Jumat, 22 Juli 2011

Semua Itu Sunya

Suatu masa ada seorang siswa muda Zen Jepang bernama Yamaoka Tesshu. Ia mengunjungi berbagai guru, dari guru yang satu ke guru yang lain. Suatu hari, Yamaoka Tesshu berkunjung ke Master Zen Dokuon di Shokoku.

Kunjungan Yamaoka Tesshu tidak lain hanya untuk menunjukkan kemampuannya akan ajaran mengenai kesunyataan yang mengajarkan bahwa semua adalah mimpi, ilusi.

Di dalam vihara, Yamaoka Tesshu menghadap Master Zen Dokuon yang sedang berdoa dengan alat ketuknya.

Dengan angkuh ia mulai berbicara mengenai kesunyataan,” Pikiran, Buddha, makhluk hidup itu sesungguhnya tidak ada.” Suara Yamaoka Tesshu yang cukup keras itu menghentikan Master Zen Dokuon dari doanya.

”Hakikat sejati dari semua hal adalah kekosongan, mimpi, ilusi.” Lanjut Yamaoka, ” Tidak ada itu yang disebut dengan kesadaran, tiada kekotoran, tiada kebijaksanaan, omong kosong dengan yang tengah-tengah. Tidak ada memberi dan tak ada yang menerima.”

Tiba-tiba dengan keras Master Zen Dokuon memukul kepala Yamaoka dengan pemukul alat doa yang ia pegang. Dan otomatis Yamaoka berteriak kesakitan, ”Auwh!”

” Dasar tua bangka! Anak kadal!” teriak Yamaoka marah-marah.

”Jika tidak ada yang ada dari mana murka ini datang tuan?” tanya Master Zen Dokuon sambil tersenyum.

Yamaoka pun terperanjat.

Narator: ”Tiada kebaikan, tiada kejahatan, tiada kesedihan, tiada kegembiraan, semuanya sunya.” Pernyataan yang dalam ini bahkan tidak dimengerti oleh umat awam. Zen yang diungkapkan oleh Yamaoka Tesshu hanya kata-kata kosong.”


Kadang kala kita seperti burung beo yang selalu mengikuti perkataan orang lain tanpa mengerti maksudnya. Kita sering mengatakan apa yang diucapkan Guru kita yang mengatakan bahwa semuanya sunyata, semuanya kosong, semua hanya mimpi, ilusi, tanpa memahami arti sebenarnya. Kita sering terjebak dengan memandang bahwa semua yang ada kita anggap tidak ada. Seperti pertanyaan Master Zen Dokuon, ”Jika tidak ada yang ada dari mana murka ini datang tuan?”

Urutan Hidup Dan Mati

Seorang kaya raya meminta seorang ahli kaligrafi dan tulisan indah
untuk membuatkan tulisan yang bermakna,
agar kemakmuran dalam keluarganya dapat berlangsung turun temurun.

Lalu ahli kaligrafi itupun menuliskan sesuatu, begini bunyinya ;

'BAPAK MATI
ANAK MATI
CUCU MATI'

Membaca tulisan itu orang kaya tersebut menjadi marah,
"Yang kuminta adalah tulisan yang indah dan berharga !
Mengapa kau malah menulis lelucon tak lucu seperti itu?!
Kau ingin kluargaku cepat mati ya ?!"
Dengan tenang ahli kaligrafi tersebut menjawab,
"Eh, bukankah ini kabar baik ? coba pikir;
Jika anakmu mati sebelum engkau sendiri mati,
bukankah engkau bakal nelangsa ?
Jika cucumu mati sebelum kau dan anakmu mati,
hati kalian berdua akan hancur.
Sangat wajar dan alamiah jika keluargamu, turun-temurun,
mati dengan urutan seperti yang saya tuliskan.
Saya menyebutnya sebagai kemakmuran sejati.. hehehe.."

Orang kaya itupun manggut-manggut meresapi kata-kata sang ahli kaligrafi,
"Betul juga..."

Kematian adalah seperti pengembara yang pulang.
Mati dengan urutan yang wajar,
tidakkah lebih baik daripada mati dengan urutan terbalik ?

