Rabu, 10 Agustus 2011

Dengan Kebajikan Menghapus Dendam

Alkisah Seorang pedagang memanggil ketiga putranya.

" Hari ini saya ingin menyuruh kalian pergi meninggalkan rumah selama 3 bulan. Masing - masing dari kalian ketika pulang ceritakan pada saya satu hal yang paling membahagiakan diri kalian. Dan saya akan nilai, cerita mana yang patut saya berikan salut."

Kemudian pergilah ketiga anaknya bertualang ke tempat terpisah. Selang tiga bulan, ketiga putra pedagang kembali lagi kerumah. Sang pedagang bertanya pada putra sulung, cerita apa yang paling membahagiakannya ketika 3 bulan keluar rumah

Putra Sulung bercerita " Ketika suatu hari seseorang meminta bantuan saya untuk memikul sekantong permata miliknya, lalu saya pun memikulnya. Kantong itu penuh berisi permata. Andaikan saya mengambil satupun, dia tidak akan tahu. Lalu selesai perjalanan dia menanyakan saya, berapa permata yang saya inginkan? Tapi saya menjawab tidak." Tutur putra sulung.

"Bagus anak ku. itu memang yang seharusnya seorang manusia lakukan. Bila kau mengambil permata itu tanpa sepengetahuan pemiliknya, entah akan jadi manusia seperti apa kamu."

Lanjut putra kedua bercerita " Ketika saya hendak menyeberang jalan, tiba - tiba saya melihat seorang anak kecil hendak ditabrak kendaraan yang melintas. Spontan saya dengan cepat menolongnya. Orang tua anak itu sungguh berterimakasih karna saya telah menolong anak mereka. Lalu mereka memberikan saya oleh - oleh yang begitu banyak. Lantas saya menolaknya."

" Bagus sekali anak ku. Karna sebagai manusia sudah sewajarnya lah kita menolong tanpa mengharap imbalan."Namun tetap pedagang belum mengucapkan salut pada putra keduanya.

Giliran putra bungsu bercerita " Suatu hari saya berjalan di pegunungan, tiba - tiba saya melihat seseorang sedang kesakitan dan hendak jatuh ke jurang. lalu saya coba menghampiri dan melihat siapakah gerangan orang itu, eh ternyata orang itu adalah bocah tengik yang selama ini saya benci. Sudah lama saya ingin mecelakainya. Namun tidak ada kesempatan. Hari itu bila saya ingin membunuhnya sangatlah mudah. Takkan ada orang yang tahu. Namun saya tidak membunuhnya. Saya kemudian memapahnya kembali kerumahnya. "

Kali ini pedagang lalu mengucapkan "salut" pada putra bungsunya kemudian berkata " Tidak mencuri dan tidak mengharapkan imbalan atas perbuatan kita, adalah hal yang sudah semestinya seorang manusia lakukan. Namun menolong orang yang begitu kita benci, tidaklah mudah untuk melakukannya. "

Satu niatan pikiran dapat merubah nasib anda. Dalam suatu ruangan ada secangkir air putih. Orang pertama memasuki ruangan dan kemudian menemukan bahwa air dalam cangkir tinggal setengah, kemudian berpikir, "siapakah yang dengan tidak sopan meminum jatah ku?" lalu masuk orang kedua juga menemukan cangkir yang airnya tinggal setengah, kemudian berpikir "syukurlah masih ada setengah untuk ku minum." Termaksud orang yang manakah anda?










Selasa, 09 Agustus 2011

Mendahulukan Orang Lain

Di Tiongkok kuno masa Dinasti Song Utara (960-1127 M), hidup seorang pemuda bernama Zhang Zhichang. Zhang memiliki hati yang baik, pemaaf dan murah hati. Segala sesuatu yang akan dikerjakannya selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu.

Zhang Zhichang menimba ilmu di Universitas Kekaisaran. Pada jaman kerajaan Tiongkok, sekolah ini diperuntukkan bagi pemerintahan pusat, dan merupakan institusi yang paling bergengsi dan memiliki reputasi tinggi dalam sistem pendidikan Tiongkok kuno. 

Ketika Zhang menimba ilmu disana, keluarganya mengirim seseorang untuk memberikan 10 liang (sekitar 17.6 ons) emas kepadanya. Namun ketika teman sekamar Zhang mengetahuinya, dia mencuri emas tersebut disaat Zhang tidak berada dalam kamarnya.

