Ketahui kebiasaan sehat masyarakat Jepang, Rusia, Yunani, Panama, dan Belanda.
Budaya dan kebiasaan masyarakat ternyata juga memengaruhi kondisi kesehatan tubuhnya. Seperti pada masyarakat Jepang, Rusia, Yunani, Panama, dan Belanda.
Dari tiap-tiap negara tersebut, terdapat kebiasaan sehat yang bisa Anda ikuti. Apa saja kebiasaan mereka? Ketahui rahasia sehat di lima negara, yang dilansir dari Oprah.com dan ditulis oleh dr. Mehmet Oz berikut.
1. Panama
Profesor asal Harvard, Norman Hollenberg, MD, PhD, melakukan penelitian bertahun-tahun untuk mempelajari suku Kuna di pulau San Blas, Panama. Mereka memiliki kebiasaan minum lima gelas coklat yang tidak diproses setiap hari.
Hasil penelitian Norman menunjukkan kalau risiko penyakit seperti kanker, diabetes, dan jantung pada suku Kuna, berkurang hingga 10 persen. Diperkirakan kandungan flavoid pada coklat menjadi zat pembunuh sel kanker karena memiliki sifat antioksidan.
Anda bisa mendapatkan keuntungan yang sama dengan mencampur dua sendok bubuk coklat alami pada secangkir air hangat. Tambahkan sedikit madu untuk mengurangi rasa pahitnya.
2. Jepang
Masyarakat Jepang dikenal dengan umurnya yang panjang. Fakta juga menunjukkan tingkat obesitas di negara ini adalah yang paling rendah.
Salah satu trik masyarakat Jepang untuk mengontrol kalori adalah dengan mempraktekkan prinsip hara hachi bu. Artinya adalah seseorang harus berhenti makan ketika mencapai 80 persen rasa kenyang. Pada titik ini sebenarnya perut akan merasa 100 persen kenyang, dan sebenarnya otak Anda bisa mengetahuinya.
Caranya adalah dengan mengunyah 20 kali sebelum Anda menelan makanan. Mengunyah secara perlahan akan membuat Anda makin mudah mengetahui saat kenyang 80 persen.
3. Rusia
Akar emas atau akar tumbuhan Arktik (rhodiola rosea) adalah tanamam yang tumbuh pada area dengan suhu dingin yang ekstrim di wilayah Kutub Utara. Oleh masyarakat Rusia, tanaman ini diolah menjadi ramuan tradisional karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Tanaman ini dikenal sangat adaptogen, yang berarti membantu tubuh beradaptasi terhadap stres. Studi ilmiah menunjukkan bahwa akar emas memang bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan menstabilkan suasana hati sekaligus mengurangi stres dan kelelahan.
4. Belanda
Masyarakat belanda menjadikan sepeda sebagai transportasi wajib mereka setiap hari. Bahkan negeri kincir angin ini disebut-sebut sebagai surganya para pesepeda. Penelitian juga menunjukkan seseorang yang suka bersepeda cenderung hidup lebih lama 14 bulan.
Jika memang kantor tidak terlalu jauh, jadikan saja sepeda sebagai alat transportasi Anda. Menjadikannya aktivitas olahraga pada akhir pekan juga sangat menyenangkan.
5. Yunani
Penelitian 2007 pada lebih dari 23 ribu masyarakat Yunani menunjukkan efek dahsyat kebiasaan mereka yang disebut siesta atau tidur siang. Dibandingkan dengan orang yang selalu aktif pada siang hari, orang dewasa yang tidur siang minimal 30 menit setidaknya tiga kali dalam satu minggu mengurangi risiko penyakit jantung hingga 31 persen.
Sumber : Detik Forum
Minggu, 24 Juli 2011
Chai Hu Chen
Pada masa dinasti Qing, di kota Renhe ada seorang yang bernama Chai Huchen, ayahnya adalah seorang pejabat yang jujur, meninggal di kota tempat dia ditugaskan.Chai Huchen adalah seorang anak yang berbakti, dia lalu meminta bantuan seorang pedagang dengan kapalnya mengantar jenazah ayahnya ke kampung halamannya dan dikuburkan disana.
Setiap tahun dia pasti berziarah ke makam ayahnya, dia selalu menangis dengan sedih karena kehilangan ayah suri tauladannya. Di kampung halamannya, ada seorang anak karena dipukul oleh ayahnya minggat dari rumahnya, kebetulan bertemu dengan Chai Huchen sambil menangis. Chai Huchen bertanya padanya apa yang terjadi. Setelah mendengar cerita anak itu, sambil menangis dia berkata kepada,”Engkau mempunyai ayah yang memukuli kamu, ini bukan hal yang buruk, ia mungkin sedang mendidik kamu agar tak lagi melakukan kesalahan; sedangkan saya menginginkan ayah saya memukuli saya, tetapi sekarang hal ini tidak mungkin terjadi lagi!”lalu dia menciptakan sebuah puisi yang berjudul “Anak yatim yang mengembara” untuk anak ini, setelah melihat puisi tersebut anak tersebut menangis dengan sedih, akhirnya setelah pulang ke rumahnya dia menjadi seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya.
