Seorang guru Zen suatu ketika sedang duduk dibawah pohon bersama murid - muridnya. Beliau bertanya pada murid - muridnya " Dua orang berjalan dibawah hujan yang dicurahkan dari langit, dan langit tidak menguyupkan satu orang. Bisa kah kalian jelaskan hal ini?'
Murid pertama menjawah " Ah.. aku tau guru, Karena satu diantara mereka mengenakan baju hujan sedangkan yang satunya lagi tidak." Sang guru menggelengkan kepalanya. Murid kedua ikut menjawab " Karena hujan jatunhnya di satu tempat dan tidak mengenai satu orang, sehingga seorang kebasahan sedangkan yang lain tidak." Sang guru kembali menggelengkan kepala. Murid ketiga juga ikut menjawab " Karena yang satu berjalan di tengah jalan, sememntara yang satunya lagi berjalan dibawah perlindungan rumah - rumah."
Semua jawaban dari muridnya tidak memuaskan Gurunya. " Kalian semua terpaku pada kalimat 'Tidak membasahai satu orang' sehingga tentu saja tidak mengerti. Sebenarnya dengan 'tidak menguyupkan satu orang' tidakkah berarti keduanya basah kuyup??"
Renungan : Jari menunjuk ke bulan, tetapi bulan tidak berada di ujung jari. Kata - kata menunjuk pada Kebenaran, tetapi Kebenaran tidak ada dalam kata - kata. Mencari penerangan dalam kata - kata adalah tersesat dalam tumpukan kata - dan tidak melihat kebenaran.
Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran
Minggu, 09 Oktober 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
Bakti Mengharukan Tuhan
Yii Suen adalah anak dari Ku Sou. Dia sangat berbakti sekali kepada orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang keras kepala dan tidak tahu sopan santun. Sedangkan ibu tirinya adalah seorang yang tidak mempunyai rasa kesetiaan dan sifat pegangn janji. Adiknya bernama Siang, juga seorang yang sifatnya kasar dan keras kepala, sama sekali tidak menghormati abangnya. Suen selalu bertani di gunung Li San.
Saat dia bertani ada gajah dengan memakai belalainya membantu Suen membajak sawah. Juga ada burung dengan cakar kakinya yang runcing membantu Suen mencabuti rumput - rumputan.
Sifat baktinya yang demikian tulus sampai membuat binatang pun terharu. Akhrinya raja Yao yang sedang memerintah saat itu mengetahui adanya Suen yang begitu berbakti, sang raja kemudian mengutus 9 orang lelaki untuk membantu Suen. Bahkan kedua anak gadisnya sendiri dinikahkan dengan Suen.
Ketika raja sudah tua, takhta kerajaan pun akhirnya diserahkan kepada Suen.
Syair : Segerombolan gajah membajak sawah banyak sekali burung terbang kesana kemari mencabuti rumput. Meneruskan kedudukan raja Yao meduduki Takhta, sifat bakti mengharukan Tuhan.
Sumber : Kisah 24 Bakti ke 1
Saat dia bertani ada gajah dengan memakai belalainya membantu Suen membajak sawah. Juga ada burung dengan cakar kakinya yang runcing membantu Suen mencabuti rumput - rumputan.
Sifat baktinya yang demikian tulus sampai membuat binatang pun terharu. Akhrinya raja Yao yang sedang memerintah saat itu mengetahui adanya Suen yang begitu berbakti, sang raja kemudian mengutus 9 orang lelaki untuk membantu Suen. Bahkan kedua anak gadisnya sendiri dinikahkan dengan Suen.
Ketika raja sudah tua, takhta kerajaan pun akhirnya diserahkan kepada Suen.
Syair : Segerombolan gajah membajak sawah banyak sekali burung terbang kesana kemari mencabuti rumput. Meneruskan kedudukan raja Yao meduduki Takhta, sifat bakti mengharukan Tuhan.
Sumber : Kisah 24 Bakti ke 1
Tukang Cukur Dan Tuhan
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar??. Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, gimbal, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat. Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
“Kamu tahu, sebenarnya TUKANG CUKUR itu TIDAK ADA.”
Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??. Bukankah Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok!” kata si konsumen menyetujui. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU Kembali kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Sumber :
situslakalaka.blogspot.com
Sumber :
situslakalaka.blogspot.com
Senin, 03 Oktober 2011
Gelombang Besar
Alkisah ada seorang pegulat bernama Gelombang Besar. Ia kuat luar biasa dan menguasai ilmu gulat. Diatas panggungnya sendiri ia begitu kuat sehingga gurunya sendiri dilempar keluar panggung. Tetapi di depan publik, ia begitu kikuk sehingga muridnya sendiri mampu mengalahkannya.
Gelisah akan hal ini kemudian Gelombang besar pergi ke gunung untuk mencari nasihat kepada guru Zen. Setelah menceritakan masalahnya, sang guru kemudian berkata " Namamu adalah Gelombang Besar. Bayangkan bahwa engkau adalah gulungan - gulungan itu yang mampu menyapu bersih semua yang ada didepannya. Engkau adalah Gelombang Besar, bukan pegulat yang takut. Lakukanlah hal ini dan engkau akan menjadi pegulat terbesar didaratan. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan mu."
Akhirnya Gelombang Besar tinggal di Vihara itu. Disana Gelombang Besar mulai duduk bersila dan bermeditasi. Dalam hatinya terus menerus berkonsentrasi memikirkan bahwa dirinya adalah ombak. Pada awalnya pikirannya lari kesana kemari. Namun tak lama kemudian.... Ia semakin merasa bahwa dirinya adalah ombak.
Ketika malam tiba, ombak semakin besar. Gelombang besarnya menenggelamkan tempat bunga dan patung Budha.... Lalu Vihara juga disapu bersih... Ombak berlari kesana kemari menyapu semua yang ada dihadapannya. Semakin lama semakin ganas.... Sebelum fajar tiba, tak ada Vihara lagi disana. Yang ada hanya laut yang besar.....
Semakin lama bermeditasi, semakin Gelombang Besar telah melupakan jati dirinya yang dulu dan merasa diri adalah ombak tersebut.. Lalu sang guru segera membangunkannya " Hey.. bangun... Engkau telah berhasil." Ujar sang guru. " Kelak tak ada lagi yang bisa mengusik mu. Engkau akan seperti ombak yang menenggelamkan semuanya." Setelah mengucapkan terimakasih, Gelombang besar kemudian pamit untuk turun gunung dan kembali ke kediamannya.
Sejak saat itu, pada setiap kali pertandingan, Gelombang Besar membayangkan dirinya sebagai ombak. Ia akhirnya menjadi pegulat terbesar di daratan dan tak ada yang bisa mengalahkannya.
Renungan : Sepanjang engkau mengadakan hubungan langsung dengan setiap situasi, engkau akan menjadi benda itu dan benda itu akan menjadi kamu.
Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran.
Gelisah akan hal ini kemudian Gelombang besar pergi ke gunung untuk mencari nasihat kepada guru Zen. Setelah menceritakan masalahnya, sang guru kemudian berkata " Namamu adalah Gelombang Besar. Bayangkan bahwa engkau adalah gulungan - gulungan itu yang mampu menyapu bersih semua yang ada didepannya. Engkau adalah Gelombang Besar, bukan pegulat yang takut. Lakukanlah hal ini dan engkau akan menjadi pegulat terbesar didaratan. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan mu."
Akhirnya Gelombang Besar tinggal di Vihara itu. Disana Gelombang Besar mulai duduk bersila dan bermeditasi. Dalam hatinya terus menerus berkonsentrasi memikirkan bahwa dirinya adalah ombak. Pada awalnya pikirannya lari kesana kemari. Namun tak lama kemudian.... Ia semakin merasa bahwa dirinya adalah ombak.
Ketika malam tiba, ombak semakin besar. Gelombang besarnya menenggelamkan tempat bunga dan patung Budha.... Lalu Vihara juga disapu bersih... Ombak berlari kesana kemari menyapu semua yang ada dihadapannya. Semakin lama semakin ganas.... Sebelum fajar tiba, tak ada Vihara lagi disana. Yang ada hanya laut yang besar.....
Semakin lama bermeditasi, semakin Gelombang Besar telah melupakan jati dirinya yang dulu dan merasa diri adalah ombak tersebut.. Lalu sang guru segera membangunkannya " Hey.. bangun... Engkau telah berhasil." Ujar sang guru. " Kelak tak ada lagi yang bisa mengusik mu. Engkau akan seperti ombak yang menenggelamkan semuanya." Setelah mengucapkan terimakasih, Gelombang besar kemudian pamit untuk turun gunung dan kembali ke kediamannya.
