Selasa, 22 November 2011

Menemukan Diri Sendiri

Terdapatlah seorang tabib perang yang ikut bersama prajurit ke medan perang. Ia bertugas mengobati dan merawat prajurit yang terluka. Setiap kali prajurit – prajurit itu  sembuh dari luka, mereka kembali ke medan tempur. Akibatnya mereka terluka lagi atau mati.
Setelah melihat scenario itu lagi dan lagi, ia akhirnya jatuh mental. “ Jika mereka ditakdirkan untuk mati, mengapa saya mesti merawat mereka? Jika obat saya bermanfaat, mengapa ia mesti pergi berperang dan mati?”
Ia tidak mengerti adakah manfaat baginya menjadi tabib perang. Dan ia begitu tertekan hingga ia tak mau mengobati orang lagi. Lalu ia pergi ke gunung untuk mencari guru Zen. Setelah tinggal beberapa bulan dengan sang guru, akhirnya ia mengerti masalah yang ia hadapi. Ia turun gunung dan menjadi tabib perang lagi. Ia bilang “ Itu karena saya seorang tabib.”

Renungan : Tidak mengidentifikasikan diri sendiri dengan sesuatu, atau menghubungkan sesuatu dengan ‘saya’, dan mengerti bahwa pendapat yang mengatakan ada suatu ‘saya’ yang berbeda dari benda lain adalah noda. Itulah kebijaksanaan sejati.

Sumber : buku Zen Membebaskan Pikiran







Minggu, 20 November 2011

Sakit Telinga

Seorang suami mengeluhkan kepada dokter, bahwa pendengaran istrinya kurang jelas.. Setelah dicek sang dokter menyatakan kalau telinga istrinya tidak bermasalah.. Dokter kemudian mengajarkan suatu cara agar suaminya bisa mengetes sendiri perihal telinga istrinya.

Setelah sampai dirumah, dilihatnya sang istri sedang memasak dan tidak memperhatikan suaminya dibelakan dia. Dari jarak 6 meter suaminya memanggil istrinya " Istri ku.. masak apa hari ini?"
Di tunggu lama sang istri tidak menyahut.. lalu sang suami mendekat hingga 5 meter. " Istri ku... masak apa hari ini?" Namun sang istri masih tetap diam.

Akhirnya si suami maju lagi sampai 4 meter dan kembali bertanya " Istriku... hari ini masak apa?" namun sang istri tetap tidak menoleh. Sang suami maju lagi  1 meter.. dan menanyakan hal yang sama. Tiba2  si istri membalikkan wajahnya dan berkata lantang " Kamu tuli ya?? Saya sudah jawab 3 kali, hari ini masak kambing guling !!!"

Sabtu, 19 November 2011

Apa Itu Kecerdasan ?

Menurut ceritanya, dulu harimau adalah mahluk yang hitam dan garang. Semua penghuni hutan lainnya takut padanya, termaksud manusia yang berdiam disekitarnya. Pada suatu hari setelah selesai memakan musang, harimau melihat ke sawah, dilihatnya ada seekor sapi yang sedang diduduki oleh petani untuk membajak sawah.


Harimau   : " Hai sapi, mengapa kau bodoh sekali mau saja diduduki oleh petani?"
Sapi         : " Mau bagaimana lagi, saya kan tidak punya kecerdasan."


Harimau menjadi bingung dan bertanya kepada petani,

Harimau   : " Petani, Apa itu kecerdasan?"
Petani       : " Wah... saya tidak membawa barang itu, saya tinggalkan dirumah."
Harimau   : " Kalau begitu  cepatlah kau pulang dan bawakan kecerdasan itu padaku!"

Petani      : " Tapi saya tidak percaya kepada mu, bagaimana saya tahu kalau kau tidak akan memakan sapi saya saat saya pulang nanti?

Harimau  : " Tidak akan."

Sebagai tanda bukti, petani kemudian mengikat harimau disebuah batang pohon dan petani pun berpaling pulang. Tak lama kemudian petani kembali lagi dengan kayu bakar dan segera meletakkannya di sekitar pohon tempat harimau diikat.  Segera saja petani menyalakan api dan membakar harimau. Harimau menjadi panik dan ketakutan lalu berhasil meloloskan diri dan berlari kedalam hutan. Namun akibatnya badannya menjadi belang. Sejak saat itulah badan harimau menjadi belang.