Pada suatu malam ada seorang pencuri, datang kerumah Chai Huchen mencuri barang, setelah Chai Huchen melihat pencuri tersebut dia mengetahui bahwa pencuri ini adalah tetangganya, lalu dia pura-pura tidur. Ketika pencuri ini ingin mencuri baju dan selimutnya, dengan suara perlahan Chai Huchen berkata, “Dapatkah engkau meninggalkan dua barang ini, supaya musim dingin saya tidak mati kedinginan?”
Setelah mendengar ucapanya, pencuri ini merasa sangat terkejut. Chai Huchen lalu menasehati pencuri ini bertobat, mulai saat ini tidak mencuri lagi, lalu dari bawah bantalnya dia mengeluarkan uang 100 Yuan dihadiahkan kepada pencuri ini. Pencuri ini sangat terharu oleh kebaikan hatinya, sambil menangis meninggalkan rumahnya tanpa mengambil satu barangpun. Akhirnya pencuri ini bertobat, dan bekerja dengan rajin.
sumber : erabaru.net
sumber : erabaru.net
Sabtu, 23 Juli 2011
Ji Gong
Ji Gong dilahirkan dengan nama Li Xiuyuan yang merupakan anak dari Li Maochun. Li Maochun adalah seorang penasehat militer yang sangat dermawan. Hanya saja sejak menikah sampai mencapai usia setengah baya, Li Maochun belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat para kenalan Li Maochun meragukan kebaikan hatinya. Istri dari Li Maochun adalah seorang yang baik hati dan taat dengan ajaran agama, menyarankan agar Li Maochun untuk menikah lagi. Tapi Li Maochun menolaknya karena merasa istrinya masih muda dan bisa memberikan keturunan. Karena ingin dikaruniai anak, maka suami istri ini merencanakan berangkat ke suatu vihara agar dikaruniai seorang anak. Bahkan sebelum berangkat sang istri sempat cia cai (vegetarian). Pada saat berdoa di ruang Lohan di vihara tersebut, salah satu patung lohan yang ada seakan2 turun ke lantai. Saat melihat hal tersebut kepala vihara menyampaikan selamat kepada Li Maochun karena akan di karuniai anak.
Tak lama kemudian Li Maochun dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Li Xiuyuan. Tak lama Li Xiuyuan lahir, Li Maochun meninggal. Sejak saat itu Li Xiuyuan diasuh oleh ibunya yang tetap setia kepada Li Maochun. Saking setianya ibu Li Xiuyuan, mencatat segala sesuatu yang dikerjakannya setiap hari dan membakarnya agar suaminya (Li Maochun) tahu apa saja yang dia kerjakan. Li Xiuyuan tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan sangat pintar. Saat berusia 7 tahun, Li Xiuyuan sudah dapat menghapal kitab suci dan bahkan mengalahkan teman belajarnya yang lebih tua. Saat berusia sekitar 15 tahun, ibunya meninggal dunia. Saat itu Li Xiuyuan yang sangat sedih makin giat belajar agama Buddha. Paman dari Li Xiuyuan merasa khawatir karena Li Xiuyuan selalu membaca kitab suci agama Buddha. Setelah beberapa lama, saat itu sang paman merasa Li Xiuyuan sudah cukup umur untuk menikah, maka hal ini dibicarakan dengan Li Xiuyuan. Li Xiuyuan menolaknya, tapi sang paman tetap mendesak dan akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Saat akan menikah, Li Xiuyuan pergi dari rumah karena ingin mempelajari agama Buddha lebih mendalam dan menjadi Bhikkhu.
Setelah berjalan jauh, tibalah Li Xiuyuan di vihara Ling Yin. Setelah menceritakan kepada Bhikkhu Kepala maksudnya untuk menjadi seorang Bhikkhu, Li Xiuyuan jatuh pingsan karena kelaparan. Bhikkhu kepala yang mengetahui jati diri Li Xiuyuan adalah titisan Lohan Penakluk Naga bertubuh emas , maka sang Bhikkhu kepala mengetok dahi Li Xiuyuan sebanyak tiga kali. Li Xiuyuan tiba2 sadar dan mengetahui siapa dirinya.
Setelah menjadi Bhikkhu, Li Xiuyuan sering menganggu bhikkhu lain yang kurang melatih diri. Sering kali Li Xiuyuan mencuri jubah bhikkhu yang kurang taat dan mengadaikannya untuk membeli arak atau daging. wakil Bhikkhu kepala yang gila hormat juga jadi salah satu korbannya, dimana jubah dari Wakil Bhikkhu kepala ini digadaikan oleh Li Xiuyuan. Sang wakil sempat mengadukannya kepada Bhikkhu kepala, tapi Bhikkhu kepala mengabaikan laporan tersebut dan meminta buktinya. Oleh karena itu, Wakil Bhikkhu Kepala itu menyuruh 2 orang bhikkhu untuk mengawasi Li Xiuyuan untuk menangkap basah perbuatan Li Xiuyuan. Suatu siang, Li Xiuyuan memasuki perpustakaan untuk tidur, saat akan tidur, tiba2 Li Xiuyuan bangun dan melakukan sesuatu sehingga perutnya menjadi gendut.