Kamis, 21 Juli 2011

Raja Dan Pohon

Dahulu ada seorang raja yang sombong, dia ingin membangun sebuah istana, lalu dia  memerintahkan para menterinya dan berkata, “Pergi ke hutan carilah sebatang pohon yang paling besar dan paling tinggi, tebang pohon tersebut saya ingin membangun istana saya.”  Para menteri pergi kehutan mencari, akhirnya mereka menemukan sebatang pohon yang paling besar dan paling tinggi . Disekeliling tempat itu tidak ada pohon yang lebih besar daripadanya. Lalu mereka melapor kepada raja, “Baginda, kami telah menemukan pohon yang paling besar dan paling tinggi, besok pagi kami akan ke hutan dan menebang pohon itu.”

Raja merasa sangat gembira lalu pergi tidur, didalam tidurnya raja bermimpi yang aneh, seorang dewa yang tinggal didalam pohon berkata kepadanya, “Raja, tolong jangan musnahkan tempat tinggalku, jika engkau berbuat demikian maka saat kampak menancap sekali kepohon maka raja akan menderita kesakitan, yang akhirnya akan membuat raja meninggal.”
Dengan sombong raja berkata, “Engkau adalah pohon yang paling bagus yang terdapat dihutan ini, saya harus menebangmu untuk dijadikan bahan membangun istanaku.”
Dewa pohon memohon, tetapi raja bersikeras tetap akan menebang pohon tersebut. Akhirnya dewa pohon berkata, “Baiklah, engkau boleh menebangnya, tetapi tolong jangan seperti biasanya menebang dari bagian bawah sekali tebang, tolong perintahkan orangmu menebang dari dahan yang paling atas perlahan ditebang sampai kebawah, sampai dahan tersebut habis.”
Setelah mendengar perkataan dewa pohon, raja merasa terkejut dan berkata, “Jika seperti itu menebangnya, bukankah engkau semakin menderita?”
Dewa pohon berkata, “Memang benar seperti katamu, saya hanya memikirkan keadaan ekosistem didalam hutan tersebut, sehingga menyarankan engkau berbuat demikian, engkau tahu saya adalah sebatang pohon yang sangat besar, jika sekali tebang tumbang, saya akan menimpa banyak pohon kecil yang berada disekeliling saya, bahkan akan banyak membunuh binatang kecil. Burung kecil dan serangga kecil akan kehilangan tempat tinggal, banyak pohon kecil akan mati tertimpah, dengan menebang sedikit demi sedikit dari atas turun kebawah, maka penderitaan mereka semakin sedikit.”
Pada saat ini raja terbangun, dia berpikir, “Dewa pohon akan sangat menderita, tetapi dia tetap melindungi pohon-pohon kecil dan binatang kecil supaya tidak menderita, dewa pohon ini sungguh gagah dan berbelas kasih! Sedangkan saya menebang pohon, demi untuk menikmati kemewahan dan kesombongan saya sendiri, saya sungguh egois. Saya tidak akan menebang pohon ini lagi, bahkan saya harus berterima kasih dan memberi hormat kepadanya.”
Maka keesokan harinya raja pergi kehutan, memberi hormat dan berterima kasih kepada dewa pohon. Mulai saat itu dia berubah menjadi seorang raja yang penuh belas kasih dan sangat adil kepada rakyatnya

sumber : erabaru.net

Milik Siapa ?

Ini adalah kisah nyata yang terjadi ribuan tahun lalu di India yang menampilkan kebijaksanaan seorang Sang Sadar.

Pada suatu hari ketika Budha sedang bersemedi di hutan bambu, tiba-tiba ada seorang pengikut brahmana dengan emosi datang kehadapan Budha dan marah-marah, karena banyak pengikut brahmana beralih ke ajaran Budha, membuat dia sangat marah.