Sejak saat itu, pada setiap kali pertandingan, Gelombang Besar membayangkan dirinya sebagai ombak. Ia akhirnya menjadi pegulat terbesar di daratan dan tak ada yang bisa mengalahkannya.
Renungan : Sepanjang engkau mengadakan hubungan langsung dengan setiap situasi, engkau akan menjadi benda itu dan benda itu akan menjadi kamu.
Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran.
Dua Negro Dalam Lift
Baru-baru ini di Atlantic City – AS, seorang wanita memenangkan sekeranjang koin dari mesin judi. Kemudian ia bermaksud makan malam bersama suaminya. Namun, sebelum itu ia hendak menurunkan sekeranjang koin tersebut di kamarnya. Maka ia pun menuju lift.
Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, “Dua orang ini akan merampokku.” Tapi pikirnya lagi, “Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah.”
Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!
Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.
Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Hit the floor” (Tekan Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang saya dan biarkanlah saya hidup.
Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata dengan sopan, “Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda tuju, kami akan menekan tombolnya.” Pria tersebut agak sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut. Merekapun menolong wanita tersebut berdiri. “Tadi saya menyuruh teman saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap di lantai lift,” kata seorang yang bertubuh sedang.
Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu berpikir , “Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku.” Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.
Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali ke lift.
Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam.
Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.
Pada kartunya tertulis: “Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita lakukan selama ini.”
Tertanda:
> Eddie Murphy
> Michael Jordan
Sumber : http://sangatmenarik.wordpress.com
Waktu ia masuk lift sudah ada 2 orang hitam di dalamnya. Salah satunya sangat besar . . . Besaaaarrrr sekali. Wanita itu terpana. Ia berpikir, “Dua orang ini akan merampokku.” Tapi pikirnya lagi, “Jangan menuduh, mereka sepertinya baik dan ramah.”
Tapi rasa rasialnya lebih besar sehingga ketakutan mulai menjalarinya. Ia berdiri sambil memelototi kedua orang tersebut. Dia sangat ketakutan dan malu. Ia berharap keduanya tidak dapat membaca pikirannya, tapi Tuhan, mereka harus tahu yang saya pikirkan!
Untuk menghindari kontak mata, ia berbalik menghadap pintu lift yang mulai tertutup. Sedetik . . . dua detik . . . dan seterusnya. Ketakutannya bertambah! Lift tidak bergerak! Ia makin panik! Ya Tuhan, saya terperangkap dan mereka akan merampok saya. Jantungnya berdebar, keringat dingin mulai bercucuran.
Lalu, salah satu dari mereka berkata, “Hit the floor” (Tekan Lantainya). Saking paniknya, wanita itu tiarap di lantai lift dan membuat koin berhamburan dari keranjangnya. Dia berdoa, ambillah uang saya dan biarkanlah saya hidup.
Beberapa detik berlalu. Kemudian dia mendengar salah seorang berkata dengan sopan, “Bu, kalau Anda mau mengatakan lantai berapa yang Anda tuju, kami akan menekan tombolnya.” Pria tersebut agak sulit untuk mengucapkan kata-katanya karena menahan diri untuk tertawa.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tersebut. Merekapun menolong wanita tersebut berdiri. “Tadi saya menyuruh teman saya untuk menekan tombol lift dan bukannya menyuruh Anda untuk tiarap di lantai lift,” kata seorang yang bertubuh sedang.
Ia merapatkan bibirnya berusaha untuk tidak tertawa. Wanita itu berpikir , “Ya Tuhan, betapa malunya saya. Bagaimana saya harus meminta maaf kepada mereka karena saya menyangka mereka akan merampokku.” Mereka bertiga mengumpulkan kembali koin-koin itu ke dalam keranjangnya.
Ketika lift tiba di lantai yang dituju wanita itu, mereka berniat untuk mengantar wanita itu ke kamarnya karena mereka khawatir wanita itu tidak kuat berjalan di sepanjang koridor. Sesampainya di depan pintu kamar, kedua pria itu mengucapkan selamat malam, dan wanita itu mendengar kedua pria itu tertawa sepuas-puasnya sepanjang jalan kembali ke lift.
Wanita itu kemudian berdandan dan menemui suaminya untuk makan malam.
Esok paginya bunga mawar dikirim ke kamar wanita itu, dan di setiap kuntum bunga mawar tersebut terdapat lipatan uang sepuluh dolar.