Melihat hal ini, salah seorang dari bhikkhu pengawas memberitahu wakil kepala, yang kemudian mengajak Bhikkhu kepala untuk menangkap basah Li Xiuyuan. Saat itu sang Bhikkhu kepala merasa menyesal atas tindakan Li Xiuyuan karena beliau tidak bisa lagi melindunginya. Tibalah sang Bhikkhu kepala dan wakilnya serta para bhikkhu pengawas Li Xiuyuan di ruang perpustakaan. Sang Bikkhu kepala membangunkan Li Xiuyuan dan bertanya apakah Li Xiuyuan mencuri sesuatu. Li Xiuyuan menjawab dia tidak mencuri sesuatu. Sang wakil yang sudah merasa tidak suka, langsung menuduh dengan mengatakan apa yang ada di balik jubahnya. Kemudian Li Xiuyuan menjawab bukan apa2 dan membuka jubahnya, alhasil bukannya barang curian yang keluar melainkan debu dan sampah2. Pada saat itu Li Xiuyuan berkata, “saat ingin tidur, saya melihat ruangan ini sangat kotor, jadi saya membersihkannya”. Tapi karena tidak ada tempat sampah untuk sementara debu dan sampah2 tersebut dimasukkan kedalam jubahnya. Saat itu Bhikkhu kepala sangat senang dan malah menegur sang wakil untuk lebih bijaksana dan menyuruh Bhikkhu lain untuk membersihkan debu dan sampah tersebut. Setelah kejadian ini Li Xiuyuan lebih sering berada di luar vihara dan lebih dikenal sebagai Ji Gong.
Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu yang gemar makan daging dan minum arak. Selain itu, tindak tanduknya yang suka seenaknya sendiri menyebabkan Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu gila/Sinting.
Karena sering menolong orang, dan orang-orang yang ditolongnya semakin banyak, akhirnya Chi Kung mendapat julukan Chi Kung Hok Hud yang berarti Buddha Hidup Chi Kung.
27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung
Tak lama kemudian Li Maochun dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Li Xiuyuan. Tak lama Li Xiuyuan lahir, Li Maochun meninggal. Sejak saat itu Li Xiuyuan diasuh oleh ibunya yang tetap setia kepada Li Maochun. Saking setianya ibu Li Xiuyuan, mencatat segala sesuatu yang dikerjakannya setiap hari dan membakarnya agar suaminya (Li Maochun) tahu apa saja yang dia kerjakan. Li Xiuyuan tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan sangat pintar. Saat berusia 7 tahun, Li Xiuyuan sudah dapat menghapal kitab suci dan bahkan mengalahkan teman belajarnya yang lebih tua. Saat berusia sekitar 15 tahun, ibunya meninggal dunia. Saat itu Li Xiuyuan yang sangat sedih makin giat belajar agama Buddha. Paman dari Li Xiuyuan merasa khawatir karena Li Xiuyuan selalu membaca kitab suci agama Buddha. Setelah beberapa lama, saat itu sang paman merasa Li Xiuyuan sudah cukup umur untuk menikah, maka hal ini dibicarakan dengan Li Xiuyuan. Li Xiuyuan menolaknya, tapi sang paman tetap mendesak dan akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Saat akan menikah, Li Xiuyuan pergi dari rumah karena ingin mempelajari agama Buddha lebih mendalam dan menjadi Bhikkhu.
Setelah berjalan jauh, tibalah Li Xiuyuan di vihara Ling Yin. Setelah menceritakan kepada Bhikkhu Kepala maksudnya untuk menjadi seorang Bhikkhu, Li Xiuyuan jatuh pingsan karena kelaparan. Bhikkhu kepala yang mengetahui jati diri Li Xiuyuan adalah titisan Lohan Penakluk Naga bertubuh emas , maka sang Bhikkhu kepala mengetok dahi Li Xiuyuan sebanyak tiga kali. Li Xiuyuan tiba2 sadar dan mengetahui siapa dirinya.
Setelah menjadi Bhikkhu, Li Xiuyuan sering menganggu bhikkhu lain yang kurang melatih diri. Sering kali Li Xiuyuan mencuri jubah bhikkhu yang kurang taat dan mengadaikannya untuk membeli arak atau daging. wakil Bhikkhu kepala yang gila hormat juga jadi salah satu korbannya, dimana jubah dari Wakil Bhikkhu kepala ini digadaikan oleh Li Xiuyuan. Sang wakil sempat mengadukannya kepada Bhikkhu kepala, tapi Bhikkhu kepala mengabaikan laporan tersebut dan meminta buktinya. Oleh karena itu, Wakil Bhikkhu Kepala itu menyuruh 2 orang bhikkhu untuk mengawasi Li Xiuyuan untuk menangkap basah perbuatan Li Xiuyuan. Suatu siang, Li Xiuyuan memasuki perpustakaan untuk tidur, saat akan tidur, tiba2 Li Xiuyuan bangun dan melakukan sesuatu sehingga perutnya menjadi gendut.
