kemah. Daun-daun kol itu cukup besar untuk melindungi mereka terhadap hujan."
"Kalau begitu, kau tentu tidak suka makan sop buatanku ini dengan kol yang begini kecil dan sosis dan makaroni di dalamnya," ujar isteri penggiling gandum itu.
Isteri penggiling gandum itu lalu membuka pintu rumahnya dan mengusir Peter pendusta itu. Kebetulan di luar hujan lebat. Tidak ada daun kol raksasa di mana Peter si pendusta dapat berlindung.
Dengan basah kuyup dan lapar ia berjalan keliling-keliling. Ia ingat sop kol yang sedap dan panas di dapur umah penggiling gandum. Dan ia merasa menyesal.
Pada suatu hari ayahnya berkata kepadanya, "Ini uang, pergilah kau dari sini!"
Peter, si pemuda itu, dengan senang menerima uang itu dan pergi merantau.
Ketika ia melalui dusun di mana ia tinggal, anak-anak yang melihatnya mengejeknya, "Peter, pendusta."
Tetapi ia tidak menghiraukannya.
Dalam perantauan itu sampailah ia di sebuah kota besar dan indah. Di jalan ia berjumpa dengan seorang tuan dan ia menanyakan tempat penginapan. Tuan yang baik hati itu membawanya pulang ke rumahnya.
Di tengah jalan, mereka sampa pada satu menara gereja yang tinggi sekali. Peter si pendusta berhenti dan mengangkat kepalanya memandang menara yang tinggi itu.
Lalu tuan itu berkata, "Tentu kau heran. Mungkin kau belum pernah melihat menara setinggi ini!"
Tetapi Peter hanya mendengus dan menjawab, "Di dusun kami menara gereja jauh lebih tinggi. Ayam jago yang ada di puncaknya dapat sampai ke langit dan ia dapat memakan bintang-bintang di situ."
Mendengar kata-kata Peter, tuan itu langsung menjadi marah,Tidak mungkin ada menara gereja setinggi itu!" ujarnya.
"Apa yang aku bilang tadi itu betul." Peter berkata lagi.
"Pernah kakek saya harus mengecat ayam jago itu dengan cat emas. waktu ia bekerja di atas menara, tiba-tiba martilnya jatuh. Ketika martil itu sampai ke tanah, besinya telah berkarat dan gagang kayunya telah membusuk."
"Huh!" Tuan itu menjawab dan ia makin marah lalu pergi, meninggalkan Peter sendirian.
Hilanglah kesempatan untuk bermalam di tempat yang baik. Lain kalinya lagi Peter si pendusta, menginap di rumah seroang petani. Isteri petani itu baru memanggang kue yang amat besar.
Ia bertanya pada Peter, "Apakah ibumu juga suka memanggang kue sebesar ini?"
"Mengapa tidak," Peter segera menjawab.
"Kalau ibuku memanggang kue, tiga orang pembantu tidak dapat menggesernya, begitu besar kue itu!"
"Omong kosong," ujar isteri petani itu dan ia merasa kesal.
"Tidak mungkin ada kue sebesar itu."
"Sungguh benar perkataanku," Peter menyambung.
"Pernah terjadi, waktu dipanggang, pinggir kuenya hangus. Kami harus memotong bagian yang hangus itu dengan sabit. Dan potongan kue yang hangus itu cukup untuk makanan babi-babi selama 14 hari."
"Kalau begitu, kau tentu tidak suka kue saya yang begini kecil, makan saja roti keras ini dan kemudian pergilah cepat. Tidur saja di lumbung di atas rumput kering!" kata isteri petani itu.
Kemudian isteri petani itu memotong-motong kue yang besar, harum dan lezat, dan membagikannya pada semua orang di rumah. Hanya Peter si pendusta, terpaksa menggigit jari.
Lain hari lagi, Peter menjadi pembantu pada penggiling gandum. Pada suatu pagi, isteri penggiling gandum itu memerlukan kol dan ia menyuruh pembantunya memmetik sebuah kol di kebun sayur. Kol itu sangat besar.
Isteri penggiling gandum itu sangat senang melihatnya dan berkata, "Pernahkah kau melihat kol sebesar ini?"
"Mengapa tidak," Peter langsung menjawab.
"Ibukui mempunyai kebun sayuran yang lebih luas dari kebun di sini. Di kebun itu hanya tumbuh satu buah kol. Kol itu luar biasa besarnya. Daun-daunnya sampai tergantung pada pagar kebun!"
"Ah, omong kosong," teriak isteri penggiling gandum itu dan ia merasa tersinggung.
"Tidak mungkin ada kol sebesar itu."
"Sungguh benar perkataan saya," kata Peter, si pendusta.
"Luar biasa besarnya kol itu! Di bawah daun-daunnya banyak kelana-kelana berteduh. Bayangkan! Dua puluh keluarga berteduh di situ. Mereka tidak usah memasang kemah-kemah. Daun-daun kol itu cukup besar untuk melindungi mereka terhadap hujan."
"Kalau begitu, kau tentu tidak suka makan sop buatanku ini dengan kol yang begini kecil dan sosis dan makaroni di dalamnya," ujar isteri penggiling gandum itu.
Isteri penggiling gandum itu lalu membuka pintu rumahnya dan mengusir Peter pendusta itu. Kebetulan di luar hujan lebat. Tidak ada daun kol raksasa di mana Peter si pendusta dapat berlindung.
Dengan basah kuyup dan lapar ia berjalan keliling-keliling. Ia ingat sop kol yang sedap dan panas di dapur umah penggiling gandum. Dan ia merasa menyesal.
Jumat, 19 Agustus 2011
Ikut Ke Alam Baka
Alkisah seorang saudagar kaya mempunyai empat orang istri. Suatu ketika tiba saatnya hendak menemui ajalnya. Saudagar hendak mengajak istri nya pergi mati bersamanya. Saudagar tentu memilih istri keempatnya, istri yang paling cantik dan paling ia sayangi. lalu ia bertanya pada istri ke 4 " istri ku, maukah kau ikut bersama ku?" mendengar penuturan suaminya istri ke 4 berpikir dirinya masih muda dan cantik, untuk apa ikut mati bersamanya. Bila suaminya mati, tentu dia masi bisa menikah dengan pria lain. Lalu berkata pada suaminya " Maafkan aku suamiku, aku tidak bisa ikut kau pergi."
Saudagar begitu bersedih, lalu melirik istri ke 3. Dipikir - pikir, yah... tak ada istri ke 4 masi ada yang ke 3. wajah juga masih lumayan cantiklah. Kemudian berkata pada istri ke 3 "Istri ku, maukah kau ikut aku dan menemani ku?" Istri ke 3 dengan santun berkata " Maafkan saya suami ku, saya mungkin tidak bisa menemanimu ke akhirat. Tapi jangan khawatir, saya akan selalu mendoakan mu dirumah. Pagi sore memasang dupa untuk mu. "
Mendengar itu Saudagar kembali bersedih, lalu diliriknya istri ke 2. " Istri ku, maukah kau ikut dengan ku ?" lalu istri ke 2 menjawab " Saya tidak bisa ikut kamu ke alam baka, tapi saya bisa mengantar mu sampai kuburan." Akhirnya pilihan terakhir jatuh pada istri pertama. Yah.. walaupun sudah penuh keriput dan sedikit peot, tapi lumayanlah daripada tidak ada. Lalu dengan agak segan menanyakan kesediaan istri pertama.
Tanpa disangka oleh Saudagar, ternyata istri pertama menjawab " Baiklah suami ku, saya mau ikut dengan mu. kemana pun kau pergi."
Tahukah anda siapa gerangan para istri Saudagar ini ?
Istri Ke Empat mewakili harta yang kita miliki didunia ini. Suatu hari ketika tiba kita menutup mata, mereka seketika akan meninggalkan kita dan menjadi milik yang lain.
Istri ke Tiga adalah saudara, orang tua dan sanak family kita. Ketika kita meninggal mereka hanya bisa menyembahyangi dan mengenang kita. Tetap tidak bisa menemani kita menemui Raja Neraka.
Istri ke Dua adalah badan kasar kita. Ketika kita meninggal nanti, badan kasar ini juga tidak kita bawa mati. Hanya sampai di kuburan saja sudah tidak melekat pada kita.
Istri Pertama adalah Roh sejati kita, Jasa pahala dan Dosa. Ketika seseorang meninggal, tidak ada satupun barang didunia yang akan dibawanya. Hanya amal dan dosa yang mengikuti roh suci kita ke alam baka.
Berapa besar pun rumah yang anda miliki, tetap hanya akan tidur di satu ranjang saja.
Berapa banyak pun beras yang anda hasilkan dari ladang anda tetap nasi yang anda makan tak lebih dari dua liter sehari
Berapa banyak pun istri cantik dan anak - anak lucu yang anda miliki, tentu tidak bisa anda bawa mati.
Sadarilah segala hal yang berbentuk didunia ini hanyalah palsu belaka.
Saudagar begitu bersedih, lalu melirik istri ke 3. Dipikir - pikir, yah... tak ada istri ke 4 masi ada yang ke 3. wajah juga masih lumayan cantiklah. Kemudian berkata pada istri ke 3 "Istri ku, maukah kau ikut aku dan menemani ku?" Istri ke 3 dengan santun berkata " Maafkan saya suami ku, saya mungkin tidak bisa menemanimu ke akhirat. Tapi jangan khawatir, saya akan selalu mendoakan mu dirumah. Pagi sore memasang dupa untuk mu. "
Mendengar itu Saudagar kembali bersedih, lalu diliriknya istri ke 2. " Istri ku, maukah kau ikut dengan ku ?" lalu istri ke 2 menjawab " Saya tidak bisa ikut kamu ke alam baka, tapi saya bisa mengantar mu sampai kuburan." Akhirnya pilihan terakhir jatuh pada istri pertama. Yah.. walaupun sudah penuh keriput dan sedikit peot, tapi lumayanlah daripada tidak ada. Lalu dengan agak segan menanyakan kesediaan istri pertama.
Tanpa disangka oleh Saudagar, ternyata istri pertama menjawab " Baiklah suami ku, saya mau ikut dengan mu. kemana pun kau pergi."
Tahukah anda siapa gerangan para istri Saudagar ini ?
Istri Ke Empat mewakili harta yang kita miliki didunia ini. Suatu hari ketika tiba kita menutup mata, mereka seketika akan meninggalkan kita dan menjadi milik yang lain.
Istri ke Tiga adalah saudara, orang tua dan sanak family kita. Ketika kita meninggal mereka hanya bisa menyembahyangi dan mengenang kita. Tetap tidak bisa menemani kita menemui Raja Neraka.
Istri ke Dua adalah badan kasar kita. Ketika kita meninggal nanti, badan kasar ini juga tidak kita bawa mati. Hanya sampai di kuburan saja sudah tidak melekat pada kita.