Petani     : " Saya tidak bisa menjelaskan apa itu kecerdasan, tapi saya dapat menunjukkannya. "

Kamis, 03 November 2011

Nelayan Yang Puas

Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil mengisap rokok.

"Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?" tanya usahawan itu.

"Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini," jawab nelayan.

"Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?" tanya usahawan.

"Untuk apa?" nelayan balas beitanya.

"Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak," jawabnya.

"Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal ... bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku."

"Selanjutnya aku mesti berbuat apa?" tanya si nelayan.

"Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup," kata si usahawan

"Menurut pendapatmu, sekarang Ini aku sedang berbuat apa?" kata si nelayan puas.

Lebih bijaksana menjaga kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada memupuk uang.

sumber : (Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Rabu, 02 November 2011

Rumah Sakit Jiwa

Ada seorang pasien rumah sakit jiwa. Suatu hari telah tiba masanya untuk keluar dari rumah sakit. Di dampingi perawatnya, dia di uji didepan puluhan dokter di rumah sakit tersebut. Salah satu dokter memintanya menceritakan kisah yang ia ketahui. Pasien tersebut kemudian bercerita..


" Ada sebuah rumah sakit jiwa. Pasiennya banyak sekali. Saking banyaknya, rumah sakit kekurangan tenaga perawat. Lalu dirundingkan sebuah rencana agar pasien tersebut ada yang memperhatikan. Maka disimpulkan satu keputusan. Mereka akan memilih satu pasien dari setiap lantai rumah sakit untuk menjadi kepala pasien yang kemudian akan membantu merawat pasien lainnya."

"Diadakanlah kompetisi pemilihan pasien terwaras disana. Ketika para dokter sampai ke lantai satu, salah satu dari mereka mengeluarkan buah apel, dan bertanya kepada seluruh pasien, " Adakah diantara kalian yang tahu,, benda apakah ini" salah satu pasien menjawab : saya tahu.. itu adalah apel. dokter kemudian berkata : benar ini adalah apel. Lalu bagaimana menggunakannya? pasien dengan polos menjawab.. ya dimakan dong. akhirnya dipilih lah dia menjadi ketua pasien lantai 1."

" Selanjutnya mereka pergi kelantai 2 dan mengeluarkan pisang, kejadian kembali berulang, seorang pasien mejawab itu adalah pisang, bagaimana memakannya? dikupas dulu kulitnya,, maka dipilihlah dia menjadi ketua lantai 2..."

Pasien ini melanjutkan ceritanya " Selanjutnya mereka ke lantai tiga.. dokter mengeluarkan sebuah alat musik.. entah apa namanya... cara mainnya ditiup dan di pegang dengan tangang.. tp saya lupa namanya.." Seorang dokter dengan lantang menjawab" Suling!"

Pasien tersebut bertepuk tangan... " Bagus.. kalau begitu kau jadi ketua lantai 3 ya... "









Senin, 31 Oktober 2011

Hikayat Kaisar Liang Hu Tie Memohon Pada Kakek Guru

Dulu ada satu biara yang memisahkan dua pintu, Timur dan barat. Biara timur dan barat masing - masing di pimpin oleh kepala biara yang berbeda. Didepan biara timur hidup seekor cacing. Cacing tersebut tiap hari dengar ceramah sehingga memiliki roh yang bagus.

Setiap pagi cacing tersebut membangunkan kepala biara timur. Kemudian kepala biara timur akan membangunkan muridnya. Begitulah setiap harinya biara timur tak pernah kesiangan untuk berdoa pagi.

Suatu hari murid dari biara barat bertanya " Murid timur, bagaimana kalian setiap pagi bisa bangun pagi dan tak pernah kesiangan untuk berdoa?"
Murid timur menjawab " Sebenarnya kami juga sama saja dengan anda murid barat. Hanya saja setiap paginya ada seekor cacing yang senantiasa membangunkan guru kami, yang kemudian guru kami pun membangun kan kami. "

Setelah mendengar penuturan dari murid timur, murid barat merasa kesal. Esok harinya pagi - pagi sekali murid barat memasak air panas lalu menyiramkannya ke dalam lubang tempat si cacing tinggal. Maka meninggallah cacing tersebut.