Melihat hal ini, salah seorang dari bhikkhu pengawas memberitahu wakil kepala, yang kemudian mengajak Bhikkhu kepala untuk menangkap basah Li Xiuyuan. Saat itu sang Bhikkhu kepala merasa menyesal atas tindakan Li Xiuyuan karena beliau tidak bisa lagi melindunginya. Tibalah sang Bhikkhu kepala dan wakilnya serta para bhikkhu pengawas Li Xiuyuan di ruang perpustakaan. Sang Bikkhu kepala membangunkan Li Xiuyuan dan bertanya apakah Li Xiuyuan mencuri sesuatu. Li Xiuyuan menjawab dia tidak mencuri sesuatu. Sang wakil yang sudah merasa tidak suka, langsung menuduh dengan mengatakan apa yang ada di balik jubahnya. Kemudian Li Xiuyuan menjawab bukan apa2 dan membuka jubahnya, alhasil bukannya barang curian yang keluar melainkan debu dan sampah2. Pada saat itu Li Xiuyuan berkata, “saat ingin tidur, saya melihat ruangan ini sangat kotor, jadi saya membersihkannya”. Tapi karena tidak ada tempat sampah untuk sementara debu dan sampah2 tersebut dimasukkan kedalam jubahnya. Saat itu Bhikkhu kepala sangat senang dan malah menegur sang wakil untuk lebih bijaksana dan menyuruh Bhikkhu lain untuk membersihkan debu dan sampah tersebut. Setelah kejadian ini Li Xiuyuan lebih sering berada di luar vihara dan lebih dikenal sebagai Ji Gong.
Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu yang gemar makan daging dan minum arak. Selain itu, tindak tanduknya yang suka seenaknya sendiri menyebabkan Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu gila/Sinting.
Karena sering menolong orang, dan orang-orang yang ditolongnya semakin banyak, akhirnya Chi Kung mendapat julukan Chi Kung Hok Hud yang berarti Buddha Hidup Chi Kung.
27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung
- Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?
- Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?
- Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?
- Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?
- Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?
- Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?
- Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?
- Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?
- Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?
- Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?
- Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?
- Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?
- Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?
- Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?
- Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?
- Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?
- Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?
- Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?
- Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?
- Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?
- Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?
- Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?
- Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?
- Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?
- Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?
- Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?
- Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan?
Pengemis Dilarang Masuk
Alkisah disuatu kota dinegara Kapilavastu ketika budha masih hidup, terdapat seorang kaya tetapi selalu menjaga hartanya bagaikan menjaga nyawanya. Pada zaman itu para bhiksu mempertahankan hidupnya dengan meminta sedekah atau menunggu derma dari masyarakat. Orang kaya ini ketika melihat para bhiksu melewati rumahnya dia langsung akan menutup pintu rumahnya, tidak ingin menderma kepada mereka.
Jika ada pengemis yang meminta makan dia akan mengusirnya. Menjaga hartanya bagaikan budak harta. Orang kaya ini semakin hari semakin tua, pada suatu hari dia berkata kepada anaknya, ”saya bersusah payah menjaga harta keluarga ini, sekarang saya serahkan kepadamu, engkau harus ingat seperti saya menjaga baik harta ini, jangan mudah memberikan kepada orang lain.”
Pada saat ini, diluar kota ada seorang perempuan yang sedang hamil tua, keluarga perempuan ini sangat miskin, ketika dia dalam keadaan sakit perut ingin melahirkan, suaminya berkata kepadanya,”saya bersusah payah keluar mengemis, masih tidak cukup untuk hidup kita berdua, sekarang bertambah satu anggota lagi, bagaimana saya bisa menghidupi keluarga ini? Saya tidak ingin melihat bayi ini lahir, saya akan meninggalkan kalian.”
Akhirnya suaminya pergi meninggalkannya, hati perempuan ini sangat sedih, batinnya sangat menderita. Ketika suaminya meninggalkannya, dia melahirkan seorang bayi laki-laki.
Bayi ini matanya tertutup terus, setelah beberapa hari berlalu matanya masih belum terbuka, pada saat ini dia yakin anaknya adalah seorang yang buta.
Tetapi, walau betapa susah dan menderita dia akan bekerja keras menghidupkan anaknya ini.
Setiap hari ketika anak ini berumur tujuh tahun, dia sakit keras, ibunya sakit keras, maka dia sendiri yang pergi mengemis, malahan tidak ada orang yang simpati kepadanya. Setiap orang yang melihatnya akan membencinya, anak kecil mengambil batu melemparnya, orang dewasa mengambil batang bambu memukulnya.
Tidak tahu apa sebabnya, pengemis kecil buta ini sangat dibenci orang. Setelah pulang ke rumahnya dengan menangis dia mengadu kepada ibunya,”Saya tidak mendapat sedekah sepersen pun, orang dewasa memukul saya, anak kecil melempar saya dengan batu, saya tidak bisa mengemis makanan untuk mama makan.” Ibu dan anak ini saling berpelukan sambil menangis dengan sedih.
Beberapa hari sudah berlalu, anak ini tidak bisa mengemis makanan, sehingga mereka hanya bisa meminum air untuk menahan lapar, dengan terpaksa mempertahankan hidup. Setelah beberapa hari penyakit ibunya sudah agak sembuh, anak buta ini memapah ibunya, atas petunjuk sang ibu mereka pergi mengemis lagi.
Ketika mereka sampai di kota melewati sebuah rumah yang besar, didalam hati mereka berpikir, “pemilik rumah ini pasti orang kaya, orang kaya pasti akan memberi sedekah satu atau dua mangkok nasi kepada pengemis, pasti tidak masalah!” akhirnya ibu dan anak ini mengetuk pintu meminta sedekah.