Pada suatu ketika diadakan penggeledahan asrama oleh petugas sekolah, dan menemukan emas yang dicuri teman sekamarnya. Ketika itu Zhang menyadari apabila dia mengatakan bahwa emas itu adalah miliknya, maka teman sekamarnya akan dihukum, lagi pula seluruh mata akan memandang hina dan akan membuat temannya menjadi sangat malu. Oleh karena itu dia segera berkata,”Itu bukan milikku.”

Teman sekamarnya sangat terharu akan kebaikan hati Zhang Zhichang. Saat malam tiba, teman sekamar Zhang diam-diam mengembalikan emas itu dan menyelipkannya diantara pakaian Zhang. Ketika Zhang mengetahui kehidupan temannya berasal dari keluarga yang sangat miskin, Zhang lantas memberikan separuh emas miliknya kepada temannya itu.   

Perbuatan Zhang yang memberikan separuh emasnya, bisa jadi adalah perbuatan yang orang lain mudah lakukan, namun keputusan Zhang untuk tidak mengklaim emas yang dicuri tersebut, adalah hal yang tidak semua orang dapat lakukan. Hal ini menunjukkan Zhang selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu sebelum bertindak. Sesuatu yang banyak orang gagal lakukan.

sumber : http://m.epochtimes.co.id

Arti Cinta Sejati

Pada Suatu hari Aristoteles bertanya pada gurunya : "Apakah Cinta Sejati itu?"
Guru menjawab : "berjalanlah lurus ditaman bunga yang luas, petiklah 1 bunga yang terindah menurutmu dan jangan pernah berbalik kebelakang!"
Kemudian Aristoteles melaksanakan kata gurunya dan kembali dengan tangan kosong.
Gurunya bertanya, "dimana bunganya?"
aristoteles menjawab, "saya tidak bisa mendapatkannya. sebenarnya saya telah menemukannya, tetapi saya berpikir, didepan pasti ada yang LEBIH bagus lagi. ketika saya telah sampai di ujung taman, saya baru sadar bahwa saya temui bunga yang pertama kali, itulah yang terbaik. tapi saya tidak bisa kembali kebelakang."
guru berkata, " seperti itulah cinta sejati, semakin kamu mencari yang terbaik. maka kamu tak'kan pernah menemukannya.

Jangan pernah sia-siakan cinta yang tumbuh dihatimu sekarang. karena waktu "tak akan" pernah kembali."

Kong Zi Belajar Pada Xiang Tuo

Pada zaman China kuno ada seorang anak ajaib yang sangat terkenal. Anak itu bernama Xiang Tuo. Ia sangat pintar, namun ia terkenal bukan hanya karena kepintarannya, tetapi karena Kong Zi, filsuf dari negeri China pernah belajar darinya saat usia Xiang Tuo belum genap tujuh tahun. Bahkan, Kong Zi pernah meminta Xiang Tuo menjadi gurunya.

Kong Zi pergi ke berbagai tempat dan berbagai negeri untuk mengajar. Suatu saat ketika dalam perjalanan, dari atas kereta ia menyaksikan ada tiga anak sedang bermain pasir dan membangun gunung pasir. Ia sangat tertarik menyaksikan ketiga anak itu bermain, terutama pada seorang anak yang begitu gembira dalam bermain. Anak itu sedang membuat semacam rumah yang dikelilingi benteng. Anak istimewa itu bernama Xiang Tuo.

Kereta yang ditumpangi Kong Zi harus berhenti karena Xiang Tuo bermain di jalan yang akan dilewati Kong Zi. Anak-anak itu terus bermain seolah-olah tidak ada kendaraan yang akan lewat,walau kereta Kong Zi sudah ada tepat di hadapan mereka. Karena tidak ingin mengganggu kegembiraan anak-anak, Kong Zi turun dan mendekati anak-anak itu.Setelah beberapa saat Kong Zi berkata dengan lembut kepada Xiang Tuo, "Kamu bermain begitu gembira sampai tidak bisa melihat ada kereta yang mau lewat, apakah kamu tidak sadar bangunan pasirmu menghalangi jalan?"

Xiang Tuo bangkit dan balik bertanya, "Dari dulu, setahu saya, sebuah kenderaan hanya bisa melewati jalan atau mengitari sebuah kota. Di manakah ada sebuah kota khusus membuat jalan buat sebuat kendaraan?" Kong Zi terkejut. Belum pernah seorang anak umur tujuh tahun bisa berdebat layaknya seorang ahli pikir.