Budha dengan sabar mendengar dia mencaci maki yang tidak masuk akal, setelah orang ini agak reda, Budha berkata, “Brahmana! Di rumahmu terkadang mungkin bisa dikunjungi tamu.”
“Sudah tentu, tidak usah ditanya pertanyaan yang tidak ada hubungan!”
“Brahmana, pada saat itu, engkau mungkin akan menjamu tamu tersebut?”
“Sudah pasti.  Hal ini nggak perlu ditanya lagi.”
“Brahmana, jika pada waktu itu, tamu tersebut tidak mau menerima jamuan kamu, maka lauk tersebut menjadi milik siapa?”
“Jika dia tidak mau memakan makanan dan lauk yang saya sajikan, maka sudah tentu lauk tersebut tetap menjadi milik saya.”

Budha dengan matanya yang welas asih memandang kepada Brahmana, lalu berkata, “Brahmana, hari ini engkau dihadapan saya berkata banyak perkataan yang jelek, tetapi saya tidak menerimanya, oleh sebab itu caci makimu yang tidak masuk akal, tetap menjadi milikmu".
"Oh Brahmana, jika ketika engkau mencaci maki saya dengan kata-kata kotor, saya membalasnya dengan kata-kata kotor yang sama, maka akan sama dengan tamu dan tuan rumah yang duduk semeja makan bersama, tetapi saya tidak memakan sayurnya!”

Brahmana ini akhirnya menjadi pengikut Budha, dan berkultivasi sampai mencapai buah status Arhat.

Cheng Bersaudara

Cheng Hao dan Cheng Yi, dua bersaudara, adalah filsuf terkenal dan pendidik pada masa Dinasti Song Utara. Mereka berdua "belajar dengan tekun, menyukai sejarah, berpuas diri dalam kemiskinan, dan tetap mempertahankan karakter mulia mereka." Meskipun mendapat pengalaman hidup yang berbeda-beda, mereka terus belajar sepanjang hayat mereka. Mereka terus mengajar dan mengejar cita-cita yang sama. Cheng Hao bekerja sebagai seorang pejabat pemerintah di berbagai wilayah. Dia menulis "Merawat orang-orang seolah-olah mereka adalah pasien" sebagai moto untuk mengingatkan dirinya sendiri. Dia pernah dengan sopan menolak hadiah seratus gulungan sutra halus berkualitas tinggi dari Perdana Menteri Lu Dafang. Pada waktu itu Ia berkata bahwa ia bukanlah satu-satunya orang miskin yang ada, "Ada banyak orang miskin di dunia." Setelah menyelesaikan urusan pemerintahannya, Dia selalu pergi untuk mengajar murid-muridnya. Cheng Yi menjabat sebagai guru kaisar, ia memberitahu Kaisar Zhezong bahwa seorang yang mulia harus memberi perhatian pada "kultivasi karakter dan meningkatkan kebajikan”. Dia suka berada dekat dengan mereka yang memiliki karakter mulia dan berani untuk memberikan nasihat kepada kaisar . Semua ini menunjukkan bahwa dua bersaudara Cheng Hao dan Cheng Yi tidak terpengaruh oleh kemiskinan, dan mereka malahan lebih memperhatikan orang lain daripada kekayaan. Kedua bersaudara ini kemudian menimbulkan kemarahan kaum bangsawan dan dipaksa untuk mengundurkan diri dari posisi mereka dan pulang ke rumah.

Cheng bersaudara menunjukkan karakter mulia dan moral dalam aspek belajar, memerintah, mematut diri, dll Mereka percaya bahwa tujuan tertinggi dari pendidikan adalah agar siswa mengikuti prinsip-prinsip Langit, berbelas kasih kepada orang lain, peduli dengan dunia, dan selaras dengan prinsip-prinsip yang berlaku. Meskipun mereka sering hidup dalam keadaan "tidak memiliki sayuran" untuk dimakan, mereka tidak pernah berhenti mengajar. Karakter mulia mereka dikenal luas. Banyak orang  yang datang untuk belajar dari mereka, bahkan ada yang datang dari tempat dengan jarak ribuan mil jauhnya. 