Tetapi pemilik rumah ini sudah berpesan kepada penjaga pintunya, “Saya tidak ingin melihat pengemis di sekitar rumah saya, jika melihat pengemis mendekati rumah saya, segera usir mereka dari sini.”
Oleh sebab itu, ketika penjaga pintu melihat ibu dan anak pengemis ini mendekati rumah majikannya, dengan bengis mendorong mereka dan berkata,” Jangan mendekat, disekitar rumah ini tidak boleh ada pengemis.”
Ibu pengemis ini tetap memohon, “Saya dan anak saya sudah beberapa hari tidak makan, anak saya masih begitu kecil, mohon belas kasihan kalian memberi saya satu mangkok nasi.”
Anaknya juga ikut memohon, “Tolonglah kami! Mohon bantuan tuan! Walaupun hanya setengah mangkok bubur juga tidak masalah!. Mereka memohon dengan memelas tidak ingin meninggalkan tempat ini.
Pada saat ini pemilik rumah keluar dan memaki,’ Hai pengemis, kalian tidak boleh mendekati rumah saya, cepat pergi, segera tinggalkan tempat ini!”
Ibu dan anak ini masih tidak mau pergi, akhirnya pemilik rumah menyuruh orang memukul mereka, anak buta ini dipukul sampai kepalanya berdarah, ibunya juga didorong terjatuh ke lantai.
Pada saat ini ada seorang bhiksu yang melewati rumah ini melihat kejadian ini, bhiksu ini melarang mereka berkata, “Jangan memukul lagi! Jangan memukul lagi. Didunia ini mana ada orang yang demikian durhaka? Ayahnya bersusah payah mengumpulkan begitu banyak harta untuk dinikmati anaknya, anaknya masih menyuruh orang memukul ayahnya, sungguh durhaka.”
Orang kaya ini setelah mendengar apa yang dikatakan bhiksu ini sangat heran, dia lalu berkata, ”Kapan saya memukul ayah saya? Ayah saya telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.”
Bhiksu ini berkata lagi, “ini hukum karma, di masa kehidupan sebelumnya dia sangat pelit, menjaga harta bagaikan menjaga nyawanya. Tidak pernah berderma untuk fakir miskin, maka setelah dia meninggal reinkarnasi di sebuah keluarga yang sangat miskin. Dia mencari begitu banyak uang untuk engkau nikmati, sedangkan engkau semangkok nasipun tidak ingin menderma, apakah ini bukan anak durhaka.”
Orang kaya ini mana mau percaya, dia lalu berkata ”Hai, Engkau ini sebenarnya siapa? Kenapa bisa tahu begitu banyak hal?”
Bhiksu ini berubah menjadi Bodhisatva, ketika orang ini mengangkat kepalanya melihat Bodhisattva, dia segera berlutut memohon pengampunan dari Bodhisattva. Kehidupan yang lalu pengemis kecil ini adalah ayah orang kaya ini, karena pada masa hidupnya sangat kikir tidak pernah berbelas kasih dan menderma kepada fakir miskin, setelah reinkarnasi di sebuah keluarga yang sangat miskin, buta dan menjadi pengemis. Dia dibenci oleh orang yang melihatnya, dicaci dan dipukul orang, ini semua adalah hukuman atas karma yang dilakukannya di kehidupan yang lalu karena tidak pernah beramal dan berbuat baik.
Meng Pho Dan Reinkarnasi
Menurut legenda, bila seseorang meninggal, roh nya akan dikirim ke alam baka. Lalu di alam baka roh akan di tempatkan sesuai amal perbuatan semasa hidup. Bila masa hukuman sudah selesai, roh akan dikirimkan kembali ke dunia, tentunya akan dilahirkan sesuai dengan amal kehidupan lampaunya. Setiap orang yang dilahirkan kedunia tidak ingat lagi dengan cerita masa lalunya, mengapa? disinilah peran penting nenek Meng Pho.
Meng Pho lahir pada jaman Han barat. Dia menekuni ajaran Konfusius sejak kecil dan ingin mendalami kitab Buddha ketika beranjak dewasa.
sumber : erabaru.net
Meng Pho lahir pada jaman Han barat. Dia menekuni ajaran Konfusius sejak kecil dan ingin mendalami kitab Buddha ketika beranjak dewasa.
Selama hidupnya, Dia tidak pernah mengingat masa lalu ataupun memikirkan masa depannya. Meng Po hanya tekun memberitahu orang-orang untuk tidak membunuh dan menjadi vegetarian.
Dia tetap melajang hingga umur 81 tahun dan orang-orang memanggilnya dengan nama Meng Po. Kemudian, Dia pergi ke gunung untuk berkultivasi dan menjadi orang yang tercerahkan.
Pada periode Han Timur, banyak orang dapat mengetahui apa yang mereka alami di kehidupan sebelumnya. Jadi, banyak rahasia langit yang terbongkar. Oleh karena itu, Langit menunjuk Meng Po untuk bertugas menangani jiwa manusia yang akan reinkarnasi.