Paginya guru timur bangun kesiangan dan merasa heran, mengapa sang cacing hari ini tidak membangunkannya? lalu di carilah cacing tersebut ke liangnya dan menemukan cacing tersebut telah meninggal. Lalu beserta dengan muridnya, guru timur membacakan parita untuk sang cacing.

Beberapa waktu berlalu, si cacing dikarenakan semasa hidup selalu membangunkan kepala biara untuk beribadah, sehingga telah mengumpulkan jasa pahala, lalu terlahir lagi menjadi tukang kayu.
Sebaliknya murid barat dikarenakan telah mencelakakan cacing, setelah tiba masanya dia akhirnya meninggal dan dititiskan kembali menjadi kera.

Tukang kayu dan kera dikarenakan jodoh yang baik dengan Buddha di masa lampau, sama - sama suka sembahyang. Suatu hari ketika sedang berjalan, tukang kayu menemukan sebuah kuil tua yang lusuh dan atapnya bolong - bolong. Lalu dengan tulus tukang kayu membetulkan kuil tersebut. atap yang bolong di betulkan. Setelah itu tukang kayu pun berlalu.. ketika dalam perjalanan tukang kayu bertemu dengan pelajar yang kesulitan menyeberang sungai. Maka dengan baik hati tukang kayu mengambil tujuh buah batu dan menyusunnya menjadi jembatan agar pelajar tersebut bisa lewat.

Perbuatan tukang kayu ini ternyata disaksikan oleh dua orang dewa yang kemudian melaporkannya ke Atas bahwa di bumi ini ada seorang tukang kayu yang dengan baik hati telah membangun istana Buddha dan jembatan tujuh bintang.

Si kera dan tukang kayu sama - sama suka mencari bunga untuk di taruh di kuil. Tapi si kera agak nakal. Setiap kali melihat sudah ada orang yang menaruh bunga untuk Buddha, maka ia akan mencabutinya dan kemudian digantikan dengan bunga milik dia sendiri. Melihat bunganya sering kali di tukar dengan bunga lain, tukang kayu begitu penasaran lalu sengaja mengincar siapakah gerangan yang telah setiap hari mencabut bunganya.

Setelah tertangkap basah bahwa si kera yang mencabut bunganya, tukang kayu berlari mengejar si kera, kera lari tunggang langgang masuk ke gua. Tukang kayu kemudian mengambil batu dan menutup lubang gua tersebut. Lalu meninggallah si kera didalam lubang karena kelaparan.

Setelah masanya lewat, maka tukang kayu pun meninggal. Dikarenakan dimasa lampau ada memperbaiki kuil dewa dan membangun jembatan untuk pelajar, Tukang kayu kemudian dititiskan kembali menjadi Kaisar Liang Hu Tie. Sedangkan sang kera dikarenakan dimasa lampau ada memuja dewa, dikehidupan selanjutnya dilahirkan menjadi Jendral.

Liang Hu Tie adalah seorang raja yang gemar berderma, membangun vihara dan bervegetarian. Beliau berguru kepada Ce Kung. Istri Liang Hu Tie juga seorang yang beribadah, beliau berguru pada Yin Hong.

Suatu hari permaisuri mengundang Liang Hu Tie untuk mendengarkan ceramah Yin Hong. Liang Hu Tie kemudian turut mengundang gurunya, Ce Kung. Sewaktu ceramah, Yin Hong sembari makan daging dan minum arak.

Ce Kung kemudian menegur Yin Hong. Yin Hong lalu menjawab " Saya kelihatannya memang makan daging dan minum arak, namun sebenarnya tidak begitu." Mendengar jawaban Yin Hong, Ce Kung lalu menjawab " Kalau begitu, kamu kelihatannya membina, namun sebenarnya tidak begitu."

Setelah masa hidupnya selesai, Yin Hong akhirnya meninggal dan dilahirkan kembali menjadi seekor kerbau. Suatu hari ketika Ce Kung dan Liang Hu Tie sedang jalan - jalan, melihat seekor kerbau yang aneh. Kerbau tersebut berwarna - warni. Ce Kung lalu berkata kepada Liang Hu Tie bahwa kerbau itu adalah titisan Yin Hong. Namun Hu Tie tidak percaya. Ce Kung kemudian menyuruh Hu Tie memanggil nama Yin Hong 3x. Setelah dipanggil 3x kerbau tersebut kemudian menoleh dan berlutut menangis.