Cerita klasik terkenal " Cheng (Cheng Yi) Men (pintu) Li (berdiri) Xue (di salju)" dan "Ru (seperti) Mu (mandi) Chun (musim semi) Feng (angin)" (siswa Cheng Hao merasa bahwa saat belajar dari gurunya, mereka seolah-olah sedang bermandikan angin di musim semi) telah menjadi legenda bagi generasi mendatang. 

Cheng Bersaudara menghasilkan banyak karya. Mereka pernah menggambarkan pengalaman mereka sendiri, " Kami belajar di bawah bimbingan Zhou Dunyi. Dia meminta kami untuk menemukan hal yang membuat Konfusius dan Yan Hui berpuas diri, dan kenapa mereka bahagia." Mereka percaya asimilasi dengan Tao (prinsip-prinsip Langit) dan kesatuan langit dan manusia adalah sumber dari kebahagiaan spiritual. Cheng Yi menulis, "Tao Langit dan prinsip-prinsip Langit adalah sebab fundamental bagi penciptaan segala sesuatu di dunia. Mereka berada di dalam segala sesuatu dan juga di atas segalanya. Setiap eksistensi memiliki jalannya sendiri. Mengapa langit tinggi di atas, mengapa bumi rendah di bawah, mengapa segala sesuatu ada secara alami, mereka semua memiliki sebab musabab sendiri ". "Orang bijak mengikuti prinsip-prinsip Langit dan juga ingin semua makhluk hidup untuk mengikuti hal yang sama." Cheng Hao menulis dalam puisinya, "Mengamati semua makhluk hidup dalam keheningan, mereka semua tenang dan damai, segala sesuatu dalam empat musim adalah sama dengan manusia yang memiliki watak dan jiwa yang baik. Tao meliputi langit dan bumi dan melampaui segala keberadaan materi, pikiran yang selalu berubah adalah hal yang tidak terkendali layaknya angin dan awan." Dia mengerti keagungan dan kemuliaan dari Tao. 

Kebahagiaannya terletak pada keberhasilannya menyelami karakter langit dan bumi, mengetahui pikiran dari keberadaan yang tak terhitung jumlahnya, serta segala sesuatu yang ada di alam semesta. Ia juga menulis puisi, "Ia telah terpisah dari dunia sejauh tiga puluh mil. Awan putih dan daun merah mengambang jauh dan dekat "(" Bulan Musim Semi "). Puisi "Gumpalan awan dengan tenang tercermin di permukaan air, suara mata air yang mengalir secara alami datang dalam keheningan " (" Berjalan di Lereng Bulan ") menggambarkan kedamaian batin dari Cheng Hao, ketenangan dan ketidakpedulian terhadap ketenaran dan kepentingan pribadi.
 
Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan, "Hanya dengan tidak mengejar kemuliaan dan kekayaan, seseorang bisa memiliki cita-cita yang luhur, hanya dengan berada di dalam kedamaian hati, seseorang bisa berpikir dan melihat jauh ke depan." Ada banyak individu dengan kebajikan tinggi dalam sejarah. Mereka menjadi pelaku dan penyebar kebenaran dan prinsip-prinsip Langit, serta contoh teladan dari kultivasi diri. Kultivator memiliki kebahagiaan tersendiri dari berkultivasi. Mengkultivasi diri adalah sebuah kebahagiaan bagi mereka. 

Mereka memandang ringan kemiskinan, kekayaan, dan kemuliaan, karena mereka melepaskan segala macam keinginan material dan keterikatan manusia, menjaga kedamaian hati mereka, dan merasa puas serta bahagia. Kebahagiaan mereka terwujud oleh pemahaman akan prinsip-prinsip Langit, menyelami kebenaran alam semesta dan makna hidup, dan tercapainya masa depan yang cerah! Kondisi "Berpuas diri dalam kemiskinan, dengan gembira mencari Tao" melambangkan pencarian mereka terhadap kondisi rohani yang luhur. Terlepas dari situasi yang mereka hadapi, mereka teguh memegang karakter mulia mereka dan mengejar kebenaran tanpa mengendurkan diri!