Pada kartunya tertulis: “Terima kasih atas tawa terbaik yang pernah kita lakukan selama ini.”
Tertanda:
> Eddie Murphy
> Michael Jordan
Sumber : http://sangatmenarik.wordpress.com
Minggu, 02 Oktober 2011
Semakin Tergesa - gesa Semakin Lambat
Satu orang anak muda mendaki gunung ingin belajar ilmu pedang pada seorang guru pedang tersohor.
Sambil berlutut dia bertanya pada gurunya, " Guru, jika saya belajar dengan tekun, berapa lama baru saya bisa berhasil?" Setelah berpikir sejenak, gurunya kemudian berkata " Hm.. Mungkin sepuluh tahun lagi."
Sang pemuda merasa khawatir kemudian bertanya lagi " Ayahku sudah semakin tua dan saya harus merawatnya. Jika saya belajar lebih giat lagi, berapa lama saya baru bisa berhasil?" Mendengar penuturan sang murid, guru kembali berpikir. Kemudian beliau menjawab " Dalam hal ini, bisa jadi 30 tahun."
Merasa kesal akan jawaban sang guru, sang murid lalu bertanya lagi " Mulanya guru menyebut sepuluh tahun, lalu tiga puluh tahun. Saya bersedia menempuh jalan sesulit apapun. Saya mesti mempelajarinya dalam tempo yang sesingkat - singkatnya." Sang guru menjawab " Kalau begitu kamu perlu tujuh puluh tahun."
Renungan ; Mereka yang terburu - buru mengharapkan hasil, cenderung tidak mendapatkan apapun pada akhirnya. Ungkapan "Perhatian pada peristiwa sehari - hari adalah jalan keluarnya. " mempunyai arti seperti yang dimaksudkan cerita ini.
Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran
Sambil berlutut dia bertanya pada gurunya, " Guru, jika saya belajar dengan tekun, berapa lama baru saya bisa berhasil?" Setelah berpikir sejenak, gurunya kemudian berkata " Hm.. Mungkin sepuluh tahun lagi."
Sang pemuda merasa khawatir kemudian bertanya lagi " Ayahku sudah semakin tua dan saya harus merawatnya. Jika saya belajar lebih giat lagi, berapa lama saya baru bisa berhasil?" Mendengar penuturan sang murid, guru kembali berpikir. Kemudian beliau menjawab " Dalam hal ini, bisa jadi 30 tahun."
Merasa kesal akan jawaban sang guru, sang murid lalu bertanya lagi " Mulanya guru menyebut sepuluh tahun, lalu tiga puluh tahun. Saya bersedia menempuh jalan sesulit apapun. Saya mesti mempelajarinya dalam tempo yang sesingkat - singkatnya." Sang guru menjawab " Kalau begitu kamu perlu tujuh puluh tahun."
Renungan ; Mereka yang terburu - buru mengharapkan hasil, cenderung tidak mendapatkan apapun pada akhirnya. Ungkapan "Perhatian pada peristiwa sehari - hari adalah jalan keluarnya. " mempunyai arti seperti yang dimaksudkan cerita ini.
Sumber : Buku Zen Membebaskan Pikiran
Sabtu, 01 Oktober 2011
Chinnese Valentine
Masih ingat dengan cerita Dre di film Karate Kid lalu yang menampilkan cerita wayang kulit (Mandarin: piyingxi)? Ada adegan Dre dan Mei Ying berciuman dan menutup sorot lampu dari balik layar wayang. Berikut saya copas ceritanya, semoga mampu menghibur pembaca sekalian.
Masih ingat cerita di piyingxi film itu?
Itu adalah cerita tentang percintaan 2 anak muda yang datang dari dunia yang berbeda. Setiap tanggal 7 bulan 7 , masyarakat China dan Taiwan merayakan hari Valentine. Dulu, setiap tanggal ini, wanita di China berdoa supaya berwajah cantik dan diberi keahlian menenun. Saat Dinasti Song, gadis-gadis akan menyimpan seekor laba-laba di dalam kotak. Jika esok harinya laba-laba itu membentuk jaring, maka gadis yang bersangkutan akan mendapat rezeki yang bagus.
Hari Valentine orang China itu populer dengan nama Qi Xi. Cerita tentang Qi Xi ini adalah cerita lambang cinta abadi, seperti Romeo and Juliet-nya Eropa. Versi Indonesianya mirip cerita Jaka Tarub mencuri selendang Putri Khayangan.