Setelah Ce Kung menasehati Kerbau tersebut, merasa malu, kerbau tersebut kemudian menabrakkan diri ke tembok dan kemudian meninggal. Liang Hu Tie melihat kejadian ini tekad untuk membina dirinya semakin besar.

Meskipun rajin membina diri, namun Hu tie sebagai kaisar juga terlalu menikmati kehidupan. Suatu hari Ce Kung diundang Hu Tie untuk menonton drama. Hu Tie kemudian bertanya kepada Ce Kung, apakah dramanya bagus? Ce Kung yang sudah jengah dengan kemewahan Hu Tie lalu menjawab tidak tahu. Hu tie begitu bingung, mengapa Ce Kung menonton di bagian depan tapi tidak tahu apakah drama tersebut bagus atau tidak?

Ce Kung mengetahui isi hati Hu Tie kemudian menyuruhnya memanggil tiga orang tawanan yang hendak dihukum mati. Ce Kung menyuruh agar diletakkan ember berisi air diatas kepala mereka. Kemudian tiga orang tersebut disuruh berlutut didepan menonton drama. Bila sampai drama tersebut selesai dan tidak ada air yang tumpah dari ember tersebut, maka mereka akan dibebaskan dari hukuman mati.

Ketika drama sedang seru - serunya, Ce Kung menyuruh Hu Tie bertanya pada tiga tawanan ini, apakah drama tersebut bagus atau tidak?  Mereka bertiga menjawab tidak tahu. Hu Tie menjadi marah, bagaimana drama didepan mata mereka tidak tahu ceritanya bagus atau tidak. Salah satu dari mereka kemudian menjawab " Kami begitu sibuk memikirkan nyawa kami, bagaimana bisa tahu cerita drama tersebut bagus atau tidak?" Hu Tie menjadi sadar maksud dari Ce Kung. Begitulah cara Ce Kung menasehati Hu Tie.

Sejak kejadian itu, Hu Tie kemudian mulai menurunkan anggaran pengeluarannya. Hu Tie suatu hari membangun vihara yang besar sekali, kemudian bertanya pada Ce Kung " Saya membangun vihara yang begitu besar, besarkah pahala saya?" Ce Kung kemudian menjawab" Sedikitpun tidak ada." Mendengar penuturan Ce Kung, Hu Tie menjadi bingung, Ce Kung kemudian menjelaskan, " Di kehidupan lampau ketika kau masi menjadi tukang kayu, engkau telah membangun kuil dengan tulus dan jerih payah mu sendiri. Sekarang engkau memang membangun vihara yang besar, tetapi merepotkan banyak rakyat. Jasanya tak ada sama sekali."

Setelah kejadian ini, Hu Tie semakin tulus dalam membina diri. Setiap hari mengundang Ce Kung berceramah, lama kelamaan urusan kerajaan menjadi terbengkalai. Ibu suri tidak senang melihat hal ini lalu memunculkan fitnah terhadap ajaran Buddha. Ibu suri kemudian menyuruh orang memotong anjing untuk dibuat bakpao dan mengundang Ce Kung untuk makan. Maksud dari perbuatannya adalah untuk merusak vegetarian Ce Kung.

Ce Kung dikarenakan membina dirinya sudah bagus, terlebih dahulu telah meramalkan kejadian tersebut. Ce Kung lalu berkata kepada Hu Tie " Bilamana nanti Ibu Suri mengundang saya makan dan saya akan meminta pertolongan mu. Saya akan berteriak dan kau harus datang menolong saya."