Istri Pertama adalah Roh sejati kita, Jasa pahala dan Dosa. Ketika seseorang meninggal, tidak ada satupun barang didunia yang akan dibawanya. Hanya amal dan dosa yang mengikuti roh suci kita ke alam baka.
Berapa besar pun rumah yang anda miliki, tetap hanya akan tidur di satu ranjang saja.
Berapa banyak pun beras yang anda hasilkan dari ladang anda tetap nasi yang anda makan tak lebih dari dua liter sehari
Berapa banyak pun istri cantik dan anak - anak lucu yang anda miliki, tentu tidak bisa anda bawa mati.
Sadarilah segala hal yang berbentuk didunia ini hanyalah palsu belaka.
Kamis, 18 Agustus 2011
Riwayat Hidup Kwan Kong
Guan Di atau secara umum disebut Guang Gong ( Kwan Kong – Hokkian ) yang berarti paduka Guan, adalah seorang panglima perang kenamaan yang dihidup pada zaman San Guo
( 221 – 269 Masehi ). Nama aslinya adalah Guan Yu alias Guan Yun Chan ( Kwan In Tiang – Hokkian ). Oleh kaisar Han ia diberi gelar Han Shou Ting Hou. Kwan Kong dipuja karena kejujuran dan kesetiaan. Dia adalah lambang atau tauladan kesatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya. Sebab itu Kwan Kong banyak dipuja dikalangan masyarakat, disamping kelenteng-kelenteng khusus. Gambarnya banyak dipasang dirumah pribadi, toko, bank, kantor polisi, pengadilan sampai ke markas organisasi mafia. Para anggota perkumpulan rahasia itu biasanya melakukan sumpah sejati dihadapan Kwan Kong.
Disamping dipuja sebagai lambang kesetiaan dan kejujuran, Kwan Kong dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan Dewa Perang sebagai umumnya dikenal dan dialamatkan kepada Kwan Kong, harus diartikan sebagai Dewa untuk menghindarkan peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Kwan Kong yang budiman. Kwan Kong adalah penduduk asli kabupaten Hedong (sekarang Jiezhou) di propinsi Shanxi.
Bentuk tubuhnya tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah. Tentang wajahnya yang berwarna merah ini adalah cerita tersendiri yang tidak terdapat dalam novel San Guo ( kisah tiga negeri). Suatu hari dalam pengembaraannya, Kwan Kong berjumpa dengan seorang tua yang sedang menangis sedih. Ternyata anak perempuan satu-satunya dengan siapa hidupnya bergantung, dirampas oleh wedana setempat untuk dijadikan gundik, Kwan Kong, yang berwatak budiman dan tidak suka sewenang-wenang semacam ini, naik darah. Dibunuhnya wedana yang jahat itu dan sang gadis dikembalikan kepada orang tuanya. Tetapi dengan perbuatan ini Kwan Kong sekarang menjadi buronan. Dalam pelariannya itu Ia sampai dicela DongGuan di propinsi Shanxi. Ia lalu membasuh mukanya di sebuah sendang kecil yang terdapat di pergunungan itu. Seketika rupanya berubah menjadi merah, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Dengan mudah Ia menyelip diantara para petugas yang diperintahkan untuk menangkapnya tanpa diketahui.
Riwayat Kwan Kong selanjutnya dan sampai akhir hayatnya ditulis dengan sangat indah dalam novel San Guo yang terkenal itu. Dalam babak pertama dalam novel tersebut diceritakan bagaimana Kwan Kong dalam pengembaraannya berjumpa dengan Liu Bei dan Zhan Fei di sebuah kedai arak. Dalam pembicaraan mereka ternyata cocok dan sehati, sehingga memutuskan untuk mengangkat saudara. Upacara pengangkatan saudara ini, dilaksanakan dirumah Zhan Fei dalam sebuah kebun buah Tao atau persik, Liu Bei menjadi saudara tertua, Kwan Kong yang kedua dan Zhan Fei bungsu.
Bersama-sama mereka bersumpah sehidup semati dan berjuang untuk membela negara. Peristiwa ini terkenal dengan nama “ Tao-Yuan-Jie-Yi ” ( Tho Wan Kiat Gie – Hokkian ) atau “ Sumpah Persaudaraan Di kebun Persik ”, sangat dikagumi oleh orang dari zaman ke zaman dan dianggap sebagai lambang persaudaraan sejati. Lukisan tiga bersaudara ini sedang melaksanakan upacara sumpah ini banyak menjadi objek lukisan, pahatan, patung keramik yang sangat disukai orang hingga dewasa ini.
Selanjutnya diceritakan ketiga saudara angkat ini membentuk pasukan sukarela untuk memerangi kaum pemberontak Destar Kuning yang pada waktu itu sangat mengguncangkan sendi-sendi kerajaan Han yang telah rapuh. Dalam pertempuran itu mereka memperlihatkan kegagahan sebagai prajurit dan pimpinan militer yang cakap. Kegagahan Kwan Kong menjadi perhatian orang pertama kali pada saat terjadi pertempuran di benteng Hu Luo Guan.
Waktu itu Liu Bei bersama kedua adiknya bergabung dengan ke-18 Raja Muda yang membentuk pasukan gabungan untuk menumpas Dong Zhuo yang lalim. Dong Zhuo mengangkat diri menjadi perdana menteri dan dengan seenaknya sendiri makzulkan Kaisar, dan menggantikannya dengan Kaisar kecil yang menjadi bonekanya. Di Hu Luo Guan terjadi pertempuran besar antara pasukan gabungan para raja muda melawan bala tentara Dong Zhuo yang dipimpin oleh seorang panglima yang gagah perkasa, Hua Xiong ( Hoa Hiong – Hokkian ).
Dalam beberapa kali pertempuran pasukan raja muda mengalami kerusakan besar dan beberapa panglimanya tewas ditangan Hua Xiong. Yuan Xiao dan Cao Cao yang menjadi pimpinan gerakan itu jadi gelisah. Tiba-tiba Kwan Kong menyanggupkan diri untuk maju ke medan perang menghadapi Hua Xiong. Semua orang memandang rendah kemampuannya, hanya Cao Cao yang melihat kehebatan terpendam yang ada pada diri Kwan Kong. Dengan secawan arak yang masih hangat Cao Cao mempersilakan Kwan Kong minum sebelum maju ke medan laga.
Kwan Kong menolak, Ia minta agar arak itu ditunda setelah Ia pulang dengan membawa kepala Hua Xiong. Di medan laga, hanya dengan beberapa gebrakan saja Hua Xiong jatuh dan tewas diujung senjata Kwan Kong. Dengan membawa kepala Hua Xiong, Kwan Kong pulang ke kubunya di sambut Cao Cao dengan arak yang masih hangat. Sejak itu Cao Cao mulai tertarik kepada Kwan Kong. Hu Lou Guan masih sekali lagi menjadi saksi kehebatan Kwan Kong.
Dengan gugurnya Hua Xiong, Dong Zhuo lalu mengangkat Lu Bu ( Lu Po – Hokkian ) sebagai komandan pasukannya. Lu Bu adalah seorang yang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya di medan laga pada zaman itu. Dengan senjata tombak bercagak, Lu Bu mengobrak-abrik pasukan para raja muda tanpa ada yang mampu menghalanginya. Pada saat yang genting itu, Kwan Kong maju ke depan dan mencegat Lu Bu. Keduanya bertempur dengan seru tanpa ada yang kalah dan yang menang.
Melihat saudaranya sulit mengalahkan lawan, Liu Bei dan Zhang Fei segera mengeprak kudanya untuk menggerubuti Lu Bu. Pertempuran antara ketiga saudara menggerubuti Lu Bu, banyak menjadi objek lukisan yang menarik. Akhirnya Lu Bu merasa tidak dapat memenangkan mereka, lalu ia memutar kudanya dan mengundurkan diri. Pertempuran yang bersejarah ini diperingati orang sebagai San Ying Zhan Lu Bu atau Tiga Pahlawan Menempur Lu Bu. Kesetiaan Kwan Kong terhadap saudara angkat juga dikisahkan dalam novel sejarah ini. Dikisahkan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh suatu komplotan yang dipimpin oleh Dong Cheng ( Tang Sin – Hokkian ), Cao Cao makin menancapkan kuku kekuasaannya di ibukota, tanpa ada yang berani menantang. Sampai-sampai kaisarpun harus memperoleh izinnya terlebih dahulu apabila akan menemui seseorang.
Cao Cao berusaha menyingkirkan Liu Bei, yang dianggap duri dalam daging. Liu Bei pada waktu itu ada di kota Xuzhou. Bala tentara dikerahkan untuk menggempur kota kedudukan Liu Bei. Bersama Zhang Fei, Liu Bei berusaha menahan serbuan dari pasukan Cao Cao yang tak seimbang jumlahnya. Liu Bei dan Zhang Fei melarikan diri dengan berpencar diikuti tentaranya yang cerai berai. Setelah Xuzhuo jatuh, Cao Cao mengerahkan pasukannya menggempur Xiapei, tempat kedudukan Kwan Kong dan keluarga Liu Bei. Karena kalah jumlahnya, akhirnya Kwan Kong terkepung di sebuah bukit. Cao Cao yang telah mengagumi pribadi Kwan Kong, berusaha menarik Kwan Kong agar mau menakluk kepihaknya. Menyadari resiko dan tanggung jawab akan keselamatan keluarga kakaknya, Kwan Kong memutuskan menyerah, tapi dengan syarat bahwa walaupun bekerja pada Cao Cao Ia tetap setia pada Liu Bei, kakaknya dan begitu tahu Liu Bei berada Ia akan segera pergi untuk bergabung dan meninggalkan Cao Cao.
Mulanya Cao Cao ragu-ragu menerima syarat ini. Tetapi ia beranggapan bahwa apabila ia memperlakukan Kwan Kong lebih baik daripada yang telah dilakukan Liu Bei, tentu Kwan Kong akan tetap memihak dia. Begitulah Kwan Kong menakluk pada Cao Cao. Cao Cao memperlakukannya secara istimewa dan penuh dengan penghormatan. Pernah suatu ketika di perjalanan kembali ke Kota Raja, Cao Cao sengaja hanya menyediakan satu kamar di tempat rombongan Kwan Kong. Tetapi Kwan Kong tetap teguh hati. Dibiarkannya tempat itu ditempati oleh dua orang istri Liu Bei, sedangkan Dia sendiri menjaga didepan pintu dengan golok terhunus sambil membaca kitab Chun Qiu ( kitab catatan hikayat zaman Chun Qiu yang ditulis oleh Nabi Kong Zi ). Pose Kwan Kong membaca kitab Chun Qiu ini menjadi salah satu poin yang juga banyak disukai oleh pelukis dan pemahat pada zaman kemudian. Berulang kali Cao Cao berusaha merebut hatinya, tetapi selalu gagal. Suatu hari Cao Cao menghadiahkan jubah kebesaran kepada Kwan Kong ketika dilihatnya bajunya sudah tua dan lusuh. Kwan Kong segera menanggalkan baju lamanya dan mengenakan baju baru pemberian Cao Cao. Tapi Kwan Kong mengenakan baju tuaNya kembali diluar baju baru Cao Cao. Ketika Cao Cao dengan heran bertanya, Ia menjawab “Baju Tua ini adalah pemberian kakak angkatKu Liu Bei, walaupun Aku kini mengenakan baju pemberian Paduka Perdana Menteri, tidak seyogyanya Aku melupakan budi kakak angkatKu”. Mendengar jawaban ini, kekaguman Cao Cao makin bertambah.