Dikisahkan jaman dulu ada seorang anak laki-laki yatim piatu. Dia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya dan kakak iparnya. Karena dia seorang penggembala, orang-orang memanggilnya Penggembala Sapi (Niulang).
Satu hari, Niulang tidur di sawah dan bermimpi sapinya berkata kepadanya kalau dia saatnya mencari seorang istri. Besok dia harus pergi ke 1 danau di kaki gunung yang sepi untuk menemuinya.
Besoknya, Niulang pun menuju danau yang dimaksud sapi. Di sana dia melihat 7 gadis yang luar biasa cantik yang sedang bermain air di danau itu. Niulang pun mengintip dari tepi danau dan pepohonan. Baju-baju gadis itu berwarna-warni diletakkan di tepi danau dekat tempat Niulang mengintip. Dia teringat di mimpi itu, sapinya berpesan untuk mengambil 1 baju berwarna merah, dan itulah calon istri Niulang!
Ternyata gadis-gadis yang sedang mandi di danau itu adalah bidadari khayangan yang turun ke bumi untuk bermain-main. Tiba saatnya bidadari itu untuk pulang ke langit. Semuanya sudah siap memakai bajunya. Dan tinggal bidadari yang berbaju merah itu tidak menemukan bajunya karena dicuri oleh Niulang tadi.
Ternyata bidadari ini adalah cucu Raja Langit (Tian Di). Dia adalah seorang penenun (tukang tenun), namanya Zhinv. Semua awan di langit adalah hasil karyanya.
Karena bidadari itu kehilangan baju, dia tidak bisa kembali ke langit. Singkat kata, akhirnya bidadari itu menikah dengan Niulang di bumi dan melahirkan 2 anak.
Satu hari, Raja Langit menyadari bahwa cucunya 1 hilang, yaitu Zhinv tadi. Dia pun mendapat info bahwa Zhinv menikah dengan rakyat jelata di bumi. Bukan main berangnya dan dia pun turun ke bumi untuk mencari Zhinv. Tiba di bumi, Zhinv sedang menenun kain dan kaget bukan kepalang saat melihat Raja Langit mengetahui keberadaannya. Saat itu, Niulang sedang bertani di sawah. Zhinv pun diculik ke langit dengan paksa oleh Raja Langit.
Anak-anak Zhinv ketakutan dan menangis langsung berlari ke sawah memanggil ayahnya, "Papa, Mama diculik oleh seorang tua seperti penyihir." Niulang pun melihat ke langit dan melihat Zhinv diseret ke langit dan berteriak-teriak memanggil Niulang. Niulang sangat kaget dan kebingungan bagaimana caranya terbang ke langit. Sapinya pun melempar tanduknya dan berubah menjadi sebuah sampan kecil. Niulang pun langsung mengajak kedua anaknya naik ke sampan itu dan ajaib, sampan itu terbang ke langit mengejar Zhinv dan Raja Langit.
Karena dikejar, Raja Langit pun membelah langit dan membentuk sungai awan untuk memisahkan mereka. Tiba-tiba terlihat triyunan burung magpie terbang membentuk jembatan. Saat itu adalah tanggal 7 bulan 7 penanggalan China. Akhirnya Raja Langit pun mengijinkan Zhinv bertemu Niulang dan anaknya setiap tanggal 7 bulan 7 China setiap tahun di jembatan burung magpie itu. Inilah lambang cinta mereka antara 2 dunia yang berbeda.
Lihatlah ke langit sebelah timur laut pada 16 Agustus 2010. Ada bintang terang putih bernama Altair. Sebelah barat laut ada bintang bernama Vega. Kedua bintang ini bagai sebuah pasangan. Di tengah-tengah mereka terpisahlah apa yang dinamakan galaksi bimasakti kita sekarang.
Bintang yang di atas tadi, Altair adalah Niulang. Dan bintang Vega adalah Zhinv. Galaksi bimasakti tadi adalah gerombolan burung magpie yang melintas tadi.
Dikisahkan jaman dulu ada seorang anak laki-laki yatim piatu. Dia tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya dan kakak iparnya. Karena dia seorang penggembala, orang-orang memanggilnya Penggembala Sapi (Niulang).
