Suatu kali dalam kisah hidupnya,, Budha Sakyamoni ingin melintasi satu desa nelayan yang penduduknya rata - rata bertabiat buruk dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Dengan kemampuannya beliau menghitung - hitung bahwa jodoh di desa ini sudah matang, maka harus segera dilintasi.
Sesampainya di desa tersebut Buddha Sakyamoni duduk bersila dibawah pohon, penduduk disana penasaran melihat seorang berkebajikan duduk di bawah pohon, sepertinya hendak membabarkan dharma. Lalu mereka pun berbondong - bondong duduk disana mendengarkan dharma sang Buddha.
Sang Buddha mulai membabarkan dharma, beliau menceritakan tentang lima pantangan dan lain sebagainya. Tapi kelihatannya seluruh penduduk desa ini tidak tertarik dengan dharma yang dibabarkan san Budha. Sang Buddha hanya duduk tenang berdiam.
Tak lama kemudian tiba - tiba dari jauh muncullah seorang pemuda berlari dengan kencangnya menerobos sungai, dari kampung seberang berlari ke arah sang Buddha. Sesampai disana langsung bersujud dengan khusyuknya.
Semua warga desa itu begitu terheran - heran, betapa saktinya anak muda ini. Bagaimana mungkin dia bisa melewati sungai begitu cepat dari desa seberang sampai kesini. Ilmu apa yang dipelajarinya? pastilah desa seberang punya guru sakti.
Ternyata setelah ditanya - tanya, pemuda tersebut dengan entengnya menjawab " Saya tidak punya kesaktian apa pun, sebenarnya tadi saya mendengar orang dipinggir sungai mengatakan bahwa ada Buddha hendak membabarkan dharma di desa seberang, lalu saya bertanya, bagaimana caranya saya sampai kesana? lalu dia mengatakan seberangi saja sungai ini, lari saja kesana. Maka saya pun mengikuti petunjuknya tanpa pikir panjang."
Ternyata pria tersebut begitu polos , saking bersemangatnya sampai - sampai dia lupa bahwa yang ia lalui adalah sebuah sungai. Tapi kekuatan pikirannya yang bersemangat ingin mendengar dharma justru membawa dia sampai kedepan Sang Buddha.
Mendengar kejadian ini,, penduduk desa menjadi terharu , orang dari seberang saja sampai begitu niat dan semangat mendengar dharma Budda. Akhrinya satu desa itu pun terlintasi dan meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan.
Minggu, 27 Mei 2012
Sabtu, 19 Mei 2012
Menegakkan cita - cita dan moral
Jaman dahulu kala, bertemanlah dua orang biksu. Biksu pertama dahulu adalah orang kaya, biksu yang ke dua adalah orang miskin. Kedua biksu ini sama - sama berjanji untuk mengambil kitab suci di Nan Hai.
Biksu miskin : " Kapan kamu akan
mulai untuk mencari kitab suci?"
Biksu kaya : " Nanti, setelah saya selesai
melakukan persiapan.
Lalu kamu sendiri, kapan
akan memulai perjalanan?"
Biksu miskin : " Sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hah... kamu sudah mau berangkat??
memangnya sudah punya persiapan apa?"
Biksu miskin : " Dengan mangkuk tua dan jubah ini,
sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hahahaha..... Hanya dengan bermodalkan jubah
dan mangkuk kamu mau berangkat?
Baiklah... hati - hati dijalan ya.. "
Demikianlah mereka berpisah untuk menjalankan kehidupan masing - masing. Biksu miskin menuju Nan Hai untuk mencari kitab suci. Biksu kaya masih melakukan persiapan untuk ke Nan Hai.
Jelang dua tahun kemudian. biksu miskin kembali bertemu dengan biksu kaya. Biksu miskin telah kembali dari Nan Hai dalam perjalanannya mencari kitab suci. Sedangkan biksu kaya masih melakukan persiapannya.
Yen Huei adalah salah satu murid Kong Hu Cu yang paling miskin. Walaupun kehidupannya begitu miskin, namun tidak mengurangi cita - citanya yang luhur. Oleh karna itu beliau sangat terkenal. Suatu hari Ce Lu, murid Kong Hu Cu yang kaya, ingin menguji Yen Huei, pada tengah malam meletakkan sebongkah emas didepan pintu rumah Yen Huei lalu menempelkan secarik kertas diatasnya bertuliskan " Tuhan mengirimkan harta ini untuk orang yang baik."
