Senin, 12 Desember 2011

Visakha (Wanita Penyokong Terbesar Sang Buddha)

     Visakha adalah putri yang berbakti dan murah hati dari seorang jutawan. Ketika ia baru berumur 7 tahun, Sang Buddha mengunjungi tempat kelahirannya. Kakeknya, ketika mendengar adanya kunjungan Sang Buddha tersebut, menyuruh Visakha untuk keluar dan menyambut Sang Buddha. Meskipun ia masih amat muda, tetapi ia taat pada agama dan moral-etik. Dengan demikian, segera setelah mendengar uraian Dhamma dari Sang Buddha, ia mencapai tingkat Kesucian Pertama. Ketika ia berusia 15 tahun, beberapa orang brahmana yang melihatnya, berpikir bahwa ia akan menjadi istri yang ideal bagi tuannya yang bernama Punnavaddhana, putra seorang jutawan yang bernama Migara. 
     Vishakha memiliki 5 macam kecantikan seorang wanita - rambut yang indah, bentuk badan yang indah, struktur tulang yang bagus, kulit indah yang halus dan berwarna keemasan, serta tampak muda. Dengan demikian mereka membuat persiapan pernikahan Visakha dengan Punnavaddhana. Pada hari pernikahannya, ayahnya yang bijaksana memberinya beberapa nasihat yang dikelompokkan menjadi sepuluh, sebagai berikut :
    1. Seorang istri tidak boleh mencela suami dan mertuanya di depan orang lain.     Demikian juga kelemahan/kekurangan mereka ataupun pertengkaran rumah tangga     tidak boleh diceritakan kepada orang lain. 
    2. Seorang istri tidak seharusnya mendengarkan cerita-cerita dan laporan-laporan dari     rumah tangga orang lain.
    3. Barang-barang boleh dipinjamkan kepada mereka yang mengembalikannya.
    4. Barang-barang tidak boleh dipinjamkan kepada mereka yang tidak     mengembalikannya. 
    5. Sanak famili yang miskin dan teman-teman yang miskin harus ditolong meskipun     mereka tidak dapat membayar kembali. 
    6. Seorang istri harus duduk dengan anggun bila melihat mertua atau suaminya, ia harus     menghormati mereka dengan berdiri dari duduknya.
    7. Sebelum seorang istri makan, ia pertama-tama harus memastikan bahwa mertua dan     suaminya telah dilayani. Ia juga harus memastikan bahwa pelayan-pelayannya telah     diurus dengan baik.
    8. Sebelum pergi tidur seorang istri harus memeriksa bahwa semua pintu telah ditutup,     perabot rumah telah dirapikan, pelayan-pelayan telah melaksanakan tugas-tugas     mereka, dan mertua telah pergi tidur. Sebagai aturannya, seorang istri harus bangun     pagi-pagi sekali dan jika tidak sakit, ia tidak boleh tidur siang. 
    9. Mertua dan suami harus diperlakukan dengan sangat hati-hati laksana api. 10. Mertua dan suami harus dihormati seperti layaknya menghormati dewa.
        Sejak Visakha berada di Savatthi, kota suaminya, dia baik dan murah hati kepada semua orang di kota itu sehingga semua orang mencintainya. Suatu hari, ayah mertuanya sedang makan bubur-nasi manis dari mangkuk emas ketika seorang bhikkhu mendatangi rumah itu untuk pindapata. Meskipun si ayah-mertua melihat bhikkhu tersebut, ia tetap meneruskan makannya seolah-olah ia tidak melihat bhikkhu tersebut.  Visakha dengan sopan berkata kepada bhikkhu tersebut” “Maafkan, Yang Mulia Bhante, ayah mertuaku sedang makan makanan-sisa”.     