Hadiah-hadiah berupa emas, perak tak terhitung banyaknya, tetapi Kwan Kong tidak pernah menyentuhnya. Barang-barang tersebut hanya ditumpuk dalam gudang. Puluhan wanita cantik yang dikirimkan kepadanya diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya, tanpa Ia merasa tertarik untuk memiliki. Dia dapat menjaga budi pekerti dan kesusilaan sehingga lawan-lawannya segan dan kagum padanya. Untuk mengambil hati Kwan Kong, Cao Cao menghadiahkan seekor kuda yang disebut Chi Tu ( Kelinci Merah ) kepadanya. Kuda ini adalah bekas tunggangan Lu Bu yang dapat berjalan 1.000 li dalam sehari. Seketika itu juga Kwan Kong berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Cao Cao. Cao Cao dengan heran lalu bertanya “Aku telah menghadiahkan banyak barang kepada Jendral, tapi Jendral hanya menerima dengan biasa saja. Tapi kini demi seekor kuda, Jendral lutut dihadapanku, sungguh aneh”. Kwan Kong segera menjawab “Barang lain walau bagaimana berharganya, Aku tidak memperdulikan, tapi dengan memiliki kuda ini, begitu Aku mendengar kabar dimana kakakKu, Liu Bei berada, Aku dapat dengan cepat pergi menemuinya”. Mendengar ini Cao Cao menyesal bukan main.
Liu Bei yang melarikan diri dari Xuzhou akhirnya diterima oleh Yuan Xiao ( Wan Siauw – Hokkian ) penguasa wilayah Hebe. Atas saran Liu Bei, Yuan Xiao menggerakan tentaranya untuk menyerang Cao Cao. Pasukan Yuan Xiao ini dipimpin oleh panglimanya yang terkenal yaitu Yang Liang ( Gan Liang – hokkian ). Para panglima Cao Cao tak dapat menahan serbuan Yang Liang, bahkan beberapa panglimanya tewas. Cao Cao gelisah melihat kegagahan panglima musuh ini. Kwan Kong minta izin untuk melawan Yang Liang, sekaligus untuk membalas budi Cao Cao. Yang Liang terbunuh hanya dengan sekali gebrakan saja, Wen Chou ( Bun Ciu – Hokkian ) juga salah satu panglima gagah yang diandalkan oleh Yuan Xiao, memimpin pasukannya untuk menuntut balas. Kembali pertempuran berkobar, dan beberapa panglima Cao Cao terbunuh diujung senjata Wen Chou.
Kembali Kwang Kong maju ke medan perang dan berhasil menumbangkan pahlawan dari Hebei itu, tanpa mengetahui bahwa Liu Bei ada di pasukan musuh. Kemudian secara rahasia Liu Bei berhasil mengadakan kontak dengan Kwan Kong dan menjelaskan dimana dia berada sekarang. Bergegas-gegas Kwan Kong bersiap untuk pergi bersama kedua iparnya dan beberapa pengiring. Sesuai dengan janjinya Ia akan pergi secara jantan, dengan berpamitan kepada Cao Cao. Cao Cao secara licik selalu menghindar agar Kwan Kong jangan sampai bertemu dengannya. Akhirnya Kwan Kong memutuskan untuk berangkat walau tanpa perkenaan Cao Cao, dengan meninggalkan barang-barang berharga termasuk para wanita cantik hadiah Cao Cao dan sepucuk surat perpisahan.
Dengan menunggang kuda, Kwan Kong ditemani beberapa penggiring, mengawal kedua kakak iparnya melewati kota-kota yang dijaga oleh para panglima Cao Cao. Karena mencegah lewatnya Kwan Kong, enam panglima yang menjaga lima kota tewas di tangannya. Begitulah akhirnya Kwan Kong dapat bergabung kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei, dan bersama-sama mereka merintis usaha untuk menegakkan negara Shu yang akan menjadi salah satu dari Tiga Negeri atau San Guo. Berkat keuletannya dalam berjuang akhirnya Liu Bei berhasil mengundang seorang ahli militer dan politik kenamaan yaitu Zhuge Liang alias Kong Ming ( Cut Kat Liang alias Kong Bing – Hokkian ), untuk menjadi penasehatnya.
Pada waktu itu Cao Cao mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyapu daerah kekuasaan Liu Bei. Dalam beberapa kali pertempuran pasukan-pasukan Liu Bei terdesak. Atas saran Zhuge Ling. Liu Bei mengadakan perserikatan dengan Sun Quan ( Sun Kwan – Hokkian ) untuk melawan Cao Cao. Berkat usaha Zhuge Liang akhirnya pasukan gabungan Liu Bei dan Sun Quan berhasil menghancurkan armada perang Cao Cao mundur ke darat, disana pasukan-pasukan Liu Bei bersiap memberikan pukulan yang terakhir. Pertempuran di Chibi ini betul-betul menghabiskan energi Cao Cao, sehingga sejak itu ia tak berani bergerak ke selatan lagi.
Dikisahkan dengan sisa-sisa pasukannya Cao Cao yang tidak seberapa jumlah mengundurkan diri ke utara. Seperti yang telah diperhitungkan oleh Zhuge Liang, Cao Cao telah melewati suatu celah strategis yang disebut Huarong. Tugas menjaga jalur penting ini dipercayakan kepada Kwan Kong. Mulanya Zhuge Liang ragu apakah Kwan Kong akan dapat mengangkap atau membunuh Cao Cao, sebab penasehat militer ulung ini sangat paham watak Jendral yang sangat mengutamakan budi ini. Bukankah Cao Cao pernah menanam budi pada Kwan Kong, pada waktu Kwan Kong berpihak kepada Cao Cao. Kwan Kong berkeras akan menjalankan tugasnya, bahkan sedia di hukum mati bila Dia sampai gagal. Melihat tekadnya, Zhuge Liang akhirnya menerima dan memberinya tugas untuk menjaga jalur vital itu. Cao Cao sesuai dengan perhitungan, lewat Huarong. Kwan Kong segera menghadang dan akan membunuhnya.
Cao Cao melihat Kwan Kong, segera turun dari kuda dan berlutut mohon dia dibiarkan lewat, sambil mengingatkan Kwan Kong betapa ia memperlakukannya pada waktu Kwan Kong menyerah kepadanya. Melihat keadaan Cao Cao yang compang camping dan prajuritnya yang tinggal tak seberapa itu, Kwan Kong tergerak hatinya, bagaimanapun dulu Cao Cao pernah menanam budi kepadanya. Akhirnya Ia rela melepaskan musuhnya itu, sebagai balasan atas perlakuan baik pada dirinya pada masa lalu, dan dengan tegap kembali kehadapan Zhuge Liang untuk bersedia dihukum mati karena telah menelantarkan tugas utamanya.
Atas saran Liu Bei, Kwan Kong dibebaskan dari hukuman. Zhuge Liang sendiri juga menyadari bahwa memang Cao Cao belum saatnya tumpas. Perbuatan Kwan Kong ini sangat di kagumi oleh orang dari zaman ke zaman, sehingga Ia diangkat sebagai Dewa dan banyak dipuja dan dihormati. Sampai akhir hayatnya Kwan Kong tetap setia pada saudara-saudara angkatnya. Pada waktu itu Liu Bei sudah berhasil mendirikan kerajaan dengan nama Shu ( Siok – Hokkian ) yang merupakan kelanjutan kerajaan Han yang dirampas oleh Cao Cao, wilayahnya yang meliputi propinsi Sichuan sekarang dengan ibukota Chengdu. Cao Cao menguasai daerah lembah sungai Huang He ( Sungai Kuning ) dan mendirikan kerajaan Wei ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Luoyang. Sun Quan mendirikan kerajaan Wu ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Wuchang, kemudian dipindahkan ke Nanjing yang meliputi wilayah yang membentang dari tengah dan hilir sungai Yangzi. Keadaan yang disebut Tiga Negeri sudah terbentuk.
Kwan Kong menjaga kota strategis, Jingzhou berusaha meluaskan kekuasaannya dengan menyerbu ke utara. Dengan waktu singkat dapat disebut kota Fancheng dan memukul mundur pasukan Cao Cao yang dipimpin oleh Jendralnya yang bernama Cao Ren ( Co Jin – Hokkian ). Kemudian ketika bala tentara Cao Cao dengan jumlah besar datang memberikan bantuan, Kwan Kong berhasil menhancurkan mereka dengan menenggelamkan dalam banjir dan pimpinannya, Pang De ( Bank Tek – Hokkian ), dan Yu Jin tertawan. Memahami situasi yang tak menguntungkan pihaknya, Cao Cao segera mengajak Sun Quan untuk berserikat.
Sun Quan, yang telah lama menginginkan kota JingZhou, yang dikuasai Kwan Kong, kembali kedalam wilayah kekuasaannya, setuju dan mengerakan pasukan merebut JingZhou. Kwan Kong akhirnya menghasil di jebak dan di tawan, kemudian dihukum mati karena menolak untuk menakluk. Karena takut akan pembalasan Liu Bei, kepala Kwan Kong dikirimkan ke tempat Cao Cao. Kwan Kong gugur pada tahun 219 Masehi dalam usia 60 tahun. Cao Cao yang telah lama kagum kepada Kwan Kong, memakamkan kepalanya, setelah disambung dengan tubuh dari kayu cendana, secara kebesaran. Kuburan Kwan Kong terletak di propinsi Henan kira-kira 7 km sebelah utara kota Louyang. Pemandangan di situ sangat indah, sedangkan bangunan kuburannya sangat megah seakan-akan sebuah bukit kecil dari kejauhan. Sekeliling bangunan itu ditanami pohon Bai (Cypress) yang selalu hijau, melambangkan semangat Kwan Kong yang tidak pernah padam dan abadi dari jaman ke jaman.