Pangeran Menjadi Keledai

Pada masa dinasty Ming ada seorang pangeran, tabiatnya sangat jelek. Ibunya ketika dia masih kecil sudah meninggal, pangeran ini biasanya tidak ada kerja, sering bermain-main dengan para kasim dan suka menyiksa orang. Jika selir raja berbuat salah kepadanya, dia akan memanggang besi sampai panas membara, lalu mengambil bara api diletakkan diatas telapak tangan mereka, sampai bara api padam penyiksaan akan selesai, jika berani membuang bara api tersebut akan menjalani penyiksa yang lebih kejam lagi.

Jika kucing atau anjing tidak menuruti perintahnya, maka dia akan mengikat lalu mencambuk mereka. Dia sering meletakan sebuah wajan besar yang berisi minyak panas, menangkap burung dan ayam, digoreng diatas wajan besar dan disantap, sekali santap lebih dari 10 ekor. Pangeran ini belum sempat naik tahta sudah meninggal karena sakit.

Dua tahun setelah pangeran meninggal, pada suatu malam didalam istana ada seorang kepala pengawal bermimpi pangeran datang menjumpainya, rambut pangeran terlihat acak-acak, badannya telanjang, wajahnya terlihat sangat mengenaskan. Kepala pengawal ini bertanya kepadanya selama ini pergi kemana?
Pangeran sambil menangis berkata, “Semasa hidupku terlalu brutal, setelah meninggal disiksa diakhirat. Penyiksaan ini baru saja berakhir, dan dihukum reinkarnasi menjadi keledai. Besok engkau pergilah ke kota xx disebuah pasar engkau akan menjumpai seekor keledai betina yang sedang hamil, dia adalah reinkarnasi dari ibuku, di perutnya adalah aku, memandang hubungan masa lalu kita tolonglah saya, engkau tolong beli keledai betina itu, jika tidak kami berdua akan dijagal, maka budimu akan saya ingat selalu.” Setelah berkata demikian menangis dengan sedih. Kepala pengawal terbangun, dia merasa sangat heran, tidak dapat tertidur kembali.

Keesokan harinya, dia pergi ke kota xx dan dijalan yang ditunjuk pangeran didepan sebuah rumah jagal dia melihat ada seekor keledai betina hamil yang tubuhnya sangat kurus dan warnanya kulitnya sama seperti mimpinya, setelah turun dari kereta berjalan menuju ketempat keledai betina, keledai ini menghela nafas dan airmatanya mengalir dengan deras. Melihat pemandangan ini kepala pengawal juga menangis terharu, lalu dia memanggil pemilik rumah jagal dan berkata, “Apakah keledai ini dijual?””
Kemarin saya membeli keledai ini 5000 Yuan, hari ini mau dijagal dan dijual dagingnya, saya tidak menjual keledai hidup.”Kepala pengawal berkata lagi, “Begini saja, setelah dipotong engkau bisa menjual berapa dagingnya, saya bayar dengan harga 2 kali lipat.”pemilik toko berkata, “Saya melihat hati tuan yang penuh belas kasih, saya nggak bisa menolak lagi, begini saja saya jual kepada tuan 6000 Yuan saja.”Setelah membayar kepala pengawal membawa keledai ini pulang ke istana. Malam itu dia bermimpi lagi, pangeran dan ratu datang mengucapkan terima kasih kepadanya.

Akhirnya kepala pengawal mencari kesempatan bertemu dengan raja dan menceritakan kejadian ini kepada raja. Raja setelah mendengar hal itu menghela nafas panjang, setelah beberapa saat berkata, “Perbuatan mereka memang sudah seharusnya mendapat balasan. Ratu semasa hidupnya juga seorang yang picik penuh dengan rasa iri dan selalu cemburu dan berbuat jahat kepada para selir, sesuai dengan perbuatannya sudah sepantasnya akhirnya mendapat karma. Walaupun demikian, mereka pernah menjadi istri dan anakku maka diluar kota  ada sebuah peternakan dan rumput disana sangat subur, engkau bawa mereka dan tinggalkan mereka disana saja.” Kepala pengawal menuruti perintah raja membawa keledai betina yang sedang hamil ini ke peternakan.