Ramuan Meng Po, juga disebut ramuan ajaib, terbuat dari bahan herbal dari dunia manusia. Minuman ini semacam anggur dan memiliki 5 jenis rasa, yaitu manis, pahit, pedas, asam dan asin. Jiwa yang akan reinkarnasi harus meminum ramuan ini.
Bagi yang menolak, sepasang pasungan akan muncul mengunci kaki mereka, dan kuningan tajam akan menusuk kerongkongan mereka, memaksa mereka meminum ramuan itu.
Menurut legenda, ramuan Meng Po mampu menghapus memori tentang kejadian yang telah lewat. Itu sebabnya, manusia terlahir ke dunia tanpa memori dari kehidupan yang lalu dan terjebak pada popularitas, kemewahan dan kepentingan pribadi di tengah hidup duniawi ini.sumber : erabaru.net
Jumat, 22 Juli 2011
Shennong Shi
Kaisar Yan, juga dikenal dengan nama Shennong Shi, adalah penguasa legendaris Tiongkok dan pahlawan kebudayaan dalam mitologi Tiongkok. Dia dipercaya hidup 5000 tahun yang lalu dan mengajarkan orang Tiongkok kuno untuk bercocok tanam. Arti dari namanya adalah "Petani Surga".
Kontribusi lain dari Kaisar Yan adalah mencoba berbagai jenis tanaman obat untuk obat-batan bagi rakyat. Dia mendaki banyak gunung tinggi untuk mendapatkan berbagai jenis tanaman. Dia menggiling satu demi satu sampai mengetahui kandungannya: apakah beracun atau tidak berbahaya; panas atau dingin dan sebagainya. Untuk mengetahui sifat-sifat dari masing-masing rempah Kaisar Yan mencicipi dan mencoba satu persatu. Suatu kali dia menemukan tujuh puluh racun berbeda dalam sehari. Untungnya, Shennong punya tubuh tembus pandang dan bisa melihat dampak dari tumbuhan yang berbeda bagi tubuhnya.
Dia juga melihat organ mana yang kena dampak dan mencari penangkalnya segera. Dia mengobati orang dengan tumbuhan yang sesuai dengan jenis dan kegunaannya. Dia menciptakan obat-obatan Tiongkok dan menyembuhkan banyak orang dengan menggunakan tumbuhan-tumbuhan herbal ini. Untuk mengenang Kaisar Yan, buku yang paling awal tentang obat-obatan Cina diberi nama " Akar Tumbuhan Herbal Klasik Petani Surga.
Diceritakan bahwa ibunya yang mengunjungi daerah Huayang dan melahirkannya setelah menerima jiwa dari naga langit. Yan terlahir dengan tubuh manusia dan kepala kerbau. Dia bisa berbicara setelah tiga hari,merangkak dalam usia lima bulan, tumbuh gigi umur tujuh bulan dan mengetahui tentang pertanian umur tiga tahun.
Dia bisa mengetahui jumlah populasi akan meningkat dan dia tahu mereka tidak akan bisa hidup dengan hanya mengadalkan tumbuhan liar dan hewan liar semata. Setelah memancing dan berburu, dia tahu orang harus mengembangkan pertanian. Dia menciptakan alat untuk bercocok tanam seperti sekop, cangkul, kapak dan pacul. Dia mengajarkan rakyat bagaimana mengolah tanah dan membiakkan biji-bijian, seperti: beras, padi-padian, wijen ,gandum dan kacang-kacangan. Dia mengembangkan pasar terbuka dan menyarankan rakyat untuk berdagang untuk meningkatkan kualitas hidup. Itulah awal dari usaha perdagangan. Dia juga menciptakan alat musik dengan lima senar untuk memainkan musik dan meningkatkan kehidupan budaya rakyat.
Dia juga melihat organ mana yang kena dampak dan mencari penangkalnya segera. Dia mengobati orang dengan tumbuhan yang sesuai dengan jenis dan kegunaannya. Dia menciptakan obat-obatan Tiongkok dan menyembuhkan banyak orang dengan menggunakan tumbuhan-tumbuhan herbal ini. Untuk mengenang Kaisar Yan, buku yang paling awal tentang obat-obatan Cina diberi nama " Akar Tumbuhan Herbal Klasik Petani Surga.
Mahakassapa
Suatu hari di bulan purnama, Putri Vajiri (putri Raja Pasenadi dari Kosala) meminta anak anak (dari kelas dharma) membawa bunga untuk dipersembahkan kepada Buddha. Anak-anak tiba dengan aneka bunga yang dipetika dari kebun mereka dan dari ladang ladang di sepanjang jalan menuju vihara. Putri Vajiri membawa serangkul bunga teratai yang dikumpulkannya dari kolam teratai istana. Ketika dia bersama anak anak pergi menemui bhagava di gubuk-Nya, mereka dengar Beliau ada di aula Dharma dan sedang bersiap siap memberikan ceramah untuk para bhikkhu dan siswa awam. Tanpa bersuara tuan putri menuntun anak anak menuju aula. Orang dewasa menyingkir untuk memberikan jalan bagi anak anak. Mereka menaruh bunga ke atas meja kecil dihadapan Buddha lalu membungkuk hormat. Bhagava tersenyum dan balas membungkuk hormat. Beliau mengundang anak anak untuk duduk tepat di hadapan-Nya.