Pohon-pohon itu kini sudah menghutan dan ratusan tahun umurnya, sebab itu tempat tersebut dinamakan Guan Lin atau Hutan Guang Gong. Batu nisannya adalah hadiah dari kaisar dinasti Qing, dimana makan itu dipudar kembali.Berdekatan dengan Guan Lin, terdapat sebuat kelenteng peringatan untuk mengenang Kwan Kong, yang dibangun pada jaman dinasti Ming. Kelenteng itu merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang bermutu tinggi, sehingga merupakan objek wisata yang selalu dikunjungi para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri. Kelenteng peringatan Kwan Kong yang tersebar diseluruh Tiongkok terdapat di Jiezhou, propinsi Shanxi. Jiezhou, yang pada jaman San Guo disebut Hedong, adalah kampung halaman Kwan Kong. Kelenteng itu memiliki keindahan bangunan dan arsitektur yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu objek wisata terkemuka di Shanxi.
Sebagai dewata, Kwan Kong dipuja umat Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme, Kaum Taoist memujanya sebagai Dewata pelindung dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusianisme menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum buddhis memujanya sebagai Hu Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma. Menurut kaum Buddist, setelah Kwan Kong meninggal arwahnya muncul dihadapan rahib Pu Jing di kuil Yu Quan Si di gunung Yu Quan Shan, propinsi Hubei, Rahib Pu Jing pernah menolong Kwan Kong yang akan dicelakai seorang panglima Cao Cao, dalam perjalanan bergabung dengan Liu Bei. Setelah itu karena takut pembalasan Cao Cao si rahib menyingkir ke gunung Yu Quan Shan dan mendirikan Kuil Yu Quan Si. Liu Bei yang sangat berterima kasih akan budi Ragib Pu Jing kepada adik angkatnya itu, lalu memberikan dana yang cukup besar untuk membangun kelenteng Yu Quan SI sebagai balas budi.
Setelah meninggal roh Kwan Kong kemudian pergi menemui Rahib Pu Jing yang ketika itu sedang bersemedi, Kwan Kong menampakkan diri di hadapan Rahib itu, tempat penampakan roh Kwan Kong itu kemudian ditandai oleh sebatang pilar yang bertuliskan “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri”. Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li jaman Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.Kepada Rahib Pu jing, roh Kwan Kong minta pelajaran Dharma. Sejak itu Kwan Kong menjadi pengikut Buddist dan berikrar menjadi pengawal agama Buddha dan ajarannya.
Telah lebih 1000 tahun sejak itu Kwan Kong dipuja sebagai Boddistsatwa Pelindung Buddhadharma. Penghormatan terhadap Kwan Kong sebagai orang ksatria yang teguh terhadap sumpahnya, tidak goyah akan harta kekuasaan dan kedudukan dan setia terhadap saudara-saudara angkatnya, menyebabkab ia memperoleh penghormatan yang tinggi oleh kaisar - kaisar pada jaman berikutnya. Kwan Kong memperoleh gelar yang tidak tangung-tanggung Ia dsebut ” Di ” yang berarti ” Maha Dewa ” atau ” Maha Raja “. Sejak itu Ia disebut Guan Di atau Guan Di Ye ( Koan Te Ya - Hokkian ) yang berarti Paduka Maha Raja Guan, sebutan Kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di. Tercatat disini beberapa gelar kehormatan untuk Kwan Kong yang dianugrahkan oleh kaisar - kaisar dari berbagai dinasti :
1. Pada tahun 1120 kaisar Wei Zong dari dinasti Song memberi gelar kehormatan sebagai ” Zhong - Yi - Hou atau Raja Muda Nan Setia dan Berbudi “. Delapan tahun kemudian sejak itu, kaisar Gao Zong menanbah dengan sebutan Xie Tian Shang Di atau Maha Raja Agung dan Penentram Langit
( Hiap Thian Siang Te - Kokkian ).
2. Kaisar Wei Zong dari Dinasti Yuan ( Mongol ) pada tahun 1330, menghormatinya dengan tambahan gelar ” Wen Heng Di Jung atau Maha Raja Kesusastraan Yang Abadi “.
3. Kemudian pada tahun 1594 kaisar Wan Li dari dinasti Ming memberi gelar ” Zhong-Yi Da Di yang berarti Maha Raja Agung Yang Berbudi Dan Setia”. Pada jaman ini lebih banyak lagi kelenteng untuknya didirikan sedangkan yang telah ada dipugar diseluruh negeri agar masyarakat luas dapat lebih leluasa menghormatinya.
4. Tahun 1813 kaisar Jia Qing dari dinasti Qing ( Manzhu ) melengkapi gelar untuk Kwan Kong dengan menyebutkan ” Wu Sheng Guan Gong atau Guan Gong Orang Bijak Kemiliteran “.
5. Pada tahun 1813, konon Kwan Kong menampakkan diri membantu pasukan kerajaan dalam pertempuran dengan pasukan pemberontakan. Sejak itu kaisar Xian Feng mengangkat sebagai Dewata Pelindung Kerajaan dan menambah sebutan Fu-Zi yang berarti Nabi, setara dengan nabi besar Kong Fu-Zi ( Kong Hu cu - Hokkian ) dalam upacara kehormatan. Kwan Kong ditampilkan dengan berpakaian perang 1 lengkap, kadang - kadang membaca buku dengan putra angkatnya Guan Ping ( Koan Ping - Hokkian ) yang memegang cap kebesaran dan Zhou Chang pengawalnya yang setia, bertampang hitam brewokan, memegang golok Naga Hijau Mengejar Rembulan, senjata andalan tuannya. Guan Ping memperoleh gelar Ling Hou Thi Zi ( Leng Houw Thay Cu - Hokkian ), hari kelahirannya diperingati tanggal 13 bulan 5 imlek, sedangkan Zhou Chang ( Ciu Jong - Hokkian ) atau Jendral Zhou, diperingati hari kelahirannya pada tanggal 20 bulan 10 imlek. Dalam pemujaan dikalangan buddhis, kwan Kong dipuja sendirian tanpa penggiring. Sering juga ditampilkan sebagai Qie Lan Pu Sa ( Ka Lam Po Sat -Hokkian ) atau Boddhisatwa Pelindung, bersama-sama Wei Tuo.
Hari tahunan Kwan Kong jatuh pada tanggal 13 bulan 2 dan tanggal 13 bulan 5 imlek di Singapura dan Malaysia. Sedangkan Di Hong Kong, Taiwan dan daratan Tiongkok memperingati kelahirannya pada tanggal 24 bulan 6 imlek, tanggal 13 bulan 1 imlek sebagai hari kenaikannya.Seiring dengan mengalirnya para imigran Tionghoa keluar Tiongkok, pemujaan Kwan Kong tersebar ke negara-negara yang menjadi tempat tinggal para perantau itu.
Di Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak sekali kelenteng yang memuja Kwan Kong. Di Indonesia kelenteng yang khusus memuja Kwan Kong, dan terbesar dengan wilayah seluas kira-kira 4 Ha adalah kelenteng Guan Sheng Miao ( Kwan Sin Bio ) di Tuban, Jawa Timur. Ditempat Pemujaan Kwan Kong biasanya ikut dipuja juga seorang tukang kuda yang dipanggil Ma She Ye atau Tuan Ma. Ia bertugas merawat kuda tunggangan Kwan Kong yang disebut Chi-Tu-Ma ( Cek Thou Ma - Hokkian ) atau Kelinci Merah, yang dalam sehari bisa menempuh jarak 500 Km tanpa merasa lelah. Hari lahir Ma She Ye ini diperingati pada tanggal 13 bulan 4 Imlek. Dibeberapa kelenteng di wilayah Taiwan bersama-sama Kwan Kong dipuja Zhang Fei, Sang Adik Angkat, Liu Bei Sang Kakak, dan Zhao Zi Long ( Thio Cu Liong - Hokkian ). Zhao Zi Long atau Zhao Yun ( Thio In - Hokkian ) adalah panglima perang yang terkenal berani yang membantu Liu Bei menegakkan negaranya. Jasa Zhao Yun yang terutama adalah bahwa ia pernah menyelamatkan putra Liu Bei dari tangan musuh-musuhnya.
Pada waktu itu Liu Bei sedang menghadapi situasi kritis, serbuan pasukan Cao Cao memaksanya mengundurkan diri untuk membangun pertahanan yang aman.Zhao yun pada waktu itu bertugas mengawal keluarga Liu Bei. Dalam keadaan kacau balau akibat serbuan pasukan Cao Cao, Zhao Yun kehilangan istri Liu Bei bersama putranya. Ia lalu membalikkan kudanya dan menerjang kembali barisan musuh untuk mencari istri junjungannya itu.
Para panglima Cao Cao menyerbunya. Seorang diri Zhao Yun menerjang, siapa yang menghalangi tewas kena tebasan pedang dan tombaknya. Berpuluh-puluh pahlawan Cao Cao tewas ditangannya. Akhirnya istri Liu Bei yaitu Nyonya Mi, ditemukan berlindung di sebuah rumah yang sudah runtuh di dekat sebuah sumur dengan putra dipelukannya. Zhao Yun meminta Sang Nyonya menaiki kudanya, ia mengawalnya sambil berjalan menerobos kepungan musuh yang berlapis-lapis. Tapi Sang Nyonya yang memahami kesulitan pahlawan ini menolak. Setelah menyerahkan putranya agar diselamatkan oleh Zhao Yun, ia lalu menerjunkan diri kedalam sumur. Seorang diri Zhao Yun kembali menerjang kepungan musuh, sampai akhirnya berhasil lolos dan menyerahkan sang bayi kepada Liu Bei yang menunggu dengan cemas. kepahlawanan Zhao Yun ini dilukiskan dengan sangat menawan dalam novel San Guo. Zhao Yun atau Zhao Zi Long secara umum disebut Zi Long Ye atau Paduka Zi Long. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 16 bulan 2 imlek.
Zhang Fei diperingati kelahirannya pada tanggal 13 bulan 8 imlek. Sebuah kuil peringatan untuk Zhang Fei terdapat di kaki gunung Fei - feng Shan, di tepi sungai Yang Zi diluar kota Yunyang, propinsi Sichuan, yang dibangun lebih dari 1700 tahun yang lalu, pada akhir kerajaan Shu. Liu Bei diperingati pada tanggal 24 bulan 4 imlek. Pemujaan secara bersama-sama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fei juga sering terdapat untuk mengenang sumpah persaudaraan mereka yang abadi dan di kagumi orang dari jaman ke jaman.
( 221 – 269 Masehi ). Nama aslinya adalah Guan Yu alias Guan Yun Chan ( Kwan In Tiang – Hokkian ). Oleh kaisar Han ia diberi gelar Han Shou Ting Hou. Kwan Kong dipuja karena kejujuran dan kesetiaan. Dia adalah lambang atau tauladan kesatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya. Sebab itu Kwan Kong banyak dipuja dikalangan masyarakat, disamping kelenteng-kelenteng khusus. Gambarnya banyak dipasang dirumah pribadi, toko, bank, kantor polisi, pengadilan sampai ke markas organisasi mafia. Para anggota perkumpulan rahasia itu biasanya melakukan sumpah sejati dihadapan Kwan Kong.