     Sudah sejak lama ayah-mertua Visakha tidak senang kepadanya karena Visakha adalah pengikut setia dan pendukung Sang Buddha, sedangkan dia tidak. Dia lalu mencari kesempatan untuk membubarkan perkawinan anaknya dengan Visakha, tetapi perilaku Visakha tidak bercacat. Sekarang dia mendapatkan kesempatan itu. Karena salah paham terhadap kata-kata Visakha tersebut, dia mengira Visakha telah menghina keluarganya.    
      Dia memerintahkan Visakha untuk keluar dari rumah itu, tetapi Visakha mengingatkan dia akan permintaan ayahnya kepada 8 anggota keluarga. Ayah Visakha berkata kepada mereka, “Jika terdapat kesalahan pada putriku, selidiklah”.  Jutawan itu setuju dengan permintaan Visakha dan memanggil 8 anggota keluarga untuk datang dan memeriksa Visakha bersalah karena kekasaran ucapannya. Ketika mereka tiba, dia berkata kepada mereka, “Temukanlah kesalahannya dan usir dia dari rumah ini”.  Visakha membuktikan ketidak-bersalahannya dengan menerangkan sbb : “Tuan-tuan, ketika ayah mertuaku tidak memperdulikan bhikkhu yang manisnya, berarti dia tidak menambah kebajikan dalam kehidupannya yang sekarang. Dia hanya menikmati kebajikan-kebajikan dari perbuatan/kamma lampaunya. Apakah ini bukan seperti makan makanan-sisa?”     Ayah mertuanya harus mengakui bahwa Visakha tidak bersalah karena ucapannya itu. 
     Masih ada beberapa lagi kesalahpahaman setelah itu, tetapi Visakha selalu bisa menjelaskan hingga dia puas. Setelah kejadian-kejadian ini, ayah mertua Visakha menyadari kekeliruannya dan mengakui kebijaksanaan Visakha. Atas saran Visakha, dia mengundang Sang Buddha ke rumahnya untuk memberikan uraian Dhamma. Dengan mendengar uraian Dhamma itu, dia menjadi Sotapanna.    
      Dengan kebijaksanaan dan kesabaran, Visakha berhasil mengajak keluarga suaminya menajdi keluarga Buddhis yang bahagia. Visakha juga sangat dermawan dan suka menolong para bhikkhu. Ia membangun vihara Pubbarama dengan biaya yang sangat besar untuk kegunaan para bhikkhu. Visakha sangat gembira ketika Sang Buddha menggunakan 6 masa vassa Beliau di sana.  
       Dalam salah satu ceramah yang disampaikan kepada Visakha, Sang Buddha menguraikan tentang delapan kualitas pada diri seorang wanita yang dapat memelihara kesejahteraan dan kebahagiaan dirinya di dunia ini dan nanti; yaitu :  “Dalam hal ini, Visakha, seorang wanita itu melakukan pekerjaannya dengan baik, ia mengatur pelayan-pelayannya, ia menghormati suaminya, dan ia menjaga kekayaannya. Dalam hal ini, Visakha, seorang wanita itu memiliki keyakinan (saddha) di dalam Buddha, Dhamma, dan Sangha, kebajikan-moral (sila), kemurahan-hati (caga), dan kebijaksanaan (panna)”.    
     Dengan menjadi seorang wanita yang punya banyak bakat, ia memainkan peran penting di dalam berbagai kegiatan Sang Buddha dan para pengikutNya. Saat itu, ia diberi wewenang oleh Sang Buddha untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul di antara para bhikkhuni. Beberapa peraturan vinaya juga ditetapkan untuk para bhikkhuni ketika ia diminta untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Ia meninggal dunia dalam usia yang tua benar yaitu 120 tahun.
          Sumber : http://mitta.tripod.com/visakha.htm