Ceramah Dharma Bhagava hari ini adalah yang paling spesial. Beliau menunggu hingga anak anak duduk dengan hening lalu bangkit berdiri dengan perlahan. Buddha mengambil setangkai teratai dan mengacungkannya ke hadapan komunitas. Beliau tidak mengatakan apa apa. Setiap orang duduk tanpa suara. Buddha mengacungkan bunga itu tanpa mengatakan apa apa untuk jangka waktu yang lama. Hadirin tertegun dan bertanya tanya apa maksud Beliau melakukan hal itu. Lalu Bhagava memandang seluruh komunitas dan tersenyum.
Beliau berkata, " Aku memiliki mata Dharma sejati, harta karun insight yang menakjubkan dan baru saja kuwariskan kepada MahaKassapa."
Semua orang berpaling kepada Y.A. MahaKassapa dan melihat dia sedang tersenyum. Matanya tidak berpindah dari Buddha dan bunga teratai yang dipegang-Nya. Ketika hadirin berpaling kepada Bhagava, mereka melihat Bhagava juga sedang menatap teratai itu dan tersenyum.
Kendati merasa tertegun, Svasti (seorang bhikkhu muda yang menjadi sentral cerita dalam Buku Jalur Tua Awan Putih) tahu hal terpenting adalah mempertahankan perhatian penuh. Mulailah dia mengamati nafasnya sambil melihat Buddha. Teratai putih di tangan Bhagava baru saja mekar. Beliau memegang bunga itu dengan sikap paling lembut dan mulia. Ibu jari dan telunjuk Beliau memegang tangkai teratai yang mengikuti lekuk lengan-Nya. Tangan Bhagava seindah tangkai itu sendiri, murni dan menakjubkan. Tiba tiba, svasti benar benar melihat kemurnian dan keindahan mulia bunga itu. Tiada sesuatu untuk dipikirkan. Alami sekali, senyum pun muncul di wajahnya.
Buddha mulai bicara, "Sahabat sekalian, bunga ini adalah sebuah realitas yang sangat menakjubkan. Ketika kuacungkan bunga ini dihadapan kalian, kalian semua berpeluang untuk mengalaminya. Berkontak dengan bunga ini adalah berkontak dengan realitas yang sangat menakjubkan. Kontak dengan bunga ini adalah berkontak dengan kehidupan itu sendiri."
"MahaKassapa tersenyum lebih dahulu dari yang lain karena ia mampu berkontak dengan bunga ini. Selama rintangan masih ada di pikiran kalian, kalian tak akan dapat berkontak dengan bunga ini. Beberapa di antara kalian ada yang bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa Gotama mengacungkan bunga itu ke atas ? Apa gerangan makna gerakannya ?" Jika pikiran kalian dipenuhi pemikiran semacam itu, kalian tak akan benar benar dapat mengalami bunga ini."
"Sahabat sekalian, hilang di belantara pemikiran merupakan salah satu hal yang mencegah kita untuk benar benar kontak dengan kehidupan. Jika kalian dipimpin oleh kecemasan, frustasi, kegelisahan, kemarahan, ataupun kecemburuan, kalian akan kehilangan kesempatan untuk benar benar kontak dengan semua mujizat kehidupan."
"Sahabat sekalian, teratai di tanganku ini hanya nyata bagi mereka yang berdiam dalam kekinian secara penuh kesadaran. Jika kalian tidak kembali ke saat ini juga, maka [bagi kalian] bunga ini tidak benar benar eksis. Ada orang orang yang bisa melintasi hutan cendana tanpa benar benar melihat sebatang pohon pun. Kehidupan memang dipenuhi penderitaan, tetapi kehidupan juga mengandung banyak keajaiban. Eling dan waspadalah agar mampu melihat keduanya, penderitaan maupun hal hal yang sangat menakjubkan dalam kehidupan."
"Bersentuhan dengan penderitaan tidaklah berarti harus lenyap tenggelam di dalamnya. Bersentuhan dengan keajaiban hidup juga tidak mengartikan kita harus kehilangan diri kita di dalamnya. Bersentuhan adalah benar benar menjumpai kehidupan, melihatnya secara mendalam. Jika kita menjumpai kehidupan secara langsung, kita akan memahami sifat dasar saling ketergantungan dan ketidakkekalannya. Berkat itu, kita tidak akan lagi lenyap tenggelam dalam nafsu, kemarahan, maupun kemelekatan. Kita akan berdiam dalam kebebasan dan pembebasan."
Svasti merasa bahagia, Ia senang dirinya tersenyum dan paham sebelum Buddha bicara. Y.A. Maha Kassapa lebih dahulu tersenyum. Dia adalah salah seorang guru svasti dan siswa senior yang telah menempuh jarak yang sangat jauh di jalur pencerahan. Svasti tahu ia tidak bisa membandingkan dirinya dengan MahaKassapa dan para sesepuh lainnya seperti Sariputra, Moggalana dan Assaji. Lagipula, ia sendiri baru berusia dua puluh empat tahun pada saat itu.
Di kutip dari buku Jalur Tua Awan Putih (Jilid 2) karya Y.A.Thicht Nhat Hanh. Bab 51, hal 221.