Pagi hari ketika Yen Huei membuka pintu dan melihatnya kemudian membalas dengan menuliskan secarik kertas " Harta yang tidak jelas asal usulnya tidak akan merubah orang miskin menjadi kaya."
Beliau kemudian meletakkannya kembali ketempatnya. Ce Lu melihat ini akhirnya mengakui Kebajikan Yen Huei.
Manusia hidup di dunia, tidak perduli miskin ataupun kaya, bila dapat menegakkan cita - cita dan moral, melangkah kemanapun akan ada tempat untuk dia bersinggah. Orang yang berhasil adalah orang yang tetap mencoba bahkan ketika dia telah berkali - kali gagal.
Biksu miskin : " Kapan kamu akan
mulai untuk mencari kitab suci?"
Biksu kaya : " Nanti, setelah saya selesai
melakukan persiapan.
Lalu kamu sendiri, kapan
akan memulai perjalanan?"
Biksu miskin : " Sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hah... kamu sudah mau berangkat??
memangnya sudah punya persiapan apa?"
Biksu miskin : " Dengan mangkuk tua dan jubah ini,
sekarang juga saya akan berangkat."
Biksu kaya : " Hahahaha..... Hanya dengan bermodalkan jubah
dan mangkuk kamu mau berangkat?
Baiklah... hati - hati dijalan ya.. "
Demikianlah mereka berpisah untuk menjalankan kehidupan masing - masing. Biksu miskin menuju Nan Hai untuk mencari kitab suci. Biksu kaya masih melakukan persiapan untuk ke Nan Hai.
Jelang dua tahun kemudian. biksu miskin kembali bertemu dengan biksu kaya. Biksu miskin telah kembali dari Nan Hai dalam perjalanannya mencari kitab suci. Sedangkan biksu kaya masih melakukan persiapannya.
Pagi hari ketika Yen Huei membuka pintu dan melihatnya kemudian membalas dengan menuliskan secarik kertas " Harta yang tidak jelas asal usulnya tidak akan merubah orang miskin menjadi kaya."
Beliau kemudian meletakkannya kembali ketempatnya. Ce Lu melihat ini akhirnya mengakui Kebajikan Yen Huei.
Manusia hidup di dunia, tidak perduli miskin ataupun kaya, bila dapat menegakkan cita - cita dan moral, melangkah kemanapun akan ada tempat untuk dia bersinggah. Orang yang berhasil adalah orang yang tetap mencoba bahkan ketika dia telah berkali - kali gagal.
Sabtu, 14 April 2012
**MEMBINA MORAL KEBAJIKAN**
Penulis dari Yunani yang bernama Plutarch mengatakan : " Moral kebenaran akan selalu eksis, tetapi kekayaan setiap hari berganti tuan."
Contohnya: uang adalah alat pembayaran yang bergerak , datang dan pergi dalam kehidupan. Majalah keuangan setiap tahunnya pasti akan meneliti siapa orang terkaya didunia, dan urutan namanya selalu berubah-ubah. Di sini jelas membuktikan bahwa kekayaan selalu berganti tuan.
Pengunaan kata "TUAN" di sini sangatlah bagus, ia menandakan bahwa peran harta adalah sebagai budak, seharusnya melayani tuannya. Tetapi ada orang justru terbalik , jelas- jelas memiliki kekayaan, tetapi rela untuk menjadi budak penjaga kekayaan,
Sementara kita membahas kegunaan uang, dalam status sebagai Tuan, apa yang seharusnya kita kejar? Jawabannya adalah kepribadian moral dan pembinaan. Untuk menuju target ini, harus dimulai dari kebiasaan dalam kehidupan.
Seorang filsur Inggris bernama John Locke mengatakan, " Sopan santun adalah hal penting pertama, yang harus dibina secara ekstra hati-hati dan dijadikan sebagai kebiasaan bagi anak muda". Semuanya dimulai dari sopan santun , mulai dari sikap yang baik terhadap orang lain.
Sopan santun berasal dari proses belajar, memerlukan kerjasama dengan kesungguhan perasaan dalam hati, misalnya rasa hormat, rendah hati, dan sebagainya. Seseorang yang memiliki sopan santun tidak hanya bisa mengurangi kesulitan dalam hubungan antar sesama, bahkan dari sini dapat menampilkan kepribadian yang lebih tinggi.
Dalam proses perkembangan, apakah yang menjadi kunci pembentukkan moral dari orang yang mandiri? Yaitu MENGUBAH YANG PASIF MENJADI INISIATIF.Mengubah kelakuan pasif (yang sudah ditetapkan orang lain) menjadi Inisiatif (pilihan sendiri). Dengan begitu kehidupan ini seketika akan menjadi cemerlang . Beethoven -Ludwig Van, 1770-1817, komposer Jerman yang terkenal) mengatakan: "Yang menjadikan orang merasa BAHAGIA adalah prilaku moral, bukanlah uang. {^____________^}
Kamis, 12 April 2012
Faktor Keturunan
Nona Li adalah seorang perawat bersalin di rumah sakit pemerintah, setiap hari membantu persalinan, setelah bekerja bertahun - tahun segalanya menjadi terlatih dan lancar.
Suatu hari dia bekerja seperti biasanya, membantu persalinan seorang bayi laki - laki yang kuat. Dia dengan santai mengangkat dua kaki bayi tersebut dan bayi pun menangis, kemudian memukul sekali pantat bayi tersebut dan bayi pun menangis. Kemudian dimasukkan ke dalam bak cuci untuk membersihkan darah kotor. Dia memolesi dengan sabun bayi, merendam dengan air hangat. Gerakannya sangat cepat dan lincah, tidak sampai 15 menit ia memakaikan sarung tangan untuk bayi tersebut dan dibungkus dengan kain untuk di berikan kepada ibunya. Pada saat ini ibu melihat bayinya langsung lupa penderitaannya tadi. Rasa hangat menembus hati sambil menggendong buah hatinya, sungguh sangat gembira.
Setelah Nona Li mengembalikan bayi kepada ibunya, dia membereskan semua peralatan dan berjalan ke depan cermin. Dengan kedua tangan merapikan rambut, tiba - tiba terkejut dan menemukan cincin berlian di jari manis tangan kanannya hilang. "Kapan kehilangan??" Dia mencoba mengingat kembali, tadi ketika masuk kedalam ruang bersalin masih memakainya, pasti hilang sewaktu memandikan bayi. Kemudian dia buru - buru pergi ke kamar mandi dan mencari ke segala tempat, tetapi tidak dapat menemukan. "Gawat, itu pasti penyedot air otomatis bak mandi, sewaktu membuang air kotor jatuh ke bak limbah. Harus bagaimana ?" Dia cemas hingga menghentakkan kakinya dan hampir menangis. Rupanya cincin berlian itu adalah pemberian dari tunangannya dihadapan orang tuanya sewaktu bertunangan satu bulan lalu. Selain harganya tinggi, dia juga telah memenangkannya dari dokter muda, tampan dan kaya bernama Mu Cao, sungguh tidak mudah. Kini cincin yang merupakan simbol kemenangan pun telah hilang. Harus bagaimana menjelaskannya? Bagaikan seekor lalat yang kehilangan kepala sembarang menabrak. Sebentar ke kamar mandi dan sebentar berlari ke ruang bersalin. Boleh dibilang setiap tempat telah dicarinya.
Disaat seseorang cemas hingga menjadi kacau, akan kehilangan kendali, menjadi kacau dan tidak bisa berpikir, umumnya disebut dengan istilah " Bo Tao Xin/ dewa tanpa kepala". Tapi nona Li pernah mendapatkan pelatihan psikologis, dalam kondisi kritis hanya berusaha untuk tenang barulah timbul kebijaksanaan. Jadi dia duduk untuk menenangkan diri dan tiba - tiba tercerahkan. Kemudian ia pergi ke ruang bersalin, membuka pintu dan berjalan ke dalam. Ia mendekati bayi yang baru dilahirkan tadi, membuka kain pembungkusnya, bahkan sarung tangannya dan sarung kaki semua dilepaskan.
Gerakan tiba - tiba membuat ibu bayi tersebut kaget dan bingung, sedangkan bayi kecil tersebut tersenyum samar, tetapi juga sepertinya menertawakan. Dia tidak menghiraukan segalanya, tumpukan kain di obrak abrik, kemudian ia kembali menjadi putus asa. Dalam keadaan putus asa, dia tiba- tiba teringat , sewaktu ia memakaikan sabun ke kepala bayi tersebut, tangan - tangan kecil bayi itu nakal sembarang menarik. Dengan demikian membuka genggaman bayi tersebut dan menemukan cincin berkilau ditangannya. Nona Li menjadi puas, dalam hati ingin menampar wajah pencuri kecil yang baru lahir tadi, tapi bisa menemukan cincin berlian juga sudah merasa puas.
Hal ini tadinya sampai disini saja, tetapi nona Li yang pintar pergi ke bagian pendaftaran, memeriksa riwayat orang tua bayi tersebut. Rupanya orang tua bayi tersebut tidak mempunyai pekerjaan tetap, masi sangat muda , ayahnya baru berusia 19th, ibunya 20th, keduanya adalah pencopet, sehingga anak yang baru dilahirkan sudah bisa menjadi pencuri.
Sumber : Buku Kisah Nyata Hukum Karma Jilid 2
Suatu hari dia bekerja seperti biasanya, membantu persalinan seorang bayi laki - laki yang kuat. Dia dengan santai mengangkat dua kaki bayi tersebut dan bayi pun menangis, kemudian memukul sekali pantat bayi tersebut dan bayi pun menangis. Kemudian dimasukkan ke dalam bak cuci untuk membersihkan darah kotor. Dia memolesi dengan sabun bayi, merendam dengan air hangat. Gerakannya sangat cepat dan lincah, tidak sampai 15 menit ia memakaikan sarung tangan untuk bayi tersebut dan dibungkus dengan kain untuk di berikan kepada ibunya. Pada saat ini ibu melihat bayinya langsung lupa penderitaannya tadi. Rasa hangat menembus hati sambil menggendong buah hatinya, sungguh sangat gembira.
Setelah Nona Li mengembalikan bayi kepada ibunya, dia membereskan semua peralatan dan berjalan ke depan cermin. Dengan kedua tangan merapikan rambut, tiba - tiba terkejut dan menemukan cincin berlian di jari manis tangan kanannya hilang. "Kapan kehilangan??" Dia mencoba mengingat kembali, tadi ketika masuk kedalam ruang bersalin masih memakainya, pasti hilang sewaktu memandikan bayi. Kemudian dia buru - buru pergi ke kamar mandi dan mencari ke segala tempat, tetapi tidak dapat menemukan. "Gawat, itu pasti penyedot air otomatis bak mandi, sewaktu membuang air kotor jatuh ke bak limbah. Harus bagaimana ?" Dia cemas hingga menghentakkan kakinya dan hampir menangis. Rupanya cincin berlian itu adalah pemberian dari tunangannya dihadapan orang tuanya sewaktu bertunangan satu bulan lalu. Selain harganya tinggi, dia juga telah memenangkannya dari dokter muda, tampan dan kaya bernama Mu Cao, sungguh tidak mudah. Kini cincin yang merupakan simbol kemenangan pun telah hilang. Harus bagaimana menjelaskannya? Bagaikan seekor lalat yang kehilangan kepala sembarang menabrak. Sebentar ke kamar mandi dan sebentar berlari ke ruang bersalin. Boleh dibilang setiap tempat telah dicarinya.
Disaat seseorang cemas hingga menjadi kacau, akan kehilangan kendali, menjadi kacau dan tidak bisa berpikir, umumnya disebut dengan istilah " Bo Tao Xin/ dewa tanpa kepala". Tapi nona Li pernah mendapatkan pelatihan psikologis, dalam kondisi kritis hanya berusaha untuk tenang barulah timbul kebijaksanaan. Jadi dia duduk untuk menenangkan diri dan tiba - tiba tercerahkan. Kemudian ia pergi ke ruang bersalin, membuka pintu dan berjalan ke dalam. Ia mendekati bayi yang baru dilahirkan tadi, membuka kain pembungkusnya, bahkan sarung tangannya dan sarung kaki semua dilepaskan.
Gerakan tiba - tiba membuat ibu bayi tersebut kaget dan bingung, sedangkan bayi kecil tersebut tersenyum samar, tetapi juga sepertinya menertawakan. Dia tidak menghiraukan segalanya, tumpukan kain di obrak abrik, kemudian ia kembali menjadi putus asa. Dalam keadaan putus asa, dia tiba- tiba teringat , sewaktu ia memakaikan sabun ke kepala bayi tersebut, tangan - tangan kecil bayi itu nakal sembarang menarik. Dengan demikian membuka genggaman bayi tersebut dan menemukan cincin berkilau ditangannya. Nona Li menjadi puas, dalam hati ingin menampar wajah pencuri kecil yang baru lahir tadi, tapi bisa menemukan cincin berlian juga sudah merasa puas.
Hal ini tadinya sampai disini saja, tetapi nona Li yang pintar pergi ke bagian pendaftaran, memeriksa riwayat orang tua bayi tersebut. Rupanya orang tua bayi tersebut tidak mempunyai pekerjaan tetap, masi sangat muda , ayahnya baru berusia 19th, ibunya 20th, keduanya adalah pencopet, sehingga anak yang baru dilahirkan sudah bisa menjadi pencuri.
Sumber : Buku Kisah Nyata Hukum Karma Jilid 2
Minggu, 01 April 2012
**MEMAHAMI MAKNA KEHIDUPAN**
Filsur Inggris yang bernama Francis Bacon(培根 ) mengatakan: " Kita seharusnya jangan seperti semut yang mengumpulkan makanan. Dan juga jangan seperti laba-laba yang hanya mengeluarkan jaring dari perutnya, tetapi harus seperti lebah yang setelah mengumpulkan sari bunga kemudian mencernanya, barulah bisa menghasilkan madu yang harum dan manis."
Ketika kita memamerkan
"pengetahuan jadi" ( yang diperoleh dari pengetahuan yang sudah ada ) kepada orang lain, itu sama halnya dengan semut yang berusaha membuktikan rajinnya mereka dengan menunjukkan stok makanannya. Dan di saat kita menceritakan pengalaman dan pengetahuan pribadi, mengira bahwa kehidupan hanya seperti itu saja, maka sama seperti laba-laba yang hanya bisa merajut jaring kecil saja. Dan pertumbuhan batin sesungguhnya harusnya seperti lebah yang mencerna pengetahuan yang diperoleh membentuknya menjadi kearifan diri sendiri.
Penulis tragedi dari Yunani yang bernama Aeschylus (愛其奇勍土 ) mengatakan: " Dewalah yang selalu membimbing manusia menuju ke jalan yang penuh kearifan. Karena dia telah menjadikan hukum alam yang akan berlanjut selamanya, kearifan diperoleh dengan sendirinya dalam penderitaan dan kesusahan. " Kalau hanya menuntut pengetahuan. belumlah layak disebut kearifan, masih harus melalui berbagai cobaan dalam kehidupan. Pintar tidak termasuk dalam kearifan. Tahu bagaimana caranya mempergunakan kepintaran dan pengetahuan dengan benar barulah disebut Kearifan Sejati.
Filsur Roma yang bernama Marcus Tullius Cicero (西齊羅) mengatakan:
" Orang yang berkearifan jika tidak dapat membuat dirinya

memperoleh manfaat dari kearifannya, maka kearifannya sama dengan nol. " Mendapatkan manfaat disini adalah memperoleh kebahagiaan karena memperkaya kehidupannya dengan pengetahuan yang solid, biarpun ia menghadapi nasib dimana ia tidak bisa memilih, tidak berdaya, tidak tahu apa yang harus dilakukan dia masih dapat mengatur suasana hatinya untuk menghadapi segala kesulitan. Bahkan bisa menciptakan kebahagiaan dalam kesusahan tanpa terpengaruh sedikitpun. Dengan demikian manisnya madu lebah masih tidak sebanding dengan kearifan dan kesadaran batin.
Sabtu, 31 Maret 2012
Nasihat Bijak Cu Ke Liang
Cu Ke Liang atau sering dipanggil Khung Ming, adalah penasihat raja pada masa Sam Kok jaman Dinasti Han. Cu Ke Liang pada awalnya tidak ikut berpolitik, namun dikarenakan setia pada negara, Cu Ke Liang turut membela negara. Cu Ke Liang terkenal karena kepintaran, strategi perang, keahlian dalam melihat masa depan dan kebijaksanaannya.
Pernah di satu kisah di ceritakan, meskipun Cu Ke Liang tahu bahwa Dinasti Han akan berakhir, namun tetap dengan setia dan sekuat tenaga mempertahankan sampai runtuhnya Dinasti Han.
Cu Ke Liang selain terkenal karena kepintarannya, juga terkenal karena pribadinya yang tenang dan bijak, dalam melakukan hal apapun dan mengambil keputusan, beliau tidak sembrono. Cu Ke Liang meninggalkan beberapa nasihat hidup untuk anak cucunya yang belakangan bukan hanya dijadikan pedoman hidup bagi anak cucunya, melainkan khalayak ramai yang berniat mempelajari kebenaran.
1. Menjaga hati dan sikap, setiap saat berintrospeksi diri atas pemikiran dan perilaku.
2. Harus mempunyai cita-cita yang tinggi dan masa depan.
Jangan menitik beratkan kepada harta duniawi.
Bersekolah/memiliki pendidikan bukan demi kedudukan dan kekayaan. Tetapi adalah untuk mendapatkan kebenaran.