Minggu, 11 Desember 2011

Tikus Sebenarnya Baik Hati dan Pemurah

Tikus identik dengan pengkhianat cinta. Namun sebenarnya, menurut para peneliti, mereka benar-benar baik dan murah hati.


Dalam sebuah penelitian, ilmuwan Universitas Chicago menempatkan tikus-tikus berpasangan sehingga mereka harus saling mengenal.
http://i800.photobucket.com/albums/yy286/cakefever/tr3/rat.png

Ketika kemudian satu tikus ditempatkan di tabung transparan dalam kandang, tikus kedua terlihat tertekan sampai berhasil membebaskan tikus yang pertama.

Yang mengherankan, tidak hanya membantu teman di kandang yang dalam kesulitan, mereka juga tanpa pamrih berbagi. Yang juga mengherankan, tikus betina terlihat lebih peduli daripada jantan.

Selama percobaan, para ilmuwan menemukan bahwa tikus yang berkeliaran gelisah melihat temannya terperangkap dan menurut para ilmuwan, tikus itu memperlihatkan bentuk sederhana dari empati.

Binatang yang bebas pergi lebih jauh, belajar bagaimana membuka pintu tabung, tanpa diajari, dan membebaskan pasangannya.


http://www.penyuluhpertanian.com/wp-content/uploads/2011/10/tikus.png

Hal ini, kata peneliti, merupakan bentuk yang lebih kompleks dari empati. Banyak tikus mengulangi pola itu, menurut laporan jurnal Science.

"Kami tidak melatih tikus-tikus ini dengan cara apa pun. Tikus ini belajar karena mereka termotivasi oleh sesuatu secara internal," kata Inbal Ben-Ami Bartal.

"Kami tidak mengajarkan mereka bagaimana membuka pintu. Sulit untuk membuka pintu, tapi mereka terus mencoba dan mencoba dan akhirnya berhasil."

Dalam penelitian lebih lanjut, tikus memiliki sedikit ketertarikan atau tidak tertarik melepaskan mainan boneka yang terjebak dalam tabung, tetapi mereka membebaskan tikus hidup, bahkan ketika tidak diizinkan untuk bermain dengan tikus itu setelah bebas.


http://static.inilah.com/data/berita/foto/1365532.jpg

Ini, kata para peneliti, menunjukkan bahwa motivasi tikus pembebas adalah untuk menghilangkan penderitaan hewan-hewan terperangkap.

Dalam percobaan terakhir, peneliti melihat sikap tikus ketika diberikan pilihan melakukan penyelamatan atau makan cokelat.

Hewan itu sering lebih memilih untuk menyelesaikan penyelamatan sebelum menyelipkan dan berbagi cokelat mereka dengan teman mereka.

"Itu sangat menarik. Menunjukkan kepada kita bahwa pada dasarnya membantu pasangan mereka setara dengan cokelat. Kami terkejut," kata Peggy Mason.

Hasil penelitian juga mengisyaratkan tikus betina lebih mungkin untuk melakukan upaya penyelamatan yang mungkin mencerminkan pentingnya empati dalam keibuan.

Tim peneliti mengatakan bahwa bertindak dari empati jelas bukanlah keunikan manusia saja dan menyarankan kita mungkin bisa belajar satu atau dua hal dari tikus yang rendah hati itu.

Profesor Mason mengatakan, "Ketika kita bertindak tanpa empati, kita bertindak melawan warisan biologis kita."

"Jika manusia mau mendengar dan bertindak pada warisan biologis mereka lebih sering, kita akan lebih baik."



Sumber : apakabardunia.com

Sabtu, 10 Desember 2011

Tinggal Satu Kata

Alkisah hiduplah seorang Raja yang begitu angkuh dan berkuasa. Begitu angkuhnya dia sehingga telah menaklukkan begitu banyak musuh. Keluarga dan bawahan semua takut padanya.

Suatu hari Raja meminta bawahannya untuk menciptakan sebuah senjata pamungkas. Sebuah alat yang bisa dipasangkan ke tubuh musuh tanpa ketahuan musuh tersebut. Dan bila musuh tersebut mengucapkan lebih dari tiga kata saja, maka dia akan meledak hancur berkeping - keping.

Setelah kerja keras berhari - hari dan berminggu - minggu akhirnya selesailah senjata pamungkas tersebut,, Lalu tibalah hari yang dinanti - nantikan. Hari uji coba alat tersebut.