Disamping dipuja sebagai lambang kesetiaan dan kejujuran, Kwan Kong dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan Dewa Perang sebagai umumnya dikenal dan dialamatkan kepada Kwan Kong, harus diartikan sebagai Dewa untuk menghindarkan peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Kwan Kong yang budiman. Kwan Kong adalah penduduk asli kabupaten Hedong (sekarang Jiezhou) di propinsi Shanxi.
Bentuk tubuhnya tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah. Tentang wajahnya yang berwarna merah ini adalah cerita tersendiri yang tidak terdapat dalam novel San Guo ( kisah tiga negeri). Suatu hari dalam pengembaraannya, Kwan Kong berjumpa dengan seorang tua yang sedang menangis sedih. Ternyata anak perempuan satu-satunya dengan siapa hidupnya bergantung, dirampas oleh wedana setempat untuk dijadikan gundik, Kwan Kong, yang berwatak budiman dan tidak suka sewenang-wenang semacam ini, naik darah. Dibunuhnya wedana yang jahat itu dan sang gadis dikembalikan kepada orang tuanya. Tetapi dengan perbuatan ini Kwan Kong sekarang menjadi buronan. Dalam pelariannya itu Ia sampai dicela DongGuan di propinsi Shanxi. Ia lalu membasuh mukanya di sebuah sendang kecil yang terdapat di pergunungan itu. Seketika rupanya berubah menjadi merah, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Dengan mudah Ia menyelip diantara para petugas yang diperintahkan untuk menangkapnya tanpa diketahui.
Riwayat Kwan Kong selanjutnya dan sampai akhir hayatnya ditulis dengan sangat indah dalam novel San Guo yang terkenal itu. Dalam babak pertama dalam novel tersebut diceritakan bagaimana Kwan Kong dalam pengembaraannya berjumpa dengan Liu Bei dan Zhan Fei di sebuah kedai arak. Dalam pembicaraan mereka ternyata cocok dan sehati, sehingga memutuskan untuk mengangkat saudara. Upacara pengangkatan saudara ini, dilaksanakan dirumah Zhan Fei dalam sebuah kebun buah Tao atau persik, Liu Bei menjadi saudara tertua, Kwan Kong yang kedua dan Zhan Fei bungsu.
Bersama-sama mereka bersumpah sehidup semati dan berjuang untuk membela negara. Peristiwa ini terkenal dengan nama “ Tao-Yuan-Jie-Yi ” ( Tho Wan Kiat Gie – Hokkian ) atau “ Sumpah Persaudaraan Di kebun Persik ”, sangat dikagumi oleh orang dari zaman ke zaman dan dianggap sebagai lambang persaudaraan sejati. Lukisan tiga bersaudara ini sedang melaksanakan upacara sumpah ini banyak menjadi objek lukisan, pahatan, patung keramik yang sangat disukai orang hingga dewasa ini.
Selanjutnya diceritakan ketiga saudara angkat ini membentuk pasukan sukarela untuk memerangi kaum pemberontak Destar Kuning yang pada waktu itu sangat mengguncangkan sendi-sendi kerajaan Han yang telah rapuh. Dalam pertempuran itu mereka memperlihatkan kegagahan sebagai prajurit dan pimpinan militer yang cakap. Kegagahan Kwan Kong menjadi perhatian orang pertama kali pada saat terjadi pertempuran di benteng Hu Luo Guan.
Waktu itu Liu Bei bersama kedua adiknya bergabung dengan ke-18 Raja Muda yang membentuk pasukan gabungan untuk menumpas Dong Zhuo yang lalim. Dong Zhuo mengangkat diri menjadi perdana menteri dan dengan seenaknya sendiri makzulkan Kaisar, dan menggantikannya dengan Kaisar kecil yang menjadi bonekanya. Di Hu Luo Guan terjadi pertempuran besar antara pasukan gabungan para raja muda melawan bala tentara Dong Zhuo yang dipimpin oleh seorang panglima yang gagah perkasa, Hua Xiong ( Hoa Hiong – Hokkian ).
Dalam beberapa kali pertempuran pasukan raja muda mengalami kerusakan besar dan beberapa panglimanya tewas ditangan Hua Xiong. Yuan Xiao dan Cao Cao yang menjadi pimpinan gerakan itu jadi gelisah. Tiba-tiba Kwan Kong menyanggupkan diri untuk maju ke medan perang menghadapi Hua Xiong. Semua orang memandang rendah kemampuannya, hanya Cao Cao yang melihat kehebatan terpendam yang ada pada diri Kwan Kong. Dengan secawan arak yang masih hangat Cao Cao mempersilakan Kwan Kong minum sebelum maju ke medan laga.
Kwan Kong menolak, Ia minta agar arak itu ditunda setelah Ia pulang dengan membawa kepala Hua Xiong. Di medan laga, hanya dengan beberapa gebrakan saja Hua Xiong jatuh dan tewas diujung senjata Kwan Kong. Dengan membawa kepala Hua Xiong, Kwan Kong pulang ke kubunya di sambut Cao Cao dengan arak yang masih hangat. Sejak itu Cao Cao mulai tertarik kepada Kwan Kong. Hu Lou Guan masih sekali lagi menjadi saksi kehebatan Kwan Kong.
Dengan gugurnya Hua Xiong, Dong Zhuo lalu mengangkat Lu Bu ( Lu Po – Hokkian ) sebagai komandan pasukannya. Lu Bu adalah seorang yang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya di medan laga pada zaman itu. Dengan senjata tombak bercagak, Lu Bu mengobrak-abrik pasukan para raja muda tanpa ada yang mampu menghalanginya. Pada saat yang genting itu, Kwan Kong maju ke depan dan mencegat Lu Bu. Keduanya bertempur dengan seru tanpa ada yang kalah dan yang menang.
Melihat saudaranya sulit mengalahkan lawan, Liu Bei dan Zhang Fei segera mengeprak kudanya untuk menggerubuti Lu Bu. Pertempuran antara ketiga saudara menggerubuti Lu Bu, banyak menjadi objek lukisan yang menarik. Akhirnya Lu Bu merasa tidak dapat memenangkan mereka, lalu ia memutar kudanya dan mengundurkan diri. Pertempuran yang bersejarah ini diperingati orang sebagai San Ying Zhan Lu Bu atau Tiga Pahlawan Menempur Lu Bu. Kesetiaan Kwan Kong terhadap saudara angkat juga dikisahkan dalam novel sejarah ini. Dikisahkan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh suatu komplotan yang dipimpin oleh Dong Cheng ( Tang Sin – Hokkian ), Cao Cao makin menancapkan kuku kekuasaannya di ibukota, tanpa ada yang berani menantang. Sampai-sampai kaisarpun harus memperoleh izinnya terlebih dahulu apabila akan menemui seseorang.
Cao Cao berusaha menyingkirkan Liu Bei, yang dianggap duri dalam daging. Liu Bei pada waktu itu ada di kota Xuzhou. Bala tentara dikerahkan untuk menggempur kota kedudukan Liu Bei. Bersama Zhang Fei, Liu Bei berusaha menahan serbuan dari pasukan Cao Cao yang tak seimbang jumlahnya. Liu Bei dan Zhang Fei melarikan diri dengan berpencar diikuti tentaranya yang cerai berai. Setelah Xuzhuo jatuh, Cao Cao mengerahkan pasukannya menggempur Xiapei, tempat kedudukan Kwan Kong dan keluarga Liu Bei. Karena kalah jumlahnya, akhirnya Kwan Kong terkepung di sebuah bukit. Cao Cao yang telah mengagumi pribadi Kwan Kong, berusaha menarik Kwan Kong agar mau menakluk kepihaknya. Menyadari resiko dan tanggung jawab akan keselamatan keluarga kakaknya, Kwan Kong memutuskan menyerah, tapi dengan syarat bahwa walaupun bekerja pada Cao Cao Ia tetap setia pada Liu Bei, kakaknya dan begitu tahu Liu Bei berada Ia akan segera pergi untuk bergabung dan meninggalkan Cao Cao.
Mulanya Cao Cao ragu-ragu menerima syarat ini. Tetapi ia beranggapan bahwa apabila ia memperlakukan Kwan Kong lebih baik daripada yang telah dilakukan Liu Bei, tentu Kwan Kong akan tetap memihak dia. Begitulah Kwan Kong menakluk pada Cao Cao. Cao Cao memperlakukannya secara istimewa dan penuh dengan penghormatan. Pernah suatu ketika di perjalanan kembali ke Kota Raja, Cao Cao sengaja hanya menyediakan satu kamar di tempat rombongan Kwan Kong. Tetapi Kwan Kong tetap teguh hati. Dibiarkannya tempat itu ditempati oleh dua orang istri Liu Bei, sedangkan Dia sendiri menjaga didepan pintu dengan golok terhunus sambil membaca kitab Chun Qiu ( kitab catatan hikayat zaman Chun Qiu yang ditulis oleh Nabi Kong Zi ). Pose Kwan Kong membaca kitab Chun Qiu ini menjadi salah satu poin yang juga banyak disukai oleh pelukis dan pemahat pada zaman kemudian. Berulang kali Cao Cao berusaha merebut hatinya, tetapi selalu gagal. Suatu hari Cao Cao menghadiahkan jubah kebesaran kepada Kwan Kong ketika dilihatnya bajunya sudah tua dan lusuh. Kwan Kong segera menanggalkan baju lamanya dan mengenakan baju baru pemberian Cao Cao. Tapi Kwan Kong mengenakan baju tuaNya kembali diluar baju baru Cao Cao. Ketika Cao Cao dengan heran bertanya, Ia menjawab “Baju Tua ini adalah pemberian kakak angkatKu Liu Bei, walaupun Aku kini mengenakan baju pemberian Paduka Perdana Menteri, tidak seyogyanya Aku melupakan budi kakak angkatKu”. Mendengar jawaban ini, kekaguman Cao Cao makin bertambah.
Hadiah-hadiah berupa emas, perak tak terhitung banyaknya, tetapi Kwan Kong tidak pernah menyentuhnya. Barang-barang tersebut hanya ditumpuk dalam gudang. Puluhan wanita cantik yang dikirimkan kepadanya diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya, tanpa Ia merasa tertarik untuk memiliki. Dia dapat menjaga budi pekerti dan kesusilaan sehingga lawan-lawannya segan dan kagum padanya. Untuk mengambil hati Kwan Kong, Cao Cao menghadiahkan seekor kuda yang disebut Chi Tu ( Kelinci Merah ) kepadanya. Kuda ini adalah bekas tunggangan Lu Bu yang dapat berjalan 1.000 li dalam sehari. Seketika itu juga Kwan Kong berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Cao Cao. Cao Cao dengan heran lalu bertanya “Aku telah menghadiahkan banyak barang kepada Jendral, tapi Jendral hanya menerima dengan biasa saja. Tapi kini demi seekor kuda, Jendral lutut dihadapanku, sungguh aneh”. Kwan Kong segera menjawab “Barang lain walau bagaimana berharganya, Aku tidak memperdulikan, tapi dengan memiliki kuda ini, begitu Aku mendengar kabar dimana kakakKu, Liu Bei berada, Aku dapat dengan cepat pergi menemuinya”. Mendengar ini Cao Cao menyesal bukan main.