Sementara anak itu terus bermain, Kong Zi berpikir. Ia lalu mendekati Xiang Tuo untuk menguji kepintarannya. "Baik, ucapanmu sungguh masuk akal dan benar. Sekarang saya ada beberapa pertanyaan, apakah kamu bisa mengingat semua pertanyaan ini dan menjawabnya dengan baik. Gunung apa yang tidak ada batunya? Kumpulan air apa yang tidak ada ikan di dalamnya? Pintu apa yang tidak bisa ditutup? Api apa yang tidak ada asapnya? Wanita macam apa yang tidak punya suami? Kapan siang hari terasa pendek? Kapan siang hari terasa panjang? Manusia apa yang tidak punya anak?" Tak terasa Kong Zi mengajukan empat puluh pertanyaan sekaligus.

Namun, Xiang Tuo mendengarkan semua pertanyaan Kong Zi. Tanpa banyak berpikir ia mulai menjawab, "Gunung pasir tidak mempunyai batu! Air minum tidak ada ikannya! Pintu yang tidak ada daun pintunya tidak bisa ditutup! Api amarah tidak ada asapnya! Siang hari terasa singkat pada musim dingin karena setelah pukul tujuh pagi baru mulai terang dan pukul empat sore sudah mulai gelap! Siang hari akan terasa lebih panjang saat musim panas, karena pukul lima pagi sudah terang dan diatas pukul delapan malam baru gelap!" Tak terasa empat puluh macam pertanyaan Kong Zi dijawabnya dengan baik dan lancar.

Semua jawaban Xiang Tuo terasa mudah bagi anak-anak sekarang, namun pada masa itu, khususnya untuk anak yang belum genap berumur tujuh tahun, itu merupakan jawaban yang luar biasa. Apa lagi, Xiang Tuo dapat mengingat semua pertanyaan itu dengan baik tanpa harus menuliskannya di buku tulis atau mencatatnya di komputer, serta dapat menjawabnya dengan urutan yang benar dan teliti. Untuk yang terakhir ini, sulit menjumpai anak sekarang bisa mengingat semua itu. Karena itu, Kong Zi mengangguk-anggukkan kepala dan berkata," Sungguh hebat dan ajaib!"

Xiang Tuo sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang filsuf yang sudah kesohor dan sangat disegani pada zaman itu. Xiang Tuo pun balik bertanya dengan pertanyaan yang susah dijawab dengan cepat oleh Kong Zi. Karena itu, Kong Zi berkata padanya,"Pengetahuanmu sangat luas dan dalam. Di kereta saya ada papan catur (catur China), mari ikut saya dan kita bertaruh apakah kamu bisa memenangkannya?"

Xiang Tuo sambil menggeleng-gelengkan kepala menjawab,"Aku tidak ingin bertaruh denganmu!"

Kong Zi mengernyitkan dahi dan bertanya, " Mengapa?"

Xiang Tuo menjawab, "Bertaruh adalah pekerjaan yang membosankan, karena itu tidak ada gunanya. Lagi pula bertaruh banyak ruginya daripada untungnya. Sering orang bertaruh kehilangan akal sehatnya dan tidak bisa membedakan mana yang perlu dan mana yang tidak perlu. Pendidik yang suka bertaruh akan membuatnya malas membaca buku, padahal itu penting untuk pekerjaannya. Petani yang suka bertaruh akan kurang konsentrasi untuk bercocok tanam dan hasil taninya akan jelek. Manajer yang suka bertaruh akan tidak tidak punya hati untuk menyelesaikan semua masalah kerjanya. Raja yang suka bertaruh akan mengabaikan rakyatnya!"

Kong Zi terkesima dan kagum saat mendengar semua perkataan yang menakjubkan dari Xiang Tuo. Karena itu, ia bertanya kepada Xiang Tuo, "Maukah kamu jadi guru saya?"

Sejak saat itu kepintaran dan hikmat Xiang Tuo yang tinggi terkenal ke berbagai tempat dan negeri, khususnya yang dikunjungi oleh Kong Zi. Sementara Kong Zi makin dihormati karena ia mau belajar dari seorang anak yang masih bau kencur





sumber : lu ce kuang

Senin, 08 Agustus 2011

Professor Dan Pendayung Sampan

Pada suatu hari seorang professor sedang duduk disebuah sampan untuk menyeberangi sungai, dalam perjalanan professor mulai mengobrol dengan pendayung sampan ini.