Satu hari, Niulang tidur di sawah dan bermimpi sapinya berkata kepadanya kalau dia saatnya mencari seorang istri. Besok dia harus pergi ke 1 danau di kaki gunung yang sepi untuk menemuinya.
Besoknya, Niulang pun menuju danau yang dimaksud sapi. Di sana dia melihat 7 gadis yang luar biasa cantik yang sedang bermain air di danau itu. Niulang pun mengintip dari tepi danau dan pepohonan. Baju-baju gadis itu berwarna-warni diletakkan di tepi danau dekat tempat Niulang mengintip. Dia teringat di mimpi itu, sapinya berpesan untuk mengambil 1 baju berwarna merah, dan itulah calon istri Niulang!
Ternyata gadis-gadis yang sedang mandi di danau itu adalah bidadari khayangan yang turun ke bumi untuk bermain-main. Tiba saatnya bidadari itu untuk pulang ke langit. Semuanya sudah siap memakai bajunya. Dan tinggal bidadari yang berbaju merah itu tidak menemukan bajunya karena dicuri oleh Niulang tadi.
Ternyata bidadari ini adalah cucu Raja Langit (Tian Di). Dia adalah seorang penenun (tukang tenun), namanya Zhinv. Semua awan di langit adalah hasil karyanya.
Karena bidadari itu kehilangan baju, dia tidak bisa kembali ke langit. Singkat kata, akhirnya bidadari itu menikah dengan Niulang di bumi dan melahirkan 2 anak.
Satu hari, Raja Langit menyadari bahwa cucunya 1 hilang, yaitu Zhinv tadi. Dia pun mendapat info bahwa Zhinv menikah dengan rakyat jelata di bumi. Bukan main berangnya dan dia pun turun ke bumi untuk mencari Zhinv. Tiba di bumi, Zhinv sedang menenun kain dan kaget bukan kepalang saat melihat Raja Langit mengetahui keberadaannya. Saat itu, Niulang sedang bertani di sawah. Zhinv pun diculik ke langit dengan paksa oleh Raja Langit.
Anak-anak Zhinv ketakutan dan menangis langsung berlari ke sawah memanggil ayahnya, "Papa, Mama diculik oleh seorang tua seperti penyihir." Niulang pun melihat ke langit dan melihat Zhinv diseret ke langit dan berteriak-teriak memanggil Niulang. Niulang sangat kaget dan kebingungan bagaimana caranya terbang ke langit. Sapinya pun melempar tanduknya dan berubah menjadi sebuah sampan kecil. Niulang pun langsung mengajak kedua anaknya naik ke sampan itu dan ajaib, sampan itu terbang ke langit mengejar Zhinv dan Raja Langit.
Karena dikejar, Raja Langit pun membelah langit dan membentuk sungai awan untuk memisahkan mereka. Tiba-tiba terlihat triyunan burung magpie terbang membentuk jembatan. Saat itu adalah tanggal 7 bulan 7 penanggalan China. Akhirnya Raja Langit pun mengijinkan Zhinv bertemu Niulang dan anaknya setiap tanggal 7 bulan 7 China setiap tahun di jembatan burung magpie itu. Inilah lambang cinta mereka antara 2 dunia yang berbeda.
Lihatlah ke langit sebelah timur laut pada 16 Agustus 2010. Ada bintang terang putih bernama Altair. Sebelah barat laut ada bintang bernama Vega. Kedua bintang ini bagai sebuah pasangan. Di tengah-tengah mereka terpisahlah apa yang dinamakan galaksi bimasakti kita sekarang.
Bintang yang di atas tadi, Altair adalah Niulang. Dan bintang Vega adalah Zhinv. Galaksi bimasakti tadi adalah gerombolan burung magpie yang melintas tadi.
Pada malam hari ketujuh dari bulan ketujuh, Anda akan menemukan sangat sedikit berbeda, Jika kondisi langit cerah, angin berhembus dengan tenang, pasang telinga anda dengan cermat,mungkin Anda akan mendengar suara suara dari Niu Lang dan Dewi Penenun yang tengah mengungkapkan cinta dan kerinduan mereka untuk satu sama lain. [Mei-ing]
Jadi, orang China dan Taiwan punya 3 kali hari Valentine:
- 14 Februari (disebut Valentine emas internasional)
- 14 Maret (disebut Valentine perak)
- tgl 7 bulan 7 lunar month (Chinese Valentine)
Sumber : EverydayMandarin
Langganan:
Postingan (Atom)