Liu Bei yang melarikan diri dari Xuzhou akhirnya diterima oleh Yuan Xiao ( Wan Siauw – Hokkian ) penguasa wilayah Hebe. Atas saran Liu Bei, Yuan Xiao menggerakan tentaranya untuk menyerang Cao Cao. Pasukan Yuan Xiao ini dipimpin oleh panglimanya yang terkenal yaitu Yang Liang ( Gan Liang – hokkian ). Para panglima Cao Cao tak dapat menahan serbuan Yang Liang, bahkan beberapa panglimanya tewas. Cao Cao gelisah melihat kegagahan panglima musuh ini. Kwan Kong minta izin untuk melawan Yang Liang, sekaligus untuk membalas budi Cao Cao. Yang Liang terbunuh hanya dengan sekali gebrakan saja, Wen Chou ( Bun Ciu – Hokkian ) juga salah satu panglima gagah yang diandalkan oleh Yuan Xiao, memimpin pasukannya untuk menuntut balas. Kembali pertempuran berkobar, dan beberapa panglima Cao Cao terbunuh diujung senjata Wen Chou.
Kembali Kwang Kong maju ke medan perang dan berhasil menumbangkan pahlawan dari Hebei itu, tanpa mengetahui bahwa Liu Bei ada di pasukan musuh. Kemudian secara rahasia Liu Bei berhasil mengadakan kontak dengan Kwan Kong dan menjelaskan dimana dia berada sekarang. Bergegas-gegas Kwan Kong bersiap untuk pergi bersama kedua iparnya dan beberapa pengiring. Sesuai dengan janjinya Ia akan pergi secara jantan, dengan berpamitan kepada Cao Cao. Cao Cao secara licik selalu menghindar agar Kwan Kong jangan sampai bertemu dengannya. Akhirnya Kwan Kong memutuskan untuk berangkat walau tanpa perkenaan Cao Cao, dengan meninggalkan barang-barang berharga termasuk para wanita cantik hadiah Cao Cao dan sepucuk surat perpisahan.Dengan menunggang kuda, Kwan Kong ditemani beberapa penggiring, mengawal kedua kakak iparnya melewati kota-kota yang dijaga oleh para panglima Cao Cao. Karena mencegah lewatnya Kwan Kong, enam panglima yang menjaga lima kota tewas di tangannya. Begitulah akhirnya Kwan Kong dapat bergabung kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei, dan bersama-sama mereka merintis usaha untuk menegakkan negara Shu yang akan menjadi salah satu dari Tiga Negeri atau San Guo. Berkat keuletannya dalam berjuang akhirnya Liu Bei berhasil mengundang seorang ahli militer dan politik kenamaan yaitu Zhuge Liang alias Kong Ming ( Cut Kat Liang alias Kong Bing – Hokkian ), untuk menjadi penasehatnya.
Pada waktu itu Cao Cao mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyapu daerah kekuasaan Liu Bei. Dalam beberapa kali pertempuran pasukan-pasukan Liu Bei terdesak. Atas saran Zhuge Ling. Liu Bei mengadakan perserikatan dengan Sun Quan ( Sun Kwan – Hokkian ) untuk melawan Cao Cao. Berkat usaha Zhuge Liang akhirnya pasukan gabungan Liu Bei dan Sun Quan berhasil menghancurkan armada perang Cao Cao mundur ke darat, disana pasukan-pasukan Liu Bei bersiap memberikan pukulan yang terakhir. Pertempuran di Chibi ini betul-betul menghabiskan energi Cao Cao, sehingga sejak itu ia tak berani bergerak ke selatan lagi.
Dikisahkan dengan sisa-sisa pasukannya Cao Cao yang tidak seberapa jumlah mengundurkan diri ke utara. Seperti yang telah diperhitungkan oleh Zhuge Liang, Cao Cao telah melewati suatu celah strategis yang disebut Huarong. Tugas menjaga jalur penting ini dipercayakan kepada Kwan Kong. Mulanya Zhuge Liang ragu apakah Kwan Kong akan dapat mengangkap atau membunuh Cao Cao, sebab penasehat militer ulung ini sangat paham watak Jendral yang sangat mengutamakan budi ini. Bukankah Cao Cao pernah menanam budi pada Kwan Kong, pada waktu Kwan Kong berpihak kepada Cao Cao. Kwan Kong berkeras akan menjalankan tugasnya, bahkan sedia di hukum mati bila Dia sampai gagal. Melihat tekadnya, Zhuge Liang akhirnya menerima dan memberinya tugas untuk menjaga jalur vital itu. Cao Cao sesuai dengan perhitungan, lewat Huarong. Kwan Kong segera menghadang dan akan membunuhnya.
Cao Cao melihat Kwan Kong, segera turun dari kuda dan berlutut mohon dia dibiarkan lewat, sambil mengingatkan Kwan Kong betapa ia memperlakukannya pada waktu Kwan Kong menyerah kepadanya. Melihat keadaan Cao Cao yang compang camping dan prajuritnya yang tinggal tak seberapa itu, Kwan Kong tergerak hatinya, bagaimanapun dulu Cao Cao pernah menanam budi kepadanya. Akhirnya Ia rela melepaskan musuhnya itu, sebagai balasan atas perlakuan baik pada dirinya pada masa lalu, dan dengan tegap kembali kehadapan Zhuge Liang untuk bersedia dihukum mati karena telah menelantarkan tugas utamanya.
Atas saran Liu Bei, Kwan Kong dibebaskan dari hukuman. Zhuge Liang sendiri juga menyadari bahwa memang Cao Cao belum saatnya tumpas. Perbuatan Kwan Kong ini sangat di kagumi oleh orang dari zaman ke zaman, sehingga Ia diangkat sebagai Dewa dan banyak dipuja dan dihormati. Sampai akhir hayatnya Kwan Kong tetap setia pada saudara-saudara angkatnya. Pada waktu itu Liu Bei sudah berhasil mendirikan kerajaan dengan nama Shu ( Siok – Hokkian ) yang merupakan kelanjutan kerajaan Han yang dirampas oleh Cao Cao, wilayahnya yang meliputi propinsi Sichuan sekarang dengan ibukota Chengdu. Cao Cao menguasai daerah lembah sungai Huang He ( Sungai Kuning ) dan mendirikan kerajaan Wei ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Luoyang. Sun Quan mendirikan kerajaan Wu ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Wuchang, kemudian dipindahkan ke Nanjing yang meliputi wilayah yang membentang dari tengah dan hilir sungai Yangzi. Keadaan yang disebut Tiga Negeri sudah terbentuk.
Kwan Kong menjaga kota strategis, Jingzhou berusaha meluaskan kekuasaannya dengan menyerbu ke utara. Dengan waktu singkat dapat disebut kota Fancheng dan memukul mundur pasukan Cao Cao yang dipimpin oleh Jendralnya yang bernama Cao Ren ( Co Jin – Hokkian ). Kemudian ketika bala tentara Cao Cao dengan jumlah besar datang memberikan bantuan, Kwan Kong berhasil menhancurkan mereka dengan menenggelamkan dalam banjir dan pimpinannya, Pang De ( Bank Tek – Hokkian ), dan Yu Jin tertawan. Memahami situasi yang tak menguntungkan pihaknya, Cao Cao segera mengajak Sun Quan untuk berserikat.
Sun Quan, yang telah lama menginginkan kota JingZhou, yang dikuasai Kwan Kong, kembali kedalam wilayah kekuasaannya, setuju dan mengerakan pasukan merebut JingZhou. Kwan Kong akhirnya menghasil di jebak dan di tawan, kemudian dihukum mati karena menolak untuk menakluk. Karena takut akan pembalasan Liu Bei, kepala Kwan Kong dikirimkan ke tempat Cao Cao. Kwan Kong gugur pada tahun 219 Masehi dalam usia 60 tahun. Cao Cao yang telah lama kagum kepada Kwan Kong, memakamkan kepalanya, setelah disambung dengan tubuh dari kayu cendana, secara kebesaran. Kuburan Kwan Kong terletak di propinsi Henan kira-kira 7 km sebelah utara kota Louyang. Pemandangan di situ sangat indah, sedangkan bangunan kuburannya sangat megah seakan-akan sebuah bukit kecil dari kejauhan. Sekeliling bangunan itu ditanami pohon Bai (Cypress) yang selalu hijau, melambangkan semangat Kwan Kong yang tidak pernah padam dan abadi dari jaman ke jaman.
Pohon-pohon itu kini sudah menghutan dan ratusan tahun umurnya, sebab itu tempat tersebut dinamakan Guan Lin atau Hutan Guang Gong. Batu nisannya adalah hadiah dari kaisar dinasti Qing, dimana makan itu dipudar kembali.Berdekatan dengan Guan Lin, terdapat sebuat kelenteng peringatan untuk mengenang Kwan Kong, yang dibangun pada jaman dinasti Ming. Kelenteng itu merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang bermutu tinggi, sehingga merupakan objek wisata yang selalu dikunjungi para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri. Kelenteng peringatan Kwan Kong yang tersebar diseluruh Tiongkok terdapat di Jiezhou, propinsi Shanxi. Jiezhou, yang pada jaman San Guo disebut Hedong, adalah kampung halaman Kwan Kong. Kelenteng itu memiliki keindahan bangunan dan arsitektur yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu objek wisata terkemuka di Shanxi.
Sebagai dewata, Kwan Kong dipuja umat Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme, Kaum Taoist memujanya sebagai Dewata pelindung dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusianisme menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum buddhis memujanya sebagai Hu Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma. Menurut kaum Buddist, setelah Kwan Kong meninggal arwahnya muncul dihadapan rahib Pu Jing di kuil Yu Quan Si di gunung Yu Quan Shan, propinsi Hubei, Rahib Pu Jing pernah menolong Kwan Kong yang akan dicelakai seorang panglima Cao Cao, dalam perjalanan bergabung dengan Liu Bei. Setelah itu karena takut pembalasan Cao Cao si rahib menyingkir ke gunung Yu Quan Shan dan mendirikan Kuil Yu Quan Si. Liu Bei yang sangat berterima kasih akan budi Ragib Pu Jing kepada adik angkatnya itu, lalu memberikan dana yang cukup besar untuk membangun kelenteng Yu Quan SI sebagai balas budi.