Professor bertanya kepada pendayung sampan, “Apakah engkau mengerti sejarah?”
Pendayung sampan menjawab, “Saya tidak mengerti”
Professor bertanya lagi, “Apakah engkau mengerti perekonomian?”
Pendayung sampan menjawab, “Saya tidak mengerti”
“Lalu apa yang engkau bisa? Berhitung saya rasa engkau tentu bisa.” Professor dengan penasaran bertanya lagi.
“Maaf! Saya tidak mengerti apapun.” Pendayung sampan ini menjawab dengan jujur.
Professor dengan sombong menjawab, “Aduh! orang yang tidak mengerti apapun hidupnya sangat menyedihkan!”
Pendayung sampan bertanya kepada professor, “Apakah engkau bisa berenang?”
Professor berpikir sejenak menjawab, “Apapun saya bisa, hanya berenang saya belum belajar.”
 
Pada saat ini tiba-tiba angin kencang bertiup, karena angin kencang ini ombak berubah menjadi besar, sampan kecil ini  terbalik, dan kedua orang ini jatuh ke dalam sungai. Sang professor yang tidak bisa berenang sangat ketakutan dan berteriak teriak gelagapan meminta tolong.
Dengan keahliannya berenang, pendayung sampan ini menyelamatkan professor naik keatas pantai. Ketika sampai di tepian ia berkata, “Apapun saya tidak bisa, tetapi jika hari ini bukan karena saya, engkau sudah tidak mungkin bisa hidup lagi.”

Urat Nadi Naga

Pada jaman Tiongkok kuno, hiduplah seorang master Feng Shui (hongshui) yang sangat piawai namun berhati jahat, dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencari “urat nadi naga" yang legendaris seperti yang disebutkan dalam buku-buku kuno.

Suatu hari ia melakukan sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang terpencil. Setelah menaiki satu bukit ke bukit yang lain, dibawah terik matahari dan sulit mendapatkan air, ia benar-benar kecapekan dan kehausan.

Akhirnya ia dari kejauhan melihat sebuah bangunan yang hampir roboh dikelilingi tembok, dengan bergegas ia berlari ke bangunan tersebut dan mengetuk pintunya.

Setelah menunggu agak lama, seorang wanita tua membuka pintu. Langsung ia memohon sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya karena tersengat matahari sepanjang hari, ”Nenek, bolehkah saya minta seteguk air untuk minum?” Wanita tua itu melihat wajah master Feng Shui yang penuh semangat, dan nadi leher yang tenggelam oleh panas matahari. “Tunggulah”, katanya, lalu ia membalikkan badannya, pergi perlahan meninggalkan Master Feng Shui itu tanpa mempersilahkan masuk.

Setengah hari telah berlalu, baru saja si Master Feng Shui itu telah hilang kesabarannya, wanita tua itu kembali dengan membawa semangkok air ditangannya. Segera saja Master Feng Shui itu meraih mangkok dari tangan nenek tua itu dan seketika hendak meneguk habis air dalam mangkok itu, namun ia menemukan beberapa sekam mengapung diatas air. Ia menjadi sangat marah, namun karena ia begitu haus, dengan enggan ia meniup sekam itu ke pinggir mangkok dan meminumnya dengan perlahan.

Ia berpikir: ”Orang tua ini sungguh sangat tidak ramah, dan juga pelit; ia bahkan tak memberiku semangkok air yang bersih. Biarlah, aku akan memberinya pelajaran...” Master Feng Shui memutuskan hatinya dengan bulat, dan berkata pada wanita tua itu:”Nenek, terima kasih airnya, tetapi saya tak punya apapun untuk menggantinya. Saya adalah seorang master Feng Shui, bagaimana kalau saya memilihkan tempat pemakaman yang paling sesuai untuk nenek, sehingga dapat beristirahat dengan tenang bila kelak waktunya telah tiba.”