Tidak berapa lama kemudian, keledai betina ini melahirkan anak keledai. Pada suatu hari ketika raja berkunjung kepeternakan, kedua keledai ini datang kehadapan raja dan berlutut dihadapan raja sambil menangis. Raja memanggil nama mereka, mereka berdua mengibas-ibaskan ekor dan berteriak seperti menjawab panggilan raja. Dengan sedih raja pulang ke istana, sampai raja wafat kedua ekor keledai ini masih tinggal dipeternakan.

sumber : erabaru.net

Jembatan Delapan Dewa

Dahulu kota Xiangthan tidak semewah sekarang, Yuhu dikelilingi pengunungan tinggi. Di sebelah barat Yuhu ada sebuah pengunungan yang bernama gunung panjang umur, kenapa dinamakan gunung panjang umur? Karena diatas gunung tinggal seorang kakek marga Zheng yang sudah sangat tua. Rambut dan jenggotnya semua sudah putih, tetapi badannya masih sangat sehat, tidak ada benar-benar mengetahui  umur kakek ini, ada yang mengatakan dia sudah berumur lebih dari 140 tahun, ada yang mengatakan bahkan lebih tua dari itu.

Dia sendirian tinggal diatas gunung, mendirikan sebuah gubuk, setiap hari dia pergi mencari kayu bakar, berburu, bercocok tanam semuanya dapat dilakukannya, sayuran yang ditanamnya sangat subur. Setiap dia pergi berburu pasti mendapat binatang buruan, sehingga persediaan pangannya tidak habis dimakan sendiri. Tetapi dia sendiri sangat hemat, sisa makanannya akan dibagi kepada fakir miskin. Setiap ada yang datang kerumahnya meminta bantuannya, seperti tetangga, teman, waluapun kenal atau tidak, dia akan sebisa mungkin membantu mereka. Terkadang karena membantu orang lain, dia sendiri tidak ada makanan lagi, maka dia akan pergi kehutan mengambil sayuran dan buah-buah hutan untuk dimakan