Setelah meninggal roh Kwan Kong kemudian pergi menemui Rahib Pu Jing yang ketika itu sedang bersemedi, Kwan Kong menampakkan diri di hadapan Rahib itu, tempat penampakan roh Kwan Kong itu kemudian ditandai oleh sebatang pilar yang bertuliskan “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri”. Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li jaman Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.Kepada Rahib Pu jing, roh Kwan Kong minta pelajaran Dharma. Sejak itu Kwan Kong menjadi pengikut Buddist dan berikrar menjadi pengawal agama Buddha dan ajarannya.
Telah lebih 1000 tahun sejak itu Kwan Kong dipuja sebagai Boddistsatwa Pelindung Buddhadharma. Penghormatan terhadap Kwan Kong sebagai orang ksatria yang teguh terhadap sumpahnya, tidak goyah akan harta kekuasaan dan kedudukan dan setia terhadap saudara-saudara angkatnya, menyebabkab ia memperoleh penghormatan yang tinggi oleh kaisar - kaisar pada jaman berikutnya. Kwan Kong memperoleh gelar yang tidak tangung-tanggung Ia dsebut ” Di ” yang berarti ” Maha Dewa ” atau ” Maha Raja “. Sejak itu Ia disebut Guan Di atau Guan Di Ye ( Koan Te Ya - Hokkian ) yang berarti Paduka Maha Raja Guan, sebutan Kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di. Tercatat disini beberapa gelar kehormatan untuk Kwan Kong yang dianugrahkan oleh kaisar - kaisar dari berbagai dinasti :
1. Pada tahun 1120 kaisar Wei Zong dari dinasti Song memberi gelar kehormatan sebagai ” Zhong - Yi - Hou atau Raja Muda Nan Setia dan Berbudi “. Delapan tahun kemudian sejak itu, kaisar Gao Zong menanbah dengan sebutan Xie Tian Shang Di atau Maha Raja Agung dan Penentram Langit
( Hiap Thian Siang Te - Kokkian ).
2. Kaisar Wei Zong dari Dinasti Yuan ( Mongol ) pada tahun 1330, menghormatinya dengan tambahan gelar ” Wen Heng Di Jung atau Maha Raja Kesusastraan Yang Abadi “.
3. Kemudian pada tahun 1594 kaisar Wan Li dari dinasti Ming memberi gelar ” Zhong-Yi Da Di yang berarti Maha Raja Agung Yang Berbudi Dan Setia”. Pada jaman ini lebih banyak lagi kelenteng untuknya didirikan sedangkan yang telah ada dipugar diseluruh negeri agar masyarakat luas dapat lebih leluasa menghormatinya.
4. Tahun 1813 kaisar Jia Qing dari dinasti Qing ( Manzhu ) melengkapi gelar untuk Kwan Kong dengan menyebutkan ” Wu Sheng Guan Gong atau Guan Gong Orang Bijak Kemiliteran “.
5. Pada tahun 1813, konon Kwan Kong menampakkan diri membantu pasukan kerajaan dalam pertempuran dengan pasukan pemberontakan. Sejak itu kaisar Xian Feng mengangkat sebagai Dewata Pelindung Kerajaan dan menambah sebutan Fu-Zi yang berarti Nabi, setara dengan nabi besar Kong Fu-Zi ( Kong Hu cu - Hokkian ) dalam upacara kehormatan. Kwan Kong ditampilkan dengan berpakaian perang 1 lengkap, kadang - kadang membaca buku dengan putra angkatnya Guan Ping ( Koan Ping - Hokkian ) yang memegang cap kebesaran dan Zhou Chang pengawalnya yang setia, bertampang hitam brewokan, memegang golok Naga Hijau Mengejar Rembulan, senjata andalan tuannya. Guan Ping memperoleh gelar Ling Hou Thi Zi ( Leng Houw Thay Cu - Hokkian ), hari kelahirannya diperingati tanggal 13 bulan 5 imlek, sedangkan Zhou Chang ( Ciu Jong - Hokkian ) atau Jendral Zhou, diperingati hari kelahirannya pada tanggal 20 bulan 10 imlek. Dalam pemujaan dikalangan buddhis, kwan Kong dipuja sendirian tanpa penggiring. Sering juga ditampilkan sebagai Qie Lan Pu Sa ( Ka Lam Po Sat -Hokkian ) atau Boddhisatwa Pelindung, bersama-sama Wei Tuo.
Hari tahunan Kwan Kong jatuh pada tanggal 13 bulan 2 dan tanggal 13 bulan 5 imlek di Singapura dan Malaysia. Sedangkan Di Hong Kong, Taiwan dan daratan Tiongkok memperingati kelahirannya pada tanggal 24 bulan 6 imlek, tanggal 13 bulan 1 imlek sebagai hari kenaikannya.Seiring dengan mengalirnya para imigran Tionghoa keluar Tiongkok, pemujaan Kwan Kong tersebar ke negara-negara yang menjadi tempat tinggal para perantau itu.
Di Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak sekali kelenteng yang memuja Kwan Kong. Di Indonesia kelenteng yang khusus memuja Kwan Kong, dan terbesar dengan wilayah seluas kira-kira 4 Ha adalah kelenteng Guan Sheng Miao ( Kwan Sin Bio ) di Tuban, Jawa Timur. Ditempat Pemujaan Kwan Kong biasanya ikut dipuja juga seorang tukang kuda yang dipanggil Ma She Ye atau Tuan Ma. Ia bertugas merawat kuda tunggangan Kwan Kong yang disebut Chi-Tu-Ma ( Cek Thou Ma - Hokkian ) atau Kelinci Merah, yang dalam sehari bisa menempuh jarak 500 Km tanpa merasa lelah. Hari lahir Ma She Ye ini diperingati pada tanggal 13 bulan 4 Imlek. Dibeberapa kelenteng di wilayah Taiwan bersama-sama Kwan Kong dipuja Zhang Fei, Sang Adik Angkat, Liu Bei Sang Kakak, dan Zhao Zi Long ( Thio Cu Liong - Hokkian ). Zhao Zi Long atau Zhao Yun ( Thio In - Hokkian ) adalah panglima perang yang terkenal berani yang membantu Liu Bei menegakkan negaranya. Jasa Zhao Yun yang terutama adalah bahwa ia pernah menyelamatkan putra Liu Bei dari tangan musuh-musuhnya.
Pada waktu itu Liu Bei sedang menghadapi situasi kritis, serbuan pasukan Cao Cao memaksanya mengundurkan diri untuk membangun pertahanan yang aman.Zhao yun pada waktu itu bertugas mengawal keluarga Liu Bei. Dalam keadaan kacau balau akibat serbuan pasukan Cao Cao, Zhao Yun kehilangan istri Liu Bei bersama putranya. Ia lalu membalikkan kudanya dan menerjang kembali barisan musuh untuk mencari istri junjungannya itu.
Para panglima Cao Cao menyerbunya. Seorang diri Zhao Yun menerjang, siapa yang menghalangi tewas kena tebasan pedang dan tombaknya. Berpuluh-puluh pahlawan Cao Cao tewas ditangannya. Akhirnya istri Liu Bei yaitu Nyonya Mi, ditemukan berlindung di sebuah rumah yang sudah runtuh di dekat sebuah sumur dengan putra dipelukannya. Zhao Yun meminta Sang Nyonya menaiki kudanya, ia mengawalnya sambil berjalan menerobos kepungan musuh yang berlapis-lapis. Tapi Sang Nyonya yang memahami kesulitan pahlawan ini menolak. Setelah menyerahkan putranya agar diselamatkan oleh Zhao Yun, ia lalu menerjunkan diri kedalam sumur. Seorang diri Zhao Yun kembali menerjang kepungan musuh, sampai akhirnya berhasil lolos dan menyerahkan sang bayi kepada Liu Bei yang menunggu dengan cemas. kepahlawanan Zhao Yun ini dilukiskan dengan sangat menawan dalam novel San Guo. Zhao Yun atau Zhao Zi Long secara umum disebut Zi Long Ye atau Paduka Zi Long. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 16 bulan 2 imlek.
Zhang Fei diperingati kelahirannya pada tanggal 13 bulan 8 imlek. Sebuah kuil peringatan untuk Zhang Fei terdapat di kaki gunung Fei - feng Shan, di tepi sungai Yang Zi diluar kota Yunyang, propinsi Sichuan, yang dibangun lebih dari 1700 tahun yang lalu, pada akhir kerajaan Shu. Liu Bei diperingati pada tanggal 24 bulan 4 imlek. Pemujaan secara bersama-sama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fei juga sering terdapat untuk mengenang sumpah persaudaraan mereka yang abadi dan di kagumi orang dari jaman ke jaman.
Story By Anthony De Mello SJ
SOKRATES DI PASAR Sokrates, seorang filsuf sejati, yakin bahwa orang yang
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus tertarik oleh
keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat
segala macam barang yang dipertontonkan. Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian,
Sokrates berkata, "Saya senang pergi ke sana untuk
mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak
memilikinya, saya tetap gembira." Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
MENCONTOH RAJA Ketika "Messiah" karangan Handel untuk pertama kalinya
dipertunjukkan di London, raja hadir. Ia begitu terbuai oleh
perasaan religius ketika paduan suara menyanyikan bagian
Alleluia, sehingga di luar kebiasaan ia berdiri hening penuh
hormat terhadap karya besar yang sedang ia nikmati. Ketika melihat ini, para bangsawan yang hadir di sana
mengikuti raja dan berdiri juga. Itu menjadi tanda bagi para
hadirin yang lain untuk berdiri. Sejak saat itu, dianggap suatu keharusan untuk berdiri
setiap kali Alleluia dinyanyikan, tanpa peduli seperti
apakah sikap batin orang yang mendengarkan atau mutu
pembawaannya.
ASAL-USUL SEPATU Seorang maharaja yang bodoh mengeluh karena jalan yang kasar
membuat kakinya sakit. Maka ia memerintahkan agar seluruh
negeri diberi alas kulit sapi. Pegawai istana tertawa ketika raja menyampaikan perintah itu
kepadanya. "Yang Mulia, itu adalah suatu gagasan yang gila,"
serunya. "Mengapa harus mengeluarkan biaya yang sama sekali
tidak perlu? Potong saja dua alas kecil kulit sapi untuk
melindungi kaki Yang Mulia!" Itulah yang dikerjakan oleh maharaja. Dan demikianlah lahir
gagasan mengenai sepatu. Orang yang sudah mengalami penerangan batin tahu bahwa untuk
membuat dunia tempat yang bahagia. engkau perlu mengubah
hatimu - dan bukan dunia.
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)
Kukuh Akan Jasa Pahala
Alkisah jaman dulu kala ada seorang Pembina yang sangat rajin membina. Namun beliau sangat terikat akan jasa dan pahala. Setiap hari beliau dengan tulus hati membaca parita suci. Hingga begitu banyak jasa pahalanya. Sampai – sampai beliau memiliki ruang khusus untuk berdoa.