Wanita itu mengikuti master Feng Shui ke sebuah bukit yang terdekat, dan master itu mengeluarkan penunjuk arah Feng Shui nya. Setelah lama melakukan pengukuran dan pengamatan, akhirnya ia menggambar sebuah tanda silang di tanah dan berkata pada wanita tua itu,”Inilah tempat yang paling menguntungkan, nenek dapat beristirahat disini bila waktumu tiba.” “Bagus”, kata nenek menerima saran Master Feng Shui itu, dan berkata,”Anda sebaiknya lekas-lekas pergi sebentar lagi akan ada badai.”

Sepuluh tahun kemudian, si master Feng Shui itu melewati lagi tempat yang dulu ditunjuknya. Ia teringat wanita tua yang dulu ditemuinya serta tempat pemakaman yang ditunjuknya untuk wanita tua itu. Sebenarnya tempat yang dipilihkan dia merupakan sebuah tempat terlarang dan membawa sial. Dengan kata lain, ketika wanita tua itu dimakamkan disana, keluarga yang ditinggalkannya akan tertimpa malapetaka. Master Feng Shui itu telah sampai dilokasi pemakaman, dengan cepat ia mengenali batu nisan yang berdiri ditempat yang dulu ia pilihkan untuk pemakaman nenek tua itu.

Si Master Feng Shui itu melihat sekeliling dan mendapati bangunan rusak yang dulu dia lihat sudah tidak ada lagi disana, kemudian dia menuruni bukit itu, tempat yang dulu terpencil itu kini telah berubah menjadi sebuah kota kecil yang sibuk. Ia menuruni bukit dan mengetuk pintu rumah yang paling mewah dikota itu. Seorang anak muda membukakan pintu dengan hangat dan mempersilakannya masuk.

Master Feng Shui itu menanyakan bangunan yang telah rusak dan perihal nenek tua yang dulu ditemuinya. Pemuda itu dengan antusias bertanya:”Andakah master Feng Shui itu? Nenek meninggal sesaat anda pergi, dan mengatakan perihal anda sebelum meninggal. Dia bersikeras meminta untuk dikuburkan ditempat yang anda pilihkan, dia bilang karena anda telah memilihkan dengan susah payah.”

Pemuda itu membawakan semangkok air sambil berkata, ”Minumlah air ini dengan pelan-pelan, jangan meminumnya dengan tergesa-gesa, anda baru saja menempuh perjalanan jauh dibawah terik matahari. Itulah yang selalu nenek katakan. Saya berharap anda tidak marah seperti 10 tahun yang lalu ketika ia memberi anda air untuk diminum.

Nenek selalu menaruh beberapa butir sekam kedalam air setiap kali pengembara datang dan meminta air, agar orang tersebut tidak meminumnya dengan tergesa-gesa sehingga tidak membahayakan keselamatannya. Begitu mendengar perkataan ini, si Master Feng Shui ini hampir saja pingsan. Sungguh sangat disayangkan, sudah sangat terlambat untuk memperbaikinya.

Akan tetapi, melihat kehidupan keluarga ini demikian makmur, si Master Feng Shui ini tak habis pikir. Ia berkata pada dirinya sendiri,”Apakah aku telah melakukan kesalahan saat itu? Sungguh tidak mungkin.”

Dengan ditemani si pemuda itu, Master Feng Shui kembali mengunjungi lokasi pemakaman nenek tua itu. Ia mengeluarkan kompas Feng Shui nya, dan dengan cermat diukurnya berulang-ulang. “Mustahil, mustahil”, gumam Master Feng Shui itu yang semakin penasaran. Mungkinkah ini “urat nadi naga” yang telah dia impikan selama bertahun-tahun? Pemuda itu lalu menceritakan peristiwa yang terjadi 10 tahun yang lalu. “Tak lama setelah anda pergi, tempat ini dihajar angin topan, hujan lebat terjadi selama 3 hari tanpa henti. Banjir bandang menghanyutkan semuanya termasuk bangunan yang rusak itu.”

“Ketika banjir telah surut, keluarga kami harus membangunnya mulai dari nol lagi. Seperti yang anda lihat, tempat asli dari bangunan tua itu sekarang telah berubah menjadi rumah yang paling menonjol. 10 tahun yang lalu, hanya ada beberapa rumah disini, sekarang tempat ini telah menjadi sebuah kota kecil yang indah, terimakasih untuk anda ….”

“Lama sebelum nenek saya meninggal, perlu dilakukan sesuatu untuk menemukan kembali lokasi yang telah anda pilihkan untuknya. Nenek bilang, keluarga kami akan menjadi sangat beruntung bila nenek dimakamkan dilokasi ini,” lanjut pemuda itu.