Pagi harinya seperti biasa raja bangun dan berjalan - jalan di depan halaman istananya. Sambil dihirupnya udara pagi menanti laporan dari bawahannya yang ilmuwan tersebut.

Sambil berlari tergesa - gesa,, bawahannya menghampiri sang Raja, wajah nya kelihatan panik.

Bawahan : Mohon ampun paduka raja,
                 alat yang semalam telah hamba siapkan
                 untuk uji coba pagi ini,,
                 telah menghilang.

Raja        : Bagaimana bisa????

Bawahan : Karna barang itu kecil dan belum ada seorang
                 pun yang tahu bentuknya..
                 hamba khawatir seseorang  telah
                 dengan tidak sengaja menggunakannya..

Ketika Raja hendak menjawabnya... Bawahan tersebut segera menyuruh Raja untuk diam.

Bawahan : Paduka,, kancing yang anda kenakan di baju anda...
                 Itu adalah senjata pamungkas yang telah hamba ciptakan..
                 Tadi anda sudah mengucapkan 2 kata,,,
                 tinggal satu kata2 lagi yang tersisa..
                 Mohon paduka tidak berkata - kata lagi.
                 Tunggu hamba pikirkan cara melepaskan senjata tersebut.

Raja menjadi panik dan berusaha membuka kancing tersebut. Tiba - tiba datang istrinya dengan panik memegangi pipinya dan berkata " Suami ku.. gigi ku sakit sekali,, apa yang harus ku lakukan?? Raja hendak berkata - kata, tapi teringat pesan bawahannya,, Raja hanya bisa diam sementara istrinya menunggu jawaban. Tak lama datang dari arah gerbang seorang prajurit dengan tergopoh - gopoh. " Paduka,,, prajurit musuh sudah menyerang ke arah gerbang istana??"  Entah darimana datangnya seorang pelayan yang linglung menghampiri sang Raja... " Paduka... tadi menyuruh saya beli apa yah??"

Raja yang panik berusaha untuk tenang dan memikirkan satu kata yang tepat untuk semua pertanyaan. Akhirnya beliau berkata

" SIKATTTTTTTTTT "

Sumber : Majalah AMI

Adil Tidak Selalu Bijaksana

Salomo meminta kebijaksanaan dari Allah untuk menimbang segala perkara dan mampu bersikap sebagai raja yang adil bagi seluruh umat Israel. 


Salah satu kebijaksanaan Salomo digambarkan melalui kisah tentang dua orang perempuan yang memperebutkan seorang anak bayi (1 Raja-raja 3:16-28). 


Kedua perempuan itu mengaku sebagai ibu sang bayi tersebut. Salomo meminta diambilkan sebilah pedang dan memutuskan bahwa supaya adil, bayi itu harus dibelah dua, dan masing-masing perempuan itu akan mendapatkan setengah. 


Ibu sejati sang bayi memohon kepada Salomo agar bayi itu dibiarkan hidup, bahkan ia merelakan bayinya diserahkan kepada perempuan yang satunya, sementara ia tidak mendapatkan bayinya. Dengan cara itu Salomo berhasil menemukan ibu sejati bayi tersebut.


Seorang ibu rela melakukan apa saja untuk anaknya. Maka dari itu hendaknyalah kita sebagai anak, tidak menyia - nyiakan jerih payahnya.


Sumber : Wikipedia









Rabu, 07 Desember 2011

Bentuk Gajah

Alkisah, terdapatlah seorang Raja yang berkata kepada Menterinya : " Bawakan seekor gajah besar untuk diperlihatkan kepada orang buta. Penglihatan mereka pasti mengandalkan kedua tangannya." Tak berapa lama kemudian gajahpun dibawa datang. Para tuna netra benar2 meraba gajah itu dengan kedua belah tangan mereka. Tangan mereka terus meraba... meraba... Sebentar kemudian Sang Raja memanggil mereka, "Gajah yang kalian raba sebenarnya berbentuk apa?"