Suatu hari seperti biasa dengan khusyuk beliau membaca parita. Ketika asyik membaca parita, tiba – tiba masuklah seeokor babi ke ruangan berdoanya. Babi itu tampak ketakutan dan bersembunyi di belakang tiang. Tak lama masuklah dua orang pemuda, mereka kemudian menanyakan pada pembina “ Pak, apakah ada melihat seekor babi lewat sini? Tadi ketika hendak kami potong, babi tersebut melarikan diri.”
Mendengar penjelasan dua pemuda itu, pembina menjadi bimbang, bila ia memberitahukan keberadaan si babi, maka pasti babi akan dipotong. Tapi bila dia tidak beritahukan, berarti dia berbohong. Berbohong berarti melanggar salah satu dari 5 pantangan dalam agama Budha. Lalu setelah dipikir2, daripada dia melanggar pantangan, maka akhirnya ditunjukkan keberadaan babi kepada pemilik babi tersebut.
Namun betapa kagetnya pembina itu, karna ketika babi tersebut mau dibawa, matannya melotot ke arah pembina. Namun akhirnya babi tersebut dibawa, dan tentu saja akhirnya dibunuh.
Setelah babi tersebut mati, karna marah akhirnya babi melapor pada Yen Lo Wan (Raja Neraka) “Yen Lo Wang, saya mau menuntut, mengapa seorang pembina malah membiarkan saya dibunuh untuk dimakan. “ mendengar penuturan babi, Yen Lo Wang berpikir, ada benarnya juga yah.. Lalu dipanggilah pembina tersebut.
Pembina tentu saja membela diri. “ Saya hanya menjalankan pantangan koq. Saya kan tidak boleh berbohong.”
Yen Lo Wang tambah bingung, karna ada benarnya juga. Akhirnya Yen Lo Wan berkata” Kalau begitu sebaiknya kau berikan saja jasa pahala mu sebagian untuk si babi. Agar kelak dia dapat terlahir jadi manusia dan membina. Dengan demikian impaslah hutang piutang kalian.”
Pembina berpikir, mengumpulkan pahala sungguh tak gampang, masa mau diberikan pada si babi?
“ Begini saja Yen Lo Wang, bagaimana kalau saya dilahirkan jadi babi saja?” kata pembina
“ Baiklah, ini kamu yang minta yah, kelak jangan salahkan saya.” ujar Yen Lo Wang.
Akhirnya pembina diaturkan untuk lahir sebagai babi. Namun jasa pahalanya tidak hangus. Pemilik babi kemudian melihat babinya begitu bagus dan bersinar, malah disayang – sayang dan diberikan makan yang banyak. Bukannya dipotong malah dijadikan pejantan. Pembina yang telah menjelma jadi babi menjadi risau. Bila tidak dipotong – potong, kapan dia bisa terlahir kembali jadi manusia? Lalu pembina memikirkan satu cara. Karna selama jadi babi kerjanya cuma makan tidur, tumbuh menjadi babi yang gendut dan montok. Dilihatnya ada tembok, niatnya menabrak tembok hingga mati.
Ternyata, karna montok dan kuatnya badan babi ini, bukannya merubuhkan tembok dan mati, malah mendorong tembok ke arah sebaliknya dan akhirnya membunuh beberapa ekor ayam dibelakang tembok. Tentu saja ayam tidak terima di bunuh babi dengan cara begitu, mengadulah mereka ke Yen Lo Wang. Sekali lagi pembina enggan melimpahkan pahalanya kepada para ayam, maka meminta biar dilahirkan saja jadi ayam, agar dapat melunasi karmanya.Tetapi apa yang terjadi? Kita tahu, makanan ayam adalah cacing, dan binatang kecil lainnya. Hmm...
lagi – lagi pembina diadukan para cacing ke Yen Lo Wang. Dan lagi – lagi pembina enggan melimpahkan jasanya pada para cacing. Malah meminta dilahirkan menjadi cacing. Yen Lo Wang juga tak ada pilihan lain, akhirnya menitiskan pembina tersebut menjadi cacing.. Hidup sebagai cacing tentu memakan mahluk hidup yang lebih kecil, yaitu semut.
Bila sesosok roh dilahirkan menjadi semut, rohnya terbagi menjadi beratus – ratus bagian. Maka bila kita lihat semut, mereka selalu kompak dan berjalan berombongan. Karena pada dasarnya mereka adalah satu kesatuan roh. Menjadi semut susah untuk direinkarnasikan menjadi tubuh manusia lagi. Karna harus menunggu semua pecahan rohnya meninggal dan bersatu.
Namun demikian pembina tersebut masih enggan melepas jasa pahalanya dan rela dititiskan menjadi ratusan semut kecil. Tetapi meskipun beliau telah dilahirkan menjadi semut, tetap beliau membina diri.
Tak lupa setiap hari kumpulan semut ini berkumpul dan membaca parita beramai – ramai sehingga mengeluarkan sekumpulan kecil cahaya yang indah.
Suatu hari Bodhidharma melewati tempat dimana sekumpulan kecil semut tersebut sedang membaca parita. Dilihatnya seberkas sinar keluar dari tubuh semut – semut tersebut. Dengan mata saktinya beliau melihat ada apa sebenarnya. Ternyata diketahui bahwa semut ini dulunya adalah seorang pembina, namun karna kukuh akan pahalanya hingga jatuh ke jalur reinkarnasi semut.
Maka Bodhidharma mendekati semut – semut tersebut dan berkata” Diri mu terlalu kukuh, tidak mau melepaskan sedikit saja jasa pahala mu untuk melunasi hutang karma. Malahan rela dititiskan menjadi mahluk paling kecil. Tahukah kau, bila menjadi semut sangat susah dilahirkan lagi jadi manusia. Begini saja, saya limpahkan sebagian jasa pahala saya agar kamu bisa dilahirkan lagi jadi manusia.”
Terikat pada apa jasa pahala tidak akan menjadikan anda seorang dewa. Melimpahkan sebagian jasa pahala anda juga tidak akan menjerumuskan anda ke jalur reinkarnasi yang lebih buruk.
Rabu, 17 Agustus 2011
RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA//SAKYAMONI (BAGIAN 5)

Bertapa di hutan Uruvela
Dari tepi sungai Anoma Pangeran pergi ke

kebun mangga di Anupiya. Setelah 7 hari diam di Anupi
ya, Pangeran pada suatu hari berjalan ke arah Rajagaha untuk mulai dengan meminta-minta mkana kepada penduduk. Kedatangan Pangeran di Rajagaha
ternyata mendapat perhatian dari seorang pembantu Raja Bimbisara y
ang terus mengikutinya sampai di Pandavapabbt, tempat
Pangeran Beristirahat untu
k makan dari hasil p
erj
alanan kelilingnya. Raja Bimbisara dilaporkan tentang kedatangan seorang pertapa yang paras mukanya kelihatan agung dan sekarang sedang beristirahat di Pandavapabbata.Dan Raja Bimbisara menemui pertapa Siddhattha(Pangeran).Raja Bimbisara menanyakan kepada Pendeta Siddhatta,Apakah ada berselisihpaham dengan Ayahmu
?dan tinggal sama dengan aku.Pendeta siddhatta menjawab,"bukan,Aku sangat mencintai orangtuaku,istriku,anakku,anda sendiri dan kepada semua orang.Aku hendak mencari obat untuk menghentikan usia,tua,sakit,dan mati.Karena itu aku menjadi pertapa".Raja bimbisara mengatakan"Kalau
tawaranku tidak terima, yah apa boleh buat.Tetapi Anda harus mengunjungi Rajagaha apabila
menemukan obat tersebut".Pangeran menjawab ." baiklah,Baginda.Aku berjanji". Dari Rajagaha pertapa Siddhattha meneruskan perjalanannya dan tiba dekat tempat pertapaan Alara-Kalama. Ditempat ini Pertapa Siddhattha/pertapa Gotama.Dan berguru dengan Alara-Kalama.Ditempat ini Pertapa Gotam

a diajarkan cara bermeditasi,dan pengertian tentang hukum Kamma dan TUmimbal lahir.Tapi Pertapa Gotama.pengetahuan tentang sebab musabab dari kelahiran dan bagaimana mengakhiri usia,tua, sakit, dan mati.Belum terjawab.Maka Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya.Dan berguru dengan Uddaka-Ramaputta yang pada zaman itu terkenal sebagai pertapa yang pandai.Dari Uddaka-Ramaputta pertapa Gotama mendapat pelajaran tentang cara bermeditasi yang paling tinggi sehingga mencapai keadaan "Bukan-Pencerahan Pun Bukan Bukan-Pencerahan". Karena dalam waktu singkat telah memahami semua pelajaran dari Udakka-Ramaputta, maka gurunya minta agar terus berdiam ditempat tersebut unutk bersama-sama membina murid-muridnya yang banyak sekali.Tetapi Pertapa blom puas,sebab belum menemukan jawaban tentang mengakhiri usia,tua,sakit,dan mati.Selanjutnya Pertapa pergi ke Senanigama di Uruvela dan ditempat inilah pertapa Gotama bersama-sama dengan 5 orang pertapa lainnya(Bhaddiya,Vappa,Mahanama,Assaji dan Kondanna).Berlatih dalam berbagai cara penyiksaan diri,misalnya:menjemur diri diterik matahari pada sing hari,dan pada waktu tengah malam berendam disungai untuk waktu yang lama, dan juga merapatkan giginya dan menekan kuat-kuat langit-langit mulutnya sehingga keringat mengucur keluar dari ketiak-ketiaknya.Setelah berusaha beberapa lama dan melihat bahwa usaha ini tidak membawanya ke Penerangan Agung ia berhenti dan mencoba yang lain.Sampai-sampai menahan napas.sehingga mengeluarkan suara mendesis mengerikan keluar melalui lubang telinga.Kemudian timbul sakit yang hebat di kepala dan di perut disusul dengan panas yang menjalar ke seluruh tubuh.Dengan sakit yang begitu,agar batinnya jangan melekat, selalu waspada, tenang dan teguh serta ulet dalam usahanya.Tapi tidak berhasil juga,mencoba dengan cara yang lainnya.Selanjutnya ia berpuasa dan tidak makan apa-apa sampai berhari-hari/mengurangi makannya sedikit demi sedikit sampai makan hanya beberapa butir nasi satu hari.Sehingga menyebabkan kesehatan memburuk dan badannya kurus sekali.Warna kulitnya juga berubah menjadi hitam dan rambutnya banyak yang rontok.Kalau berdiri tidak bisa diam karena kakinya gemetaran.Seperti cara-cara yang terdahulu ia kemudian melihat,cara ini tidak membawa Penerangan Agung.Secara tiba-tiba timbul dalam batinnya 3 buah perumpamaan yang sebelumnya tak pernah berpikir.(BERSAMBUNG....)
Langganan:
Postingan (Atom)