Sebenarnya perhitungan si Master Feng Shui ini sedikit pun tidak meleset, tempat dimana ia menggambar tanda silang benar-benar bukan tempat yang memberi keberuntungan. Akan tetapi, banjir telah merubah topografi disekitar tempat itu, dan merubahnya menjadi “urat nadi naga”.

Sebagaimana terdapat sebuah perkataan,”Yang mendiami tanah penuh berkah adalah dia yang telah diberkahi dan begitu pula sebaliknya. Apa yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya, maka dia akan mendapatkan apa yang patut dia dapatkan. (The Epoch Times/tnm)

Urat Nadi Naga – menurut teori Feng Shui, garis energi yang terletak disisi rantai pegunungan disebut sebagai urat nadi naga, dan lokasi yang paling menguntungkan berada di akhir barisan pegunungan itu.

SUMBER: http://www.gayindoforum.com/ 

Mogalana Menolong Ibunya

Salah satu murid Sang Buddha yaitu Mogalana yang memiliki kesaktian sehingga beliau mampu menuju ke alam neraka untuk menjenguk sang ibunda yang telah meninggal dunia.

Di sana beliau mendapati arwah ibunya sangat menderita, menjadi setan kelaparan, tidak mendapat makanan sampai2 berusaha menggigit jari2 tangannya sendiri. Melihat hal ini Mogalana sangat iba dan berusaha mengulurkan makanan untuk sang ibu, namun setiap kali makanan itu hampir sampai ke tangan ibunya, makanan tadi langsung berubah menjadi api.

Mogalana sangat sedih, kembali ke dunia dan bertanya kepada Sang Buddha bagaimana hal tsb dapat terjadi dan bagaimana cara menolong ibunya. Sang Buddha menjelaskan bahwa siksa neraka tsb diakibatkan perbuatan ibu Mogalana selama hidup di dunia, kikir, pelit terhadap fakir miskin, menghambur-hamburkan makanan, dan tidak mensyukuri berkah di dunia.
Satu2nya cara untuk membebaskan ibunya dari penderitaan neraka itu adalah melalui pelimpahan kebajikan. Kemudian Mogalana pulang ke rumah dan menjual seluruh harta peninggalan ibunya, mendermakan seluruhnya kepada fakir miskin dan mengikuti Sang Buddha. Setelah itu beliau kembali ke neraka dan mendapati sang ibu tidak lagi menjalani siksa neraka yang sangat mengerikan itu ( mendapatkan keringanan hukuman ).

Tradisi membagi2kan hasil bumi ( beras, mie, bihun, kue, buah2an, dll ) di kelenteng2 diwariskan turun temurun hingga sekarang untuk memberi kesempatan manusia di dunia agar bisa beramal kebajikan bagi para leluhurnya. Menurut kepercayaan, pada bulan 7 tgl 1 penanggalan Imlek, pintu neraka dibuka lebar2, para arwah diberi kesempatan turun ke dunia menjenguk anak cucunya.

Pada tgl 15 para arwah tsb harus kembali ke neraka, oleh sebab itu pada tgl 15 bulan 7 di keluarga2 yang masih menjunjung tradisi ini, mereka berkumpul dan mengadakan sembahyang bagi para leluhurnya lengkap dengan sajian berupa makanan2 kesukaan semasa hidupnya. Bagi para arwah yang anak cucunya tidak menyediakan sajian di rumah, mereka akan mencari makanan di kelenteng2 ( yang biasanya akan dibagikan kepada fakir miskin, para gelandangan dan pengemis ).

Salah satu fenomena alam yang  teramati berkaitan dengan tradisi ini, tiap bulan 7 penanggalan Imlek,angin cenderung bertiup lebih kencang dan banyak musibah terjadi. Konon hal ini disebabkan para arwah penagih hutang yang juga berkeliaran di dunia. Manusia dihimbau untuk senantiasa mawas diri dan beramal kebajikan sesuai kemampuan. Jadi kalau sekarang kita menemui orang2 yang berkecukupan ( bukan fakir miskin ) yang ikut2an berebut bahan makanan di kelenteng2, mungkin mereka belum memahami hakekat/ arti sembahyang rebutan secara utuh, justru seharusnya mereka ikut berderma agar leluhurnya bisa mendapatkan limpahan kebajikan.


Sumber : Budaya Tiong Hoa