Pada suatu malam, ketika bulan purnama, dia sedang menganyam sepatu jerami. Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, dijalan dia melilhat ada 8 orang sedang menuju kearahnya, diantara mereka ada seorang wanita, orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek yang berjenggot putih, ditangannya memegang sebuah pancing, dia menyapa kakek Zheng, “Sobat tua, kami kebetulan lewat daerah ini, bolehkah kami masuk kerumahmu beristirahat sebentar melepaskan lelah?”
Kakek Zheng dengan gembira menjawab, “ Dengan senang hati, tetapi gubuk saya terlalu kecil, saya takut tidak muat untuk kalian semua.” Kakek jenggot putih menjawab, “Tidak masalah, kami berdesakan sedikit pasti muat.”Setelah berkata demikian 8 orang ini masuk kedalam rumah, sungguh heran gubuk kecil ini yang biasanya hanya ada 3 orang saja sudah kelihatan sangat sempit, tetapi ketika 8 orang ini masuk dan duduk didalam gubuk kelihatan masih lapang, kakek Zheng merasa heran. Pada saat ini seseorang yang bajunya compang camping, wajahnya hitam, memegang tongkat karena kakinya pincang sedang berkata, “Sobat tua, kami sudah lapar, apakah ada makanan yang bisa engkau sediakan untuk kami?” Kakek Zheng segera berkata, ‘”Ada!Ada! kelihatannya kalian semua datang dari tempat yang jauh, sudah lapar dan capek, kebetulan hari ini ketika saya berburu mendapat seekor kelinci, akan saya hidangkan untuk kalian.” Setelah berkata demikian kakek Zheng pergi kelemari mengeluarkan seguci arak, dan sepiring daging kelinci yang sudah dimasak dengan harum, meletakkannya diatas meja kecil yang terbuat dari bambu.
Seorang pelajar yang tangannya memegang suling berkata, “Suasana malam ini adalah malam purnama yang sangat indah, kenapa kita tidak membawa makanan ini ke tepi danau dan menikmatinya disana?” Seseorang yang wajahnya brewok bertepuk tangan menyetujui saran itu, dan yang lain semua setuju, akhirnya mereka ada yang mengangkat guci arak, ada yang mengambil piring daging kelinci, ada yang mengangkat meja kecil menuju ketepi danau, masing-masing memilih sebuah batu granit lalu duduk diatasnya, mulai menyantapi makanan dan meminum arak, sepanjang malam kakek Zheng sibuk melayani mereka, sebentar menyeduh teh, sebentar naik ke atas gunung mencari buah-buahan hutan untuk mereka, keadaan tersebut berlaku sampai subuh, kemudian salah seorang dari mereka yang memakai baju dengan keadaan dada dan perut gendutnya terbuka berkata, “Sobat tua, engkau juga sudah capek, sekarang bagaimana kami dapat membalas budimu, apapun permintaanmu pasti akan kami kabulkan.” Kakek Zheng sambil menggelengkan kepalanya berkata, “Saya tidak mempunyai permintaan, apapun saya tidak ingin?” Orang brewok ini berkata lagi, “Gubukmu sangat kecil, apakah engkau tidak ingin sebuah istana yang besar?” Sambil tersenyum kakek Zheng menjawab,”Bumi ini demikian luas, gubuk kecil ini sudah cukup untuk tempat saya berteduh.” Seorang pendeta Toa yang membawa pedang bertanya lagi, “Sobat tua, kehidupan mewah apa saja yang ada didunia ini terserah engkau pilih.”
Kakek Zheng berkata” Saya memandang kemewahan dunia ini seperti sebuah tali, saya tidak ingin kaki tangan saya terikat oleh tali ini, sedangkan nyawa, setiap orang akan mengalami tua dan mati, ini semua adalah hal biasa yang tidak dapat dihindari.”
Mendengar perkataan kakek Zheng, wanita cantik ini berkata, “Wah! Kehidupan mewah dan panjang umur engkau juga tidak menginginkannya, apakah engkau ingin menjadi dewa!”
Kakek Zheng berkata, “Setiap hari saya hidup dengan gembira dan bahagia sudah seperti dewa, walaupun langit runtuh saya tidak peduli, sejak lama sudah seperti dewa ditengah kehidupan manusia ini.”
Setelah didesak oleh mereka semua, setelah berpikir sejenak kakek Zheng berkata, “kalian semua mendesak saya, baiklah saya akan mengajukan sebuah permintaan. Danau Yuhu sangat besar berjalan dari tepi danau timur ke barat memakan waktu setengah hari, sangat tidak praktis, jika kalian dapat membangun sebuah jembatan, maka akan sangat berguna untuk masyarata ditempat ini.”
Orang yang berwajah brewok berkata, “ Oh itu adalah hal yang gampang! Kami akan mengabulkan permintaanmu!”
8 orang ini keluar dari gubuk kakek Zheng, sedangkan kakek Zheng tidak mengikuti mereka keluar, dia sedang memasak air menyeduh teh untuk mereka. Setelah air mendidih dan teh sudah siap diseduh, dia membawa teh tersebut keluar untuk mereka, dia melihat sebuah jembatan yang panjang diatas danau Yuhu, 8 orang tersebut sedang berjalan diatas jembatan menuju kearah lain, kakek Zheng mengejar dibelakang mereka sambil berteriak, tiba-tiba dia melihat ada 8 gumpalan awan, 8 orang tersebut sambil melambaikan tangannya, naik keatas gumpalan awan terbang melayang pergi.
Kakek Zheng kembali keatas jembatan dengan teliti dia memeriksa keadaan jembatan, jembatan ini terbuat dari 8 keping batu granit, keadaan sangat rapi,  kuat dan jembatan ini sangat lebar.
Keesokan harinya, masyarakat didaerah ini melihat jembatan ini, mereka semua sangat gembira. Sesuai dengan penuturan kakek Zheng mereka semua menerka pasti semua ini adalah perbuatan 8 dewa langit yang turun kebumi membantu mereka. Akhirnya mereka sepakat menamakan jembatan ini menjadi jembatan 8 dewa.

sumber : erabaru.net