Ceramah Dharma Bhagava hari ini adalah yang paling spesial. Beliau menunggu hingga anak anak duduk dengan hening lalu bangkit berdiri dengan perlahan. Buddha mengambil setangkai teratai dan mengacungkannya ke hadapan komunitas. Beliau tidak mengatakan apa apa. Setiap orang duduk tanpa suara. Buddha mengacungkan bunga itu tanpa mengatakan apa apa untuk jangka waktu yang lama. Hadirin tertegun dan bertanya tanya apa maksud Beliau melakukan hal itu. Lalu Bhagava memandang seluruh komunitas dan tersenyum.
Beliau berkata, " Aku memiliki mata Dharma sejati, harta karun insight yang menakjubkan dan baru saja kuwariskan kepada MahaKassapa."
Semua orang berpaling kepada Y.A. MahaKassapa dan melihat dia sedang tersenyum. Matanya tidak berpindah dari Buddha dan bunga teratai yang dipegang-Nya. Ketika hadirin berpaling kepada Bhagava, mereka melihat Bhagava juga sedang menatap teratai itu dan tersenyum.
Kendati merasa tertegun, Svasti (seorang bhikkhu muda yang menjadi sentral cerita dalam Buku Jalur Tua Awan Putih) tahu hal terpenting adalah mempertahankan perhatian penuh. Mulailah dia mengamati nafasnya sambil melihat Buddha. Teratai putih di tangan Bhagava baru saja mekar. Beliau memegang bunga itu dengan sikap paling lembut dan mulia. Ibu jari dan telunjuk Beliau memegang tangkai teratai yang mengikuti lekuk lengan-Nya. Tangan Bhagava seindah tangkai itu sendiri, murni dan menakjubkan. Tiba tiba, svasti benar benar melihat kemurnian dan keindahan mulia bunga itu. Tiada sesuatu untuk dipikirkan. Alami sekali, senyum pun muncul di wajahnya.
Buddha mulai bicara, "Sahabat sekalian, bunga ini adalah sebuah realitas yang sangat menakjubkan. Ketika kuacungkan bunga ini dihadapan kalian, kalian semua berpeluang untuk mengalaminya. Berkontak dengan bunga ini adalah berkontak dengan realitas yang sangat menakjubkan. Kontak dengan bunga ini adalah berkontak dengan kehidupan itu sendiri."
"MahaKassapa tersenyum lebih dahulu dari yang lain karena ia mampu berkontak dengan bunga ini. Selama rintangan masih ada di pikiran kalian, kalian tak akan dapat berkontak dengan bunga ini. Beberapa di antara kalian ada yang bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa Gotama mengacungkan bunga itu ke atas ? Apa gerangan makna gerakannya ?" Jika pikiran kalian dipenuhi pemikiran semacam itu, kalian tak akan benar benar dapat mengalami bunga ini.""Sahabat sekalian, hilang di belantara pemikiran merupakan salah satu hal yang mencegah kita untuk benar benar kontak dengan kehidupan. Jika kalian dipimpin oleh kecemasan, frustasi, kegelisahan, kemarahan, ataupun kecemburuan, kalian akan kehilangan kesempatan untuk benar benar kontak dengan semua mujizat kehidupan."
"Sahabat sekalian, teratai di tanganku ini hanya nyata bagi mereka yang berdiam dalam kekinian secara penuh kesadaran. Jika kalian tidak kembali ke saat ini juga, maka [bagi kalian] bunga ini tidak benar benar eksis. Ada orang orang yang bisa melintasi hutan cendana tanpa benar benar melihat sebatang pohon pun. Kehidupan memang dipenuhi penderitaan, tetapi kehidupan juga mengandung banyak keajaiban. Eling dan waspadalah agar mampu melihat keduanya, penderitaan maupun hal hal yang sangat menakjubkan dalam kehidupan."
"Bersentuhan dengan penderitaan tidaklah berarti harus lenyap tenggelam di dalamnya. Bersentuhan dengan keajaiban hidup juga tidak mengartikan kita harus kehilangan diri kita di dalamnya. Bersentuhan adalah benar benar menjumpai kehidupan, melihatnya secara mendalam. Jika kita menjumpai kehidupan secara langsung, kita akan memahami sifat dasar saling ketergantungan dan ketidakkekalannya. Berkat itu, kita tidak akan lagi lenyap tenggelam dalam nafsu, kemarahan, maupun kemelekatan. Kita akan berdiam dalam kebebasan dan pembebasan."
Svasti merasa bahagia, Ia senang dirinya tersenyum dan paham sebelum Buddha bicara. Y.A. Maha Kassapa lebih dahulu tersenyum. Dia adalah salah seorang guru svasti dan siswa senior yang telah menempuh jarak yang sangat jauh di jalur pencerahan. Svasti tahu ia tidak bisa membandingkan dirinya dengan MahaKassapa dan para sesepuh lainnya seperti Sariputra, Moggalana dan Assaji. Lagipula, ia sendiri baru berusia dua puluh empat tahun pada saat itu.
Di kutip dari buku Jalur Tua Awan Putih (Jilid 2) karya Y.A.Thicht Nhat Hanh. Bab 51, hal 221.
Langganan:
Postingan (Atom)