Mereka yang sempat memegang gading gajah maka ia menggambarkan bentuk gajah seperti lobak besar dan kasar. Yang satu lagi melukiskan bentuk gajah ibarat alat penampi beras karena ia meraba telinga gajah. Orang ketiga melukiskan gajah bagaikan batu penggiling beras, ternyata yang dia pegang adalah kaki gajah. Yang lain mengatakan gajah tak ubahnya seperti tempat tidur dan besar karena ia meraba bokong gajah. Orang kelima menuturkan bentuk gajah sebenarnya seperti kendi karena dia meraba perut gajah. Yang berikutnya menyentuh ekor gajah, maka digambarkan gajah itu seperti seutas tali. Singkatnya, masing2 mengeluarkan komentar mereka berdasarkan posisi gajah yang mereka raba. Apa yang mereka lukiskan merupakan bagian2 dari gajah tersebut.



Suatu tindakan keliru dan lari dari realitas yang ada bahkan kadang bisa memperumit permasalahan. Lihatlah ke dalam diri kita sendiri, apakah pikiran-perbuatan kita sudah benar??? Jawab saya : Saya belum benar, saya masih seperti si Buta yang meraba2 dunia ini, tapi saya terus meraba agar dapat menemukan KEBENARAN yang sejati.


Sumber : http://wihara.com/forum/zen/7183-si-buta-merabah-gajah-kisah-zen.html

Senin, 05 Desember 2011

Pintu Gerbang Luo Sheng

Pada suatu masa kegelapan, berserakanlah mayat - mayat di luar pintu gerbang Luo Sheng. Bayangan burung gagak dimana - mana dan tangisannya menambah kelam suasana. Saat malam tiba, tak ada yang berani berkeliaran disana.

Seorang pemuda menahan dingin dan lapar berjalan kaki sambil melamun disekitar gerbang Luo Sheng. Terpikir olehnya kejadian tadi siang . Atasannya memecatnya karna perdagangan yang sedang sulit. Pemuda tersebut kemudian berpikir " Jika terus - terusan seperti ini , saya akan mati kelaparan dan menjadi seperti tulang - tulang itu."

Pemuda tersebut begitu tertekan sehingga timbul didalam pikirannya untuk merampok. Lalu pemuda tersebut mulai membulatkan tekadnya untuk merampok " Untuk hidup, tak ada pilihan lain selain merampok." Lalu diambilnya sebilah pisau dan digenggamnya erat  - erat.

Meskipun ia tidak punya hati kejam, untuk selamat ia membajakan dirinya. Malam itu juga dia naik ke atas
benteng untuk mencari korban.. Dilihatnya seorang nenek - nenek sedang merunduk kearah sesosok mayat, lalu dia pun berpikir " Huh... hanya nenek tua yang sekurus monyet. Tak ada yang perlu kutakutkan kalau begitu."

Ketika dia mendekati nenek tersebut, pemuda tersebut sangat terkejut. karna dilihatnya nenek tersebut sedang mencuri rambut orang mati. serta merta ia memaki nenek itu " Sungguh kejam! berbuat serendah itu!"

Nenek : " Tenang dulu anak muda, saya hanya mengambil rambutnya. "
Pemuda : " Mereka mati cukup nelangsa,
                 mengapa masih mengganggu jasad nya??"
Nenek : " Mengambil rambut dari orang mati mungkin bukan perbuatan baik.
                Tapi mereka yang mati disini juga bukan orang baik - baik.
                Wanita ini misalnya, ia menjual ular seolah - olah menjual
                ikan asin.
                 Saya tidak menganggap apa yang dibuatnya jahat.
                 Bila tidak melakukannya ia akan mati.
                 Ia sungguh tak punya pilihan lain. Seperti ia,
                  jika saya tidak melakukan hal ini,
                saya juga akan kelaparan sampai mati.
                 Saya tak punya pilihan. Mohon ampuni saya."
Pemuda :" Terima kasih atas penjelasan mu. Keraguan ku hilang sudah.
                 Saya juga orang yang jika tidak melakukan ini
                  akan mati kelaparan.
                 Engkau juga tidak akan membenciku kan?
                  Berikan punya mu pada ku."