Tak lama Ibu suri benar - benar memanggil Ce Kung untuk makan bakpao. Ce Kung kemudian berteriak minta tolong. Hu Tie yang mendengar teriakan Ce Kung serta merta datang menolong. Ce Kung segera membuang bakpao tersebut keluar yang kemudian tumbuh menjadi empat macam tanaman yang dilarang makan oleh orang yang bervegetarian. ( Bawang, Kucai, dll )

Tidak lama kemudian Ibu Suri terkena wabah penyakit menular dan kemudian meninggal. Raja neraka sangat marah kepada Ibu Suri lalu dilahirkan menjadi ular. Ular ini hidup tersiksa karna memiliki kepala yang besar dan tenggorokan yang kecil serta kulit yang dimakan semut. Kaisar setelah lama ditinggal meninggal Ibu Suri telah lama tidak mengunjungi istana Ibu Suri.

Suatu hari Hu Tie pergi mengunjungi istana Ibu Suri dan bertemu dengan ular titisan Ibu Suri. Ular tersebut meminta tolong pada Hu Tie dan menceritakan kisahnya. Dia memohon pada Hu Tie agar dapat membacakan parita untuknya. Lalu diundannya Ce Kung untuk bersama membaca parita. Hu Tie membuat "Chan Huei Pao Chan" untuk ibunya. Setelah naskah tobat tersebut  selesai dibuat, Hu Tie melihat Ibu Suri berterimakasih kepada kaisar dan cucunya.

Liang Hu Tie semakin maju membina dirinya. Suatu hari Hu Tie bertanya pada Ce Kung, kapan beliau akan mencapai sempurna? Ce Kung kemudian menunjuk kepada tenggorokan Hu Tie. " Disini kamu setiap hari berfoya - foya, bagaimana mungkin kamu bisa mencapai sempurna?" Mendengar penuturan Ce Kung, Maka Ce Kung pun meninggalkan istana dan membina di gunung Thai Cen.


Ce Kung tahu bahwa Hu Tie harus menghadapi pembalasan karma. Setelah jodoh telah matang, Ce kung dan Hu Tie kemudian berpisah. Suatu hari Jendral Hou Cing memberontak dan menyerang Thai Cen memutus mata rantai makanan Hu Tie. Hu Tie pun dikurung tanpa makanan dan minuman sama sekali.

Lama - lama mundurlah pembinaan Hu Tie, lalu Ce Kung muncul dari langit dan berkata " Sekarang saatnya kamu mendapatkan pembalasan karma dari tiga kehidupan . Kamu tidak boleh mundur."
Setelah mendapat nasihat dari Ce Kung, Hu Tie akhirnya menerima dengan ikhlas dan akhrinya mencapai sempurna menjadi arahat.

Sumber : Berbagai sumber

Jumat, 28 Oktober 2011

Tiga Permintaan Saja

Ada seorang nelayan, suatu hari dia pergi memancing ikan. Dari pagi hingga sore tak seekor ikan pun terpancing oleh kailnya.

Mulailah ia berceloteh, mungkin kailnya yang tidak bagus, atau umpannya yang tidak bagus, hokkinya jelek, perahunya bawa sial, inilah.. itulah... sampai akhirnya ia tersadar bahwa kailnya sedang mengenai ikan.. lalu diangkatlah ikan tersebut..

Setelah ditarik ke atas , ternyata ikan yang ditangkap bisa berbicara. Ketika hendak dibawa pulang, berbicaralah ikan tersebut " Hai bapak, Lepaskanlah saya, maka saya akan mengabulkan tiga permintaan mu."

Tapi karna serakah, si nelayan merasa bahwa tiga permintaan saja tidak cukup.  " Hai ikan ajaib, bagaimana kalau sepuluh permintaan?" si ikan menolak, akhirnya nelayan menurunkan penawarannya , " Bagaimana kalau sembilan permintaan?" si ikan tetap menolak.. Nelayan geleng - geleng.. " Bagai mana kalau delapan lah??" kali ini giliran si ikan yang menggeleng. Nelayan putus asa.. "Ah baiklah... tujuh permintaan bagaimana?" ikan sudah lama dikeluarkan dari air merasa kehabisan nafas, sambil megap - megap tetap kukuh menggelengkan kepala " Hanya tiga. tidak lebih" Begitu terus tawar menawar terjadi sampai akhirnya nelayan mengalah pada sang ikan. " Baiklah, tiga permintaan saja."

Tapi apa yang terjadi... ikan tersebut telah lama kehabisan udara sehingga akhirnya meninggal..
Nelayan pada akhirnya hanya bisa pulang dengan membawa ikan goreng saja.