3. Belajarlah penuh dengan ketenangan hati dan selalu ada keinginan untuk terus belajar.
4. Kemalasan adalah kegagalan untuk mendapatkan yang lebih baik.
Rajinlah belajar, karena waktu begitu cepat berlalu. Jangan sampai menyesal kemudian karena tidak mendapatkan apa-apa seiring berlalunya waktu.
Demikian sedikit pembelajaran dari Cu Ke Liang, semoga bisa bermanfaat bagi kehidupan sehari - hari kita, keluarga, lingkungan dan anak cucu kita kelak.
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/24/nasehat-cu-ke-liang/
Pernah di satu kisah di ceritakan, meskipun Cu Ke Liang tahu bahwa Dinasti Han akan berakhir, namun tetap dengan setia dan sekuat tenaga mempertahankan sampai runtuhnya Dinasti Han.
Cu Ke Liang selain terkenal karena kepintarannya, juga terkenal karena pribadinya yang tenang dan bijak, dalam melakukan hal apapun dan mengambil keputusan, beliau tidak sembrono. Cu Ke Liang meninggalkan beberapa nasihat hidup untuk anak cucunya yang belakangan bukan hanya dijadikan pedoman hidup bagi anak cucunya, melainkan khalayak ramai yang berniat mempelajari kebenaran.
1. Menjaga hati dan sikap, setiap saat berintrospeksi diri atas pemikiran dan perilaku.
2. Harus mempunyai cita-cita yang tinggi dan masa depan.
Jangan menitik beratkan kepada harta duniawi.
Bersekolah/memiliki pendidikan bukan demi kedudukan dan kekayaan. Tetapi adalah untuk mendapatkan kebenaran.
3. Belajarlah penuh dengan ketenangan hati dan selalu ada keinginan untuk terus belajar.
4. Kemalasan adalah kegagalan untuk mendapatkan yang lebih baik.
Rajinlah belajar, karena waktu begitu cepat berlalu. Jangan sampai menyesal kemudian karena tidak mendapatkan apa-apa seiring berlalunya waktu.
Demikian sedikit pembelajaran dari Cu Ke Liang, semoga bisa bermanfaat bagi kehidupan sehari - hari kita, keluarga, lingkungan dan anak cucu kita kelak.
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/24/nasehat-cu-ke-liang/
Jumat, 30 Maret 2012
**SEHARI MENENANGKAN DIRI SELAMA 10 MENIT**(一天

Hati tenang barulah bisa berpikir hal-hal yang biasanya tidak terpikirkan, misalnya kehidupan manusia dan nilainya ,alam...
Mungkin kamu suka berbicara, berloncat-loncat ria, bergaul dengan teman dimana-dimana, semua ini sangatlah baik. Tetapi dapatkah kamu menenangkan diri selama 10 menit dalam sehari, duduk dengan tenang dan mata menatap jauh ke depan, atau istirahat dengan memejamkan mata, tenangkan pikiran , biarkan suasana hati dan perasaan kita kembali ke nol (menjadi kosong)? Mungkin kamu merasa menenangkan diri 10 menit dalam sehari mudah dilakukan, kalau begitu lakukanlah. Yang terpenting adalah kamu harus ingat melakukannya. jangan merasa bosan, dan dilakukan untuk jangka panjang. mungkin kamu merasa hal ini mudah, tetapi mengapa harus dilakukan? Karena manusia baik bekerja, bersenang-senang, ataupun berbicara selama seharian, tetap juga harus istirahat sebentar, biarpun hanya selama 10 menit. Atau lebih jauh lagi, seperti yang dikatakan oleh Cu Ke Liang (諸擖亮): " Tenang hasilnya akan jauh berbeda ." Tenangkan hati ini barulah akan bisa terpikirkan hal-hal yang biasa tidak terpikirkan, misalnya kehidupan manusia dan nilainya yang berarti, natural dan sebagainya.
Lagipula, sebaiknya seseorang bisa memelihara kemampuan untuk menenangkan hati kapan saja selama 10 menit . Meskipun mungkin kamu merasa hal ini sangatlah mudah, tetapi kalau dilakukan untuk jangka panjang tidaklah mudah. Seseorang psikolog Jerman yang bernama Offen helm pernah mengatakan: "Sehari menenangkan hati selama 10 menit adalah permulaan dari pemeliharaan kemampuan menahan diri".
Langganan:
Postingan (Atom)