Serta merta pemuda menarik satu - satunya baju milik sang nenek. Sungguh perih perasaan hati nenek tua tersebut. Menangis meraung - raung ditinggal pemuda tersebut.


Sering kali untuk bisa bertahan hidup, orang melakukan perbuatan rendah. Tetapi lebih banyak lagi yang hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginannya melakukan berbagai jenis kejahatan.

Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran.







Kamis, 24 November 2011

Orang Paling Pandai DiDunia

Siapakah orang yang terpandai yang pernah hidup? Jika pertanyaan ini dilontarkan, pikiran yang terlintas di kepala kebanyakan orang adalah Albert Eisntein, Leonardo Da Vinci, Thomas Alfa Edison, John Stuart Mills, Isaac Newton, Mozart, atau sederetan nama terkenal lainnya.

Tapi jawabannya bukan mereka. Orang yang paling pandai yang pernah hidup bernama William James Sidis. Seorang Jahudi Rusia yang beremigrasi ke Amerika. Jika orang normal memiliki IQ 90-110, Albert Eistein sebagai prototype jenius memiliki IQ 160, Sidis memiliki IQ yang ‘out of scale’. Diperkirakan IQ-nya berkisar 250-300. Mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250 – 300?

Menurut ibunya, Sidis mulai berbicara pada usia 4 bulan dan membaca Koran pada usia 18 bulan. Pada usia 8 tahun ia mengajari dirinya sendiri bahasa Latin, Yunani,, Rusia, Prancis, Jerman, Ibrani, Armenia dan Turki. Ia akhirnya dapat menguasai 40 bahasa dan kabarnya ia bisa belajar bahasa dalam satu hari. Pada usia tiga tahun sudah bisa mengetik Menulis empat buku diantara usia empat dan delapan tahun, dua diantaranya mengenai antomi dan astronomy. Ia menyelesaikan SD dalam 7 bulan, Sekolah Menengah 6 minggu dan lulus Kedokteran Harvard dan MIT pada waktu berusia 11 tahun. Semuanya dengan Cumlaude. Dia juga kuliah di Fakultas Hukum Harvard.
Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Univ. Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.

Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun – sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis.

Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika – sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri.

Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat. Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa.

Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.



Sayangnya William Sidis meninggal pada usia 46 tahun karena stroke dan sejarah hampir tidak mencatat apa-apa tentang dia. Ia tidak punya peninggalan seperti jenius lainnya. Ia tidak memiliki apa-apa yang bisa disumbangkan bagi peradaban manusia padahal ia lahir di abad ke 20. Hidup dan potensinya sia-sia karena tidak ada keinginan untuk menyumbangkan sesuatu bagi kepentingan dunia.
Kepandaian tidak menentukan kontribusi dan pengaruh yang kita berikan bagi sesama. Dampak bagi umat manusia hanya datang dari keinginan atau desire untuk melakukan dan mengembangkan dan potensi yang kita miliki. Itulah yang menentukan tingginya puncak hidup seseorang.
·          Kebanyakan kita tidak dilahirkan sebagai orang jenius, namun kita adalah makhluk yang diciptakan sesuai dengan image Tuhan. Kepada kita telah diberikan kemampuan yang unik oleh Sang Pencipta. Tujuan Tuhan agar manusia bisa memuliakanNya dan menjadi penguasa atas ciptaanNya yang lain. Jangan sia-siakan potensi yang Tuhan sudah investasikan dalam hidup kita. Temukan dan kembangkan.


SOURCEhttp://en.wikipedia.org/wiki/William_James_Sidis
http://www.sidis.net/Sperling.htm
http://www.sidis.net/BioWilliamJamesSidis.htm
http://www.astrotheme.com/celestar/p...8W8Rs7p&